Ekologi Tumbuhan

BAB I

PENDAHULUAN

 

I.1. Latar Belakang

Sejarah mencatat Indonesia dijajah oleh Kompeni Belanda selama 3,5 abad sejak jaman VOC hingga Hindia Belanda.  Tentunya dari rentan tahun jajahan yang cukup lama itu banyak sekali jejak-jejak peninggalan bersejarah dari jaman Kompeni dihampir seluruh tempat di Indonesia tidak terkecuali di Palembang, Sumatera Selatan.  Salah satu jejak peninggalan Kompeni Belanda di Kota Palembang adalah Taman Wisata Kambang Iwak.  Tidak tahu persis apa nama taman ini dijaman Belanda tapi yang jelas taman ini dibuat saat jaman Belanda diperuntuhkan untuk warga Belanda yang bermukim disekitaran taman tersebut sebagai saranan rekreasi keluarga.  Hal tersebut dibuktikan dengan adanya permukiman warga Belanda disekitaran Taman Wisata Kambang Iwak yang sekarang nama daerah tersebut adalah kawasan Talang Semut.  Salah satu bukti lagi bahwa kawasan Talang Semut dahulu adalah permukiman elite warga Belanda adalah bangunan mewah yang sekarang menjadi rumah dinas Walikota Palembang yang hingga sekarang masih kokoh berdiri.

Kembali ke Taman Wisata Kambang Iwak dari informasi yang terhimpun dari salah satu media mengatakan bahwa dahulu taman ini dibuat seiring dengan adanya rencana dari Residen (Walikota) Palembang saat itu yang ingin menjadikan Palembang sebagai kota taman layaknya Bandung di Jawa yang sudah lebih dahulu tenar menjadi kota taman yang asri di Hindia Belanda.  Oleh sebab itulah sekitar tahun 1900an kawasan Talang Semut dibuat seasri mungkin dengan ditanami pohon-pohon besar yang rindang kemudian dibuat pula sebuah taman sebagai tempat berkumpul dan rekreasi warga Belanda yang bermukim di Palembang, taman yang dibuat tahun 1900an itulah yang kelak menjadi Taman Wisata Kambang Iwak yang kita kenal saat ini.  Sampai saat ini pohon-pohon rindang yang ditanami Kompeni Belanda saat itu masih kokoh berdiri memberikan suasana yang begitu asri dikawasan ini ditemani dengan rumah-rumah berarsitektur kolonial disekitarannya menjadikan kawasan Talang Semut dan Taman Wisata Kambang Iwak yang ada ditengahnya sebagai salah suatu tempat favorit warga Palembang yang ingin melepas penat.

 

I.2 Tujuan

            Praktikum ekologi tumbuhan yang kami lakukan di kambang iwak (KI) Palembang, bertujuan untuk mengetahui jumlah spesies serta vegetasi tumbuhan yang ada di lingkungan kambang iwak.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1. Sejarah Kambang Iwak

