MESIN PENCETAK GENERASI BANGSA ITU BERNAMA GURU

Sadarkah kita, tetatangga kita yang dulunya pendiam sekarang berubah menjadi nakal, yang dulunya pemalu sekarang berubah menjadi benalu, yang dulunya suka membantu sekarang suka mengganggu? Padahal mereka baru saja tamat dari sekolah mereka. Mengapa mereka tidak menjadi lebih baik? Kitapun tak sedikit melihat anak kecil yang dimasa kecilnya dengan lantang mengucapkan “Aku ingin menjadi dokter!”, “aku ingin menjadi presiden!”, “aku ingin menjadi Astronot!” dan lain sebagai sebagainya.

Ternyata ketika dewasa, mereka mengubah cita-cita mereka. Si calon presiden tadi bahkan menghapus cita-citanya. Boro-boro menjadi presiden, mau cari kerja saja susah katanya. Sang astronotpun tidak lagi mempertahankan cita-citanya. Bahkan berbicara tentang angkasa luarpun tidak pernah ia lakukan, sekarang ia hanya perpikir bagaimana sekripsinya cepat selesai.

Belasan tahun sekolah benar-benar telah merubah mereka. Tapi perubahan apa? Sekolah seharusnya merubah si calon presiden benar-benar menjadi calon presiden yang siap, yang mampu mengenal masalah bangsanya, yang percaya diri, yang mahir berbagai bahasa asing sebagai bekal seorang presiden, yang mampu berkomunikasi dengan baik, dan yang mampu memimpin. Begitu juga dengan calon dokter, astronot dan lain sebagainya, seharusnya sekolah mampu mempersiapkan mereka dan membantu mereka dalam mewujudkan cita-cita mulia mereka. Atau setidaknya sekolah mampu terus menjaga mimpi-mimpi mereka, membakar terus motivasinya, bukan sebaliknya.

Tapi, mengapa sekolah justru memadamkan bara dalam diri setiap anak? Bahkan melahirkan banyak pengangguran, banyak anak nakal, banyak pemuda pesimis, banyak orang pintar yang culas, yang seharusnya memintarkan orang lain tetapi malah membodohi orang lain? Bahkan pemimpin-pemimpin yang korup pun dilahirkan dari sekolah.

Bukankah si anak sebelumnya tidak mengenal kata mencotek? Namun, sekolahlah yang mengajarkannya, sekolah secara tidak sengaja telah mendidik mereka untuk itu. Sehingga lahirlah budaya mencontek berjamaah. Atau setidaknya, pada sekolah kebanyakan tidak ada keseriusan untuk menghapus kebiasaan ini.

Bukankah sebelumnya anak-anak tidak mengenal kata nilai atau skor? Sehingga ketika mereka dulu belajar berjalan, karena mereka betul-betul butuh berjalan. Mereka tak butuh skor berjalan untuk bisa berjalan, bukan? Bukankah merekapun dulu ikhlas dan semangat belajar bersepeda. Karena mereka sadar itu keharusan untuk meraih kesuksesan hidup. Sehingga mereka sangat bersemangat  mempelajarinya. Mereka tak peduli jatuh bangun, tertimpa sepeda, bangun lagi, menabrak pohon, bahkan masuk parit sekalipun. Sebelum sekolah mereka telah diajarkan makna kerja keras, sungguh-sungguh dan arti sebuah mimpi, bukan arti mengejar nilai.

Tapi setelah sang ibu memasukkan mereka ke sekolah. Apa yang terjadi? Perlahan-lahan semangat belajar mandiri mereka padam seiring berjalannya waktu. Kesungguh-sungguhan mereka lenyap karena mereka dipaksa mengejar target kurikulum dan angka. Keceriaan dan kesukarelaan mereka dalam belajar tak membekas karena sekarang sang guru siap menuliskan angka merah, remedial, atau ancaman tidak naik kelas.

Para siswa sekarang duduk manis dikelas dengan penuh kepura-puraan. Mereka bergembira saat loceng berbunyi, seolah-olah terbebas dari belenggu yang berat. Lihat juga ketika perpisahan sekolah terjadi. Itulah saat-saat yang paling membahagiakan mereka. Mereka seakan-akan berkata selamat tinggal ‘penjara’, kami berjanji tidak akan kembali lagi. Bukankah tanda cinta itu tak ingin berpisah? Mengapa mereka malahan sangat gembira ketika perpisahan itu terjadi.