Sejarah mencatat selepas Belanda angkat kaki dari Bumi Pertiwi pada tahun 1945 kawasan Talang Semut dan Taman Wisata Kambang iwak sedikit terlupakan oleh kita.  Daerah ini luput dari perhatian pemerintah padahal apabila dikelolah dengan baik kawasan bersejarah ini dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Palembang terutama bagi mereka yang haus pengetahuan sejarah khususnya sejarah Kota Palembang.  Daerah tersebut khususnya Taman Wisata Kambang Iwak pernah mengalami keterpurukan yang sangat parah, saat itu sekitar tahun 1980-1990an kawasan taman ini menjadi basecamp para Waria dan Pelacur dikota Palembang, taman tersebut menjadi tempat prostitusi masal dan tempat muda-mudi memadu kasih ilegal (maksiat) sehingga bila malam datang banyak warga yang enggan untuk datang ke tempat ini, selain itu menurut cerita orang tua saat itu pula sering ditemukan karung berisikan mayat orang korban dari Petrus (Penembak Misterius) yang marak terjadi di era orde baru dahulu.  Namun akhirnya di awal millennium (awal 2000an) semuanya berubah Kota Palembang berbenah terutama untuk menyambut PON tahun 2004 (PON pertama di luar Pulau Jawa) semua sudut Kota Palembang disulap menjadi kawasan elite, Jembatan Ampera bersolek dengan kemasan warnah cat yang baru, Kawasan Benteng Kuto Besak dirombak abis-abisan menjadi Plaza BKB yang bersih, pembangunan di Kota Palembang menjadi marak, semuanya berubah tidak terkecuali Taman Wisata Kambang Iwak.  Awal 2000an adalah momentum perubahan di Kota Palembang, pemerintah gencar mempromosikan Kota Palembang sebagai kota wisata yang wajib dikunjungi, oleh karena itu semua potensi wisata di kota tertua di Indonesia ini direnovasi habis-habisan, sehabis PON 2004 ada program VISIT MUSI 2008 kemudian hadir pula SEA GAMES 2011.  Semua kawasan di Kota Palembang tidak luput dari pembangunan salah satu daerah yang tidak boleh dilupakan adalah kawasan Talang Semut berserta Taman Wisata Kambang Iwak di tengahnya, kawasan tersebut dirombak habis-habisan, Taman Wisata Kambang Iwak yang dahulu angker dan jorok dirubah menjadi tempat yang mewah dan modern hingga sekarang menjadi tempat berkumpul wajib bagi warga Kota Palembang, rasanya belum gaul kalau tidak kumpul-kumpul di taman tersebut.

Gambar 1.  Track Jogging, salah satu fasilitas yang disediahkan di taman Kambang Iwak

Mengapa Taman Wisata Kambang Iwak begitu diminati saat ini? Jawabannya karena taman tersebut sekarang telah bertranspormasi menjadi daerah modern selain itu taman tersebut juga memang terkenal begitu asri karena dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang sangat rindang sehingga memberikan kesejukan di Kota Palembang yang terkenal panas dan juga di tengah-tengah taman terdapat danau yang bersih dilengkapi air mancur yang hidup setiap jam sepanjang hari yang dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan kepada setiap penikmatnya.  Tidak hanya itu saja Taman Wisata Kambang Iwak juga banyak dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang bisa membuat wisatawan betah berlama-lama bercengkrama di sana.  Adapun sarana dan prasarana yang ada di taman tersebut adalah trak jogging bagi anda yang ingin berolahraga, kemudian tempat duduk yang banyak terdapat dipinggiran danau taman tersebut, lalu di area taman itu juga banyak terdapat warung atau kedai makan yang menyajikan menu berharga kaki lima hingga bintang lima tersedia lengkap di areal taman ini, untuk anda yang hobi online areal taman ini juga ditunjang dengan hotspot gratisan, dan yang tidak kalah penting pula untuk masuk ke taman ini anda tidak perlu takut dipungut biaya masuk karena taman ini gratis untuk umum.  Bila malam datang taman ini pun masih ramai dikunjungi oleh wisatawan karena saat malam taman ini begitu gemerlap dengan lampu-lampu hias yang mengelilingi hampir disetiap sudut taman.

Dan yang tidak kalah penting untuk disampaikan dengan segala kelebihannya sekarang kawasan Talang Semut dan Taman Wisata Kambang Iwak sempat dijadikan tempat penilaian yang menghantarkan Kota Palembang mendapatkan penghargaan “Asean Environment Sustainable City 2008, sebagai Kota Terbersih se-Asean”.  Juga Taman Wisata Kambang Iwak sempat mendapatkan penghargaan sebagai “Taman Kota Terbaik se-Indonesia, atas nama Kambang Iwak (KI Family Park)”.


Gambar 2. Gemerlap Lampu Hias Di Kalah Malam
Inilah gambaran singkat tentang salah satu sudut Kota Palembang sekarang, Palembang kota kuno yang merupakan kota tertua di Indonesia sudah sewajarnya kota ini menghargai semua peninggalan bersejarah yang ada di dalamnya, potensi sejarah yang besar merupakan salah satu modal bagi Kota Palembang untuk menjadi tempat wisata andalan di Indonesia.

2.2. Lingkungan

2.2.1 Kualitas Air

Air merupakan media paling vital (penting) dalam kehidupan ikan. Selain jumlahnya, kualitas air juga membutuhkan perhatian yang paling serius agar dapat memenuhi syarat untuk mencapai kondisi air yang optimal sebagai salah satu kunci keberhasilan budidaya.

Kolam merupakan suatu genangan air kecil yang digunakan untuk pemeliharaan dan pertumbuhan ikan dengan meniru keadaan lingkungan air yang asli seperti perairan bebas (Soeseno, 1974). Perlu dijaga kualitasnya agar dapat menentukan layak tidak suatu perairan sebagai ekosistem ikan dan organisme lain sebagai pakannya (Welch, 1952). Menurut Sachlan (1982), faktor fisika dan kimia yang mendukung kehidupan plankton adalah suhu, oksigen terlarut, karbondioksida bebas, pH, dan DMA.

 

2.2.2. Sifat fisik air

2.2.2.1.   Suhu

Pada umumnya, suhu dinyatakan dengan satuan derajat Celcius (oC) atau derajat  Fahrenheit (oF). Pengukuran suhu pada kolam air dalam kedalaman tertentu dapat dilakukan dengan menggunakan reversing thermometer, thermophone, atau thermister (APHA,1976). Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia dan bilogi badan air. Suhu juga sangat berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan (Effendi, 2003). Menurut Susanto (2002), suhu air kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan berkisar 25–30oC. Daya toleransi organisme terhadap suhu kritis dapat berbeda untuk setiap jenisnya, sehingga perubahan suhu dapat menyebabkan peruhahan komposisi komunitas (Welch, 1952).

Perubahan suhu menurut Pescod (1973)tidak boleh lebih dari 1,70C, sedangkan suhu optimum menurut Wardoyo (1981), berkisar antara 24-260C. Fitoplankton dapat tumbuh subur pada temperatur 25-30°C terutama jika tersedia karbondioksida bebas dari nitrogen yang mencukupi(Pescod, 1973).

 

2.2.2.2. pH

pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai kologaritma aktivitasion hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis.Skala pH bukanlah skala absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan berdasarkan persetujuan internasional.

Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0. Larutan dengan pH kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali. Pengukuran pH sangatlah penting dalam bidang yang terkait dengan kehidupan atau industri pengolahan kimia seperti kimia, biologi, kedokteran, pertanian, ilmu pangan, rekayasa (keteknikan), dan oseanografi. Tentu saja bidang-bidang sains dan teknologi lainnya juga memakai meskipun dalam frekuensi yang lebih rendah.

pH netral tanah pada Kambang Iwak adalah 7, sebelah timur 6,4 , sebelah barat 6,0 sebelah utara 4,8, sebelah selatan 4,2, sedangkan pH air di kolam Kambang Iwak netralnya 4,47, sebelah timur 7,26, sebelah barat 7,30, sebelah utara 7,30 dan sebelah selatan 7,18.

 

2.2.2.3. Kecerahan

Kecerahan ialah penyerapan yang dihasilkan dari kekilauan sasaran penglihatan.Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan. Kecerahan merupakan transparansi perairan, yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk. Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan  meter. Nilai ini sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, dan padatan tersuspensi serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran (Effendi,2003).

Radiasi matahari adalah komponen dasar yang penting dalam keseluruhan dinamika ekosistem air tawar. Hampir seluruh energi yang mengatur metabolisme dari perairan lentik secara langsung berasal dari energi matahari. Bahan organik terlarut pada penyerapan energi cahaya sangat terlihat. Air di perairan lentik dengan adanya peningkatan konsentrasi dan organik terlarut, tidak hanya secara drastis mengurangi transmisi cahaya tapi juga menjelaskan absorbsi cahaya secara selektif (Wetzel, 1983). Kondisi kecerahan pada kolam yang hendak digunakan untuk pemeliharaan ikan adalah lebih besar dari 10% penetrasi cahaya sampai dasar perairan (Susanto, 2002).