Bukankah seharusnya yang terjadi adalah anak-anak sangat antusias ketika bersekolah, murid bahagia didalam kelas dan ketika ditugasi oleh sang guru. Seharusnya siswa lebih suka membaca daripada jajan, atau seharusnya mereka sedih ketika perpisahan sekolah atau wisuda. Bukannya malah bergembira. Kenapa itu terjadi?

Saat masih kecil, mereka begitu riang gembira ketika masuk sekolah dan bertemu guru-gurunya. Namun seiring meningkatnya level kelas dan pelajaran serta makin bertambahnya usia, belajar semakin menjadi momok yang tidak mengenakkan. Ini semua terjadi karena sistem belajar dan mengajar yang diterapkan selama ini, sistem yang akhirnya mematahkan motivasi siswa.

Ibaratkan sebuah produk, sekolah adalah sebuah pabrik yang akan memproduksi barang-barang yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi yang nantinya produk ini bisa bermanfaat dan bisa digunakan oleh orang banyak. Dan mesin canggih pencetak produk-produk itu berama GURU, mesin inilah yang nantinya akan mencetak generasi-genarasi yang luar biasa, yang mampu memperbaiki kondisi negeri ini, yang mampu mensejahterakan bangsa ini. Jika mesin ini tidak mampu berkerja dengan baik, maka produk yang dihasilkanpun akan buruk dan tidak berkualitas. Dan banyangkan jika setiap sekolah di negeri ini menghasilkan produk-produk yang buruk bahkan tidak berkualitas sama sekali, mau jadi apa negeri ini?

Konon kita butuh sekitar 3 juta guru untuk seluruh negeri ini. Nasib negeri ini ada ditangan mereka. Jika 3 juta guru itu bagus, maka tersenyumlah negeri ini. Namun sebaliknya, jika mereka tidak serius mengajar, maka mala petaka bagi negeri ini. Kini amat teramat sulit bagi kita untuk menemukan sosok seorang guru seperti Annie Sulivan yang mengajari Helen Keller, Pak Kobayashi dalam Toto Chan, atau sosok mulia seperti Bu Muslimah dalam Laskar Pelangi. Guru yang mendengar dengan hati, memahami siswa dengan hati, dan mengajari mereka dengan sepenuh hati.

Namun, fenomena yang terjadi saat ini adalah para guru tidak lagi merasa nyaman didalam kelas. Cita-cita dan misi ideal saat kuliah di kependidikan atau saat penataran tiba-tiba hilang. Predikat ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ terbang entah kemana. Tak banyak lagi guru yang mengajar karena cinta dan sayang pada para muridnya. Saat ini, belajar sudah menjadi ancaman bagi para murid dan mengajar menjadi beban bagi para guru.

Siswa tidak akan memahami pelajaran sampai mereka paham untuk apa mereka mempelajarinya. Dan mereka tidak akan pernah tahu untuk apa suatu pelajaran, sampai ada seorang guru yang memahamkan mereka akan itu. Tapi, apa kenyataannya? Guru matematika lebih sering memaksa siswa untuk mengerti aljabar, aritmatika, dan kalkulus tanpa meraka tahu untuk apa mereka mempelajari itu. Maka jangan heran jutaan pelajar tak mengerti matematika dan ribuan yang tidak lulus ujian akhir walaupun 12 tahun mereka mempelajarinya. Karena kebanyakan mereka tidak tahu dan tidak merasa perlu mempelajari matematika yang ‘rumit’ menurut mereka. Padahal metematika adalah bak kunci yang membuka pintu-pintu dunia ilmu yang lain.

Enam tahun mempelajari bahasa inggris tidak menjamin siswa mengerti bahasa inggris. Karena mereka hanya diajarkan untuk menghafal rumus tenses dan dipaksa menguasai kosakata yang mereka tidak ketahui untuk apa dan kemana akan dipakai. Untuk apa belajar bahasa ini jika seumur hidup harus tinggal dikampung, misalnya?

Bertahun-tahun mempelajari sejarah pun tidak jua membuat mereka memahami sejarah bangsanya. Malahan kebencian akan sejarah yang mereka dapatkan. Mengapa? Karena sepanjang bersekolah, mereka hanya disuruh menghafal ratusan tanggal, tokoh dan peristiwa tanpa tahu apa-apa.