 

2.2.2.4.   Kedalaman

Kolam harus memiliki kedalaman yang berbeda-beda untuk dapat berfungsi dengan baik. Dasar yang dangkal di sekitar tepian dan bagian yang lebih dalam di daerah tengah merupakan kondisi yang ideal untuk kolam atau bisa juga dalam di satu sisi dan dangkal di sisi lainnya.  Daerah kolam  yang dangkal memberikan  tempat bagi  tanaman air  yang menyediakan pangan bagi ikan dan rumah bagi ikan-ikan kecil dan daerah dengan suhu yang lebih hangat akan mendorong plankton dan hewan kecil (yang menjadi pakan ikan) untuk tumbuh di daerah ini, Kedalaman kolam yang optimum adalah 100-200 cm (Asmawi, 1983).

 

2.2.2.5. Warna

Warna air dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kehadiran plankton, larutan yang tersuspensi, dekomposisi bahan organik, dan bahan-bahan mineral yang terdapat di dalam air. Warna perairan yang hijau muda disebabkan karena adanya penyerapan dan penghamburan cahaya matahari oleh Chlorella dan Dunaleilla yang keduanya termasuk fitoplankton golongan Chlorophyta (alga hijau). Terkadang juga disebabkan oleh jenis Chaemotomorpha dan Enteromorpha yang bentuknya seperti benang (Gufran, 2005).

 

2.2.2.6. Bau

Persoalan bau yang disebabkan polusi kimia dapat diselesaikan dengan cara pencarian lokasi sumber bau dan menghentikan masuknya zat kimia tersebut kedalam kolam. Disamping itu terkadang zat dasar geologi tanah area kolam seperti kandungan sulfur (belerang) dan besi yang sangat tinggi dapat pula menyebabkan bau kurang sedap. Kondisi-kondisi tersebut secara umum tidak dapat diatasi dengan aplikasi filter atau saringan (Rochdianto, 1995).Effendi (2007) menyatakan bahwa kondisi perairan yang baik untuk budidaya ikan adalah tidak berwarna dan tidak berbau.

 

2.2.3.    Sifat Kimia Kolam

2.2.3.1. Oksigen terlarut (DO)

Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Kehidupan makhluk hidup di dalam air tersebut tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya (Fardiaz, 2006). Kadar oksigen yang terlarut di perairan alami berbeda, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin besar suhu dan ketinggian (altitute) serta semakin kecil tekanan atmosfer, kadar oksigen terlarut semakin kecil (Jeffries dan Mills, 1996 dalam Effendi, 2007).

Pada kolom air, setiap peningkatan kedalaman sebesar 10 m disertai dengan peningkatan tekanan sekitar 1 atmosfer (Cole, 1988 dalam Effendie, 2007). Kadar oksigen terlarut juga berubah-ubah secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada percampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) masa air, aktivitas fotosintesis, respirasi dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air (Effendi, 2007). Konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu rendah akan mengakibatkan ikan-ikan dan binatang air lainnya yang membutuhkan oksigen akan mati (Fardiaz, 2006). Sedangkan  Soeseno (1974) menyebutkan bahwa perairan yang mengandung oksigen terlarut 5 ppm pada suhu 20-300C cukup baik utuk kehidupan ikan dan akan mencapai kejenuhan apabila kandungan oksigen sudah mencapai 7-9 ppm.

Kandungan O2 terlarut pada perairan  mengalami fluktuasi baik harian maupun musiman. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh perubahan suhu dan aktifitas fotosintesis dari tumbuhan air. O2 terlarut di dalam air mengalami fluktuasi sepanjang hari, yaitu kandungannya rendah pada waktu malam hari di mana proses respirasi terbesar terjadi dan kandungan tinggi pada waktu sore hari di mana proses fotosintesis mencapai puncaknya (Barus, 2002).

Kebutuhan oksigen ikan beragam dengan spesies dan umur ikan.  Ikan air dingin membutuhkan lebih banyak oksigen terlarut daripada ikan lainnya, mungkin karena jenis ikan yang hidup di air dingin lebih aktif dibandingkan dengan ikan yang hidup diperairan yang lebih hangat. Kisaran antara 3-6 mg/liter merupakan tingkat kritis DO untuk hampir semua jenis ikan. Di bawah 3 mg/liter, penurunan lebih lanjut hanya penting dalam kaitannya dengan munculnya kondisi anaerob lokal. Kerusakan utama terhadap ikan dan kehidupan akuatik lainnya telah terjadi pada kondisi seperti ini. Di atas 6 mg/liter, keuntungan utama dari penambahan oksigen terlarut adalah sebagai cadangan atau penyangga untuk menghadapi “shock load” buangan limbah yang membutuhkan banyak oksigen (Ilyas et al, 1990).

2.2.3.2.  Karbondioksida bebas (Co2 bebas)

Karbondioksida bebas digunakan untuk menjelaskan CO2 yang terlarut dalam air, selain yang berada dalam bentuk terikat sebagai ion bikarbonat dan ion karbonat. Karbondioksida bebas menggambarkan keberadaan gas CO2 di perairan yang membentuk kesetimbangan dengan CO2 di atmosfer (Effendi, 2007). Menurut Heru (1995), kandungan CO2 bebas dalam air untuk pemeliharaan ikan yang dibutuhkan sangat banyak, lebih banyak daripada oksigen. Kandungan CO2 maksimum dalam air masih dianggap tidak membahayakan bagi ikan adalah sekitar 25 ppm.

Namun menurut Boyd (1988) dalam Effendi (2007) kadar karbondioksida di perairan dapat mengalami pengurangan, bahkan hilang akibat proses fotosintesis, evaporasi, dan agitasi air. Perairan yang diperuntukkan bagi kepentingan perikanan sebaiknya mengandung kadar karbondioksida bebas < 5 mg/liter. Kadar karbondioksida bebas sebesar 10 mg/liter masih dapat ditolerir oleh organisme akuatik, asal disertai dengan kadar oksigen yang cukup. Sebagian besar organisme akuatik masih dapat bertahan hidup hingga kadar karbondioksida bebas mencapai sebesar 60 mg/liter.

Karbondioksida bebas dalam suatu perairan berkisar < 12 ppm. Apabila CO2 bebas ini telah habis dalam perairan, maka yang digunakan oleh organisme nabati adalah CO2 terikat (Pescod,1973).  Keracunan CO2 terjadi karena daya serap hemoglobin terhadap O2 terganggu (hemoglobin telah jenuh oleh CO2 yang mengakibatkan organisme mati lemas disebabkan sesak nafas). Kandungan CO2 dalam air yang aman tidak boleh melebihi 25 mg/L, sedangkan konsentrasi CO2 lebih dari 100 mg/L akan menyebabkan semua organisme akuatik mengalami kematian (Wardoyo, 1981).

 

2.2.3.3.  DMA

DMA (daya menggabung asam) adalah salah satu cara untuk menyatakan alkalinitas suatu perairan. Jumlah DMA yang terdapat dalam suatu perairan menunjukkan kapasitas pen yang ga atau kesuburan perairan tersebut, dan juga untuk menentukan baik buruknya perairan tersebut sebagai lingkungan hidup bagi organisme-organisme air (Soeseno, 1974). Menurut  Wardoyo (1981), DMA dalam suatu perairan dapat digunakan sebagai indikator subur atau tidaknya suatu perairan. DMA mempengaruhi pergoncangan pH sehingga perairan tersebut semakin mantap (Soeseno, 1970). Nilai alkalinitas suatu perairan dapat digunakan sebagai parameter perairan untuk menduga kesuburan (Wardoyo, 1981).

Nilai DMA yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menghambat pertumbuhun ikan yang dipelihara. Kandungan DMA suatu perairan mempengaruhi faktor kimia dan biologi suatu perairan (Asmawi, 1983). Faktor kimia perairannya terhadap nilai pH, semakin besar kandungan DMA maka akan semakin besar pula pHnya. Faktor biologi perairannya adalah mempengaruhi laju pertumbuhan dan perkembangan biota yang hidup dalam perairan tersebut. Besar kecilnya nilai DMA suatu perairan dapat menunjukkan kapasitas penyangga dan tingkat kesuburannya (Siregar, 2000). Soeseno (1974), mengemukakan bahwa nilai alkalinitas yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat menghambat perkembangan organisme perairan. DMA di perairan berkisar 2,0 – 5,0 ppm dan membagi perairan menjadi empat golongan sebagai berikut :

1)      Perairan dengan DMA 0-0,5 terlalu asam dan tidak produktif sehingga tidak baik untuk pemeliharaan ikan.

2)      Perairan dengan DMA 0,5-2,0 memiliki pH belum mantap tetapi sudah dapat dipakai untuk memelihara ikan dan produktivitasnya tergolong tinggi.

3)      Perairan dengan  DMA  2,0-4,0 pH sudah agak basa, sangat produktif dan baik untuk pemeliharaan ikan.

4)      Perairan dengan DMA 5,0 maka tergolong terlampau basa sehingga kurang baik  untuk pemeliharaan ikan.

 

2.2.4. Sifat Biologi Kolam

2.2.4.1.   Plankton

Plankton adalah organisme baik tumbuhan maupun hewan yang umumnya berukuran relatif kecil (mikro), hidup melayang-layang di air, tidak mempunyai daya gerak/ kalaupun ada daya gerak relatif lemah sehingga distribusinya sangat dipengaruhi oleh daya gerak air, seperti arus dan lainnya (Nybakken, 1992 dalam Yazwar, 2008). Plankton terbagi dua jenis yakni plankton tumbuhan (fitoplankton) dan plankton hewan (zooplankton) (Newel & Newel 1977 dalam Yazwar, 2008).

Plankton pada ekosistem perairan mempunyai peranan penting, yaitu sebagai produsen primer dan konsumen primer. Plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton, biasanya melayang-layang (bergerak pasif) mengikuti aliran air. Fitoplankton merupakan produsen primer, sedangkan zooplanton sebagai konsumen primer, yaitu pemakan fitoplankton. Zooplankton yang berada di dalam perairan banyak ditemukan pada kecepatan arus yang rendah dan kekeruhan air yang kecil  (Barus, 2002).

Kehadiran plankton di suatu ekosistem perairan sangat penting, karena fungsinya sebagai produsen primer atau karena kemampuannya dalam mensintesis senyawa organik dari senyawa anorganik melalui proses fotosintesis (Heddy & Kurniati, 1996 dalam Yazwar, 2008).

 

2.2.4.2. Kelimpahan

Kesuburan suatu perairan antara lain dapat dilihat dari keberadaan organisme planktonnya, karena plankton dalam suatu perairan dapat menggambarkan tingkat produktivitas perairan tersebut (Sagala, 2009). Dalam ekosistem air hasil dari fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton bersama dengan tumbuhan air disebut sebagai produktivitas primer. Fitoplankton hidup terutama pada lapisan perairan yang mendapat cahaya matahari yang dibutuhkan untuk melakukan fotosistesis (Barus, 2001).

Dalam pertumbuhannya fitoplankton membutuhkan nutrisi baik makro dan mikro. Elemen yang termasuk dalam makro nutrisi terdiri dari : C, H, O, N, S, P, K, Mg, Ca,Na, dan Cl, sedangkan mikro nutrisi terdiri dari Fe, Mg, Co, Zu, B, Si, Mm, dan Cu. Elemen tersebut merupakan penyusun sel plankton sama dengan sel tumbuhan (Bold & Wayne, 1985 dalam Yazwar, 2008 ).

Dari sudut ekologi, hanya satu golongan zooplankton yang sangat penting artinya, yaitu subkelas kopepoda. Kopepoda adalah Crustacea holoplanktonik berukuran kecil yang mendominasi zooplankton, merupakan herbivora primer (Nybakken, 1992 dalam Siregar, 2009). Sebagian besar zooplankton menggantungkan sumber nutrisinya pada materi organik baik berupa fitoplankton maupun detritus. Kepadatan zooplankton di suatu perairan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan fitoplankton. Umumnya zooplankton ditemukan pada perairan yang mempunyai kecepatan arus rendah serta kekeruhan air yang sedikit  (Barus, 2004 dalam Siregar 2009).

 

2.2.4.3. Keragaman

Keragaman adalah salah satu sifat komunitas yang memperlihatkan jumlah spesies organisme yang ada di dalamnya (Odum, 1971).  Keanekaragaman plankton yang tinggi mendukung tingkat tropik diatasnya, yaitu hewan karang dan ikan-ikan demersal. Kelimpahan dan distribusi zooplankton demersal dikontrol oleh planktivores, khususnya ikan (Cahoon, 1992).

Apabila indeks keragaman >2 maka perairan tersebut dikatakan tidak tercemar atau tercemar sangat ringan, bila indeks 2,0-1,6 maka perairan tersebut dikatakan tercemar ringan, apabila indeks keragaman 1,5-1,0 maka perairan tersebut dikatakan tercemar sedang, dan apabila indeks keragaman <1 maka perairan tersebut dikatakan tercemar berat (Lee et al, 1978).

 

 

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

 

3.1 Waktu dan Tempat

Pelaksanaan praktikum ekologi tumbuhan dilaksanakan pada hari senin, tanggal 28 mei 2012 pukul 08.00 WIB s.d. Selesai di Kambang Iwak (KI) Palembang.

3.2 Alat dan Bahan

Alat     : pH meter (air & tanah), alat tulis

Bahan  : -

3.3 Cara Kerja

  1. Menentukan lokasi praktikum
  2. Menyiapkan alat dan bahan untuk praktikum
  3. Mengidentifikasi jenis tumbuhan yang ada di lokasi praktikum
  4. Mengukur luas wilayah dan kedalaman air di lokasi
  5. Mengukur ph lokasi praktikum
  6. Mencatat hasil yang diperoleh
  7. Dokumentasi

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

  • Jumlah tumbuhan yang ada dikambang iwak
NO Nama tumbuhan Nama spesies
1 Sawit Elaeis. Guineensis. jacy
2 Kelapa gading Cocosnudferavar
3 Mahoni Swietenia mahagoni
4 Glondogan PolyantheaLongitolia
5 Ceri Garcinia dioica
6 Bunga tanjung Mimusopselengi
7 Beringin Ficus benjamina L
8 Bambu Bambusa sp
9 Bunga kertas Bougainvillea spectabilis
10 Bunga asoka Sarocaindica
11 Bunga september Cyrtosta chylakka
12 Cemara duri Juniperus rigida
13 Jambu biji Psidium guajava
14 Salam Syzygium polyanthum
15 keji beling Stachhytar phetapalaefolius
16 Rumput gajah Penisetum purpureum
17 Melati air Stachhyatar phetamutabius
18 Asoka Saraca indica
19 Bunga terompet Mandevilla sanderi
20. Pandan Pandanus amaryllifolius
21. Bungathe Camellia sinensis
22. Jambu bol Syzigium malaccense

 

 

  • Jumlah tumbuhan memanjat
NO Nama tumbuhan Nama spesies
1 Anggrek air Gramatophyllum sriptum BL
2 Paku sisik naga Drymoglossum heterophylum
3 Paku pakis kelabang Nephrolepis exaltata
  • Jumlah tumbuhan lumut
NO Nama tumbuhan Nama spesies
1 Lumut kerak Lichenes
2 Lumut tanduk Antheceroptopsida sp
  • Data pH tanah dan air
No Lokasi pH
Tanah (7) Air (4,47)
1. Timur 6,4 7,26
2. Barat 6,0 7,30
3. Utara 4,8 7,30
4. Selatan 4,2 7,18
  • Kedalaman kolam dan luas wilayah

 

No Kedalaman air Luas wilayah KI
1. Tengah (4m) 3 Ha
2. Pinggir (3m)
  • Kondisi Air

Warna air kolam keruh, dan dominan hijau lumut.

4.2 PEMBAHASAN

Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan di kambang iwak dapat diperoleh bahwa luas daerah kambang iwak ± 3 hektar. Dengan luas daerah tersebut ada beberapa jumlah spesies yang kami temukan seperti tumbuhan paku, bunga kertas, asoka, cemara jarum, melati air, kaca beling, bambu, tanjung, Glondokan, mahoni, ceri, rumput gajah, bunga terompet, beringin, pohon sawit dan lain sebagainya.

Vegetasi berasal dari bahasa Inggris: “vegetation” dalam ekologi adalah istilah untuk keseluruhan komunitas tetumbuhan. Vegetasi merupakan bagian hidup yang tersusun dari tetumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Beraneka tipe hutan, kebun, padang rumput, dan tundra merupakan contoh-contoh vegetasi. Tetapi vegetasi tumbuhan yang lebih dominan di Kambang Iwak adalah glondogan dan mahoni. Pohon mahoni bisa mengurangi polusi udara sekitar 47% – 69% sehingga disebut sebagai pohon pelindung sekaligus filter udara dan daerah tangkapan air. Daun-daunnya bertugas menyerap polutan-polutan di sekitarnya. Sebaliknya, dedaunan itu akan melepaskan oksigen (O2) yang membuat udara di sekitarnya menjadi segar. Ketika hujan turun, tanah dan akar-akar pepohonan itu akan mengikat air yang jatuh, sehingga menjadi cadangan air. Selain itu juga yang sangat memungkinkan dari dominasi tanaman glodokan dan mahoni adalah sebagai tanaman pagar, karena daerahnya yang luas jadi fungsi lain dari tanaman ini adalah sebagai pembatas luas daerah kambang iwak.  Hal yang paling fungsional adalah sebagai filter atau penyaring suara, debu, bahkan bau. Pada saat hujan, tanah dan akar tanaman pun dapat berfungsi sebagai penahan air yang dapat disimpan sebagai cadangan air. Sebagai filter suara, pagar hidup yang cukup rimbun dan tinggi dapat meredam kebisingan dari lalu lalang kendaraan bermotor. Daun – daun tanaman dapat menangkap polutan – polutan di sekitarnya. Hal ini dikarenakan pada siang hari tanaman melakukan fotosintesis yang menyerap karbondioksida (CO2) dan melepaskan oksigen (O2) sehingga membuat udara di sekitarnya menjadi segar. Dan di dapatkan pula tumbuhan lain/ memanjat seperti sejenis paku-pakuan dan anggrek. Ditemukan pula beberapa macam tumbuhan lumut di pepohonan seperti lumut kerak, dan lumut tanduk.

Pada taman wisata Kambang Iwak juga kondisi pH air dan tanahnya rata-rata 7 untuk air, sedangkan tanahnya berkisar antara 4-6. Karena kondisi daerah yang dekat dengan beberapa tempat singgah atau restaurant dan juga ada beberapa tempat tersebut yang limbahnya menyambangi kawasan kambang iwak sehingga tercium aroma tak sedap pada beberapa titik di daerah kambang iwak. Hal ini juga yang mungkin mempengaruhi kondisi pH tanah di kawasan kambang iwak.

 

 

BAB V

KESIMPULAN

 

 

            Dapat disimpulkan dari kegiatan praktikum di atas bahwa:

  1. Pada taman wisata Kambang Iwak banyak terdapat jenis dan macam tanaman yang tumbuh disana, diantaranya glondogan, mahoni, kelapa sawit, paku-pakuan, lumut, dan lain sebagainya.
  2. Kolam atau kambang yang ada di taman wisata Kambang Iwak air yang tampak warnanya keruh dengan kedalaman relative antara 5-8 meter.
  3. Tumbuhan yang mendominasi di taman wisata Kambang Iwak ialah pohon mahoni dan glondogan.

 

 DAFTAR PUSTAKA

Adrian Fajriansyah, 29/08/2011, Taman Wisata Kambang Iwak Palembang, http://arumaarifu.wordpress.com/2011/08/30/taman-wisata-kambang-iwak-palembang/, di akses pada tanggal 10 Juni 2012

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Mahoni, di akses pada tanggal 10 Juni 2012

 Kurniawan Riyadi,  3/26/2012, Cara Mengatasi Air Kolam Hijau/ Keruh,

http://kolambuatan.blogspot.com/2012/03/cara-mengatasi-air-kolam-hijau-keruh.html, di akses pada tanggal 3 Juni 2012

 

Stasiun Karantina Tumbuhan Kelas II Adisucipto, 04/03/2008, Nama Ilmiah Jenis Tumbuhan, Nama Komoditas Pertanian, http://karantinaadisucipto.blogspot.com/2008/03/nama-ilmiah-jenis-tumbuhan.html, di akses pada tanggal 3 Juni 2012

 

 

Werdiningsih, Hermin (2007) KAJIAN PENGGUNAAN TANAMAN SEBAGAI ALTENATIF PAGAR RUMAH. ENCLOSURE, http://eprints.undip.ac.id/18508/, di akses pada tanggal 10 Juni 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s