Maka ceritakanlah pada siswa dan bangkitkan motivasi mereka untuk apa mempelajari suatu ilmu. Akhirilah sudah kelas menjadi parade pameran ilmu sang guru semata, tapi ubahlah kelas menjadi lautan motivasi dan generator semangat yang tak pernah padam. Maka bukan sebuah keajiaban jika setelah itu sang murid tak akan berhenti menuntut ilmu yang harus mereka gapai. Bukankah kelebihan sang guru dari murid hanya karena sang guru belajar terlebih dahulu? Maka fungsi guru tak lain hanya memberi tahu jalan yang harus dilalui murid-muridnya, mengapa harus menempuh jalan itu dan apa yang akan diraih jika sukses meniti jalan itu. Itulah guru yang mengajarkan dengan hati.

Guru adalah mesin pencetak yang harus selalu kita asa dan kita latih agar bisa berkerja dengan baik dan nantinya akan mengahasilkan produk yang baik. Seorang guru hasus mengetahui bagaimana cara mengajar dan mendidik dengan baik, cara mentransfer ilmu dengan baik, dan cara melayani ilmu dengan baik. Seorang guru harus memiliki kompetensi yang baik dalam mengajar, karena guru adalah sarana atau jalan bagi seorang murid dalam meraih pengetahuan-pengetahuan yang kelak akan mereka gunakan untuk kehidupan mereka kedepannya.

Wahai guru, genarasi masa depan bangsa ini sedang duduk dihadapan Anda. Mereka ibarat sebuah gelas yang siap diisi dengan air oleh sang guru. Dan guru ibaratakan sebuah ceret air, jika cara menuangkan air kedala gelas itu salah atau kurang tepat, maka air itu tidak akan masuk kedalam gelas-gelas tersebut. Atau ceret tersebut hanya memiliki sedikit air bahkan tidak ada air sedikitpun, apa yang akan ceret tuangkan kedalam gelas-gelas itu. Semuanya tergantung dengan sang guru. Wahai guru, apakah kita akan membangun atau menghangcurkan negeri ini dengan didikan kita kepada generasi penerus bangsa ini?

Menjadi seorang guru memang mudah. Namun, menjadi seorang guru yang profesional dan dirindu tidak semudah yang dibayangkan. Sungguh, orang yang mendidik anak-anak dengan kesungguhan paling berhak mendapatkan penghargaan dan penghormatan. Dia adalah sang guru. Dialah penyebab kemenangan atau kekalahan negeri ini dalam suatu pertempuran.

 

 

Referensi:

Buku Keajaiban Belajar dan Menjadi Guru yang di Rindu

Pancasila Sebagai Paradigma Kehidupan Diantara Ideologi Dunia

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.     Latar belakang

Pancasila sebagai paradigma kehidupan dalam bermasyarakat, bangsa dan negara serta kehidupan kampus memiliki peranan penting dalam berbagai aspek pembangunan salah satunya membangun kepribadian masyarakatnya dalam berperi kemanusiaan.

Panacasila merupakan salah satu ideologi yang diperhitungkan keberadaannya di dunia, sehingga berani mengambil langkah aktif untuk perdamaian dunia setelah bergabung dan membentuk salah satu gerakan yaitu gerakan non blok atau GNB yang merupakan gerakan alternative yang menjadi jalan tengah antara peperangan dua ideologi besar pada masanya.

Selain itu juga pancasila merupakan salah satu ideologi yang unik. Karena dalam proses lahirnya ideologi ini sangat berbeda jauh dengan ideologi-ideologi yang pernah ada sebelumnya. Pancasila dilahirkan atas dasar pemikiran-pemikiran kritis para tokoh-tokoh penting pada masa jayanya, membentuk sebuah tatanan Negara berkonsep multikultural yang memenuhi segala aspek kehidupan, baik individu, suku atau kelompok bahkan bangsa dan Negara. Pancasila bukan demokrasi kapitalisme, tetapi mengandung nilai-nilai demokrasi di dalamnya. Bukan pula sosialisme komunisme, tapi nilai-nilai sosialis sangat terpapar jelas didalamnya. Pancasil adapat dikatakan aadalah sebuah ideologi alternative yang ada sebagai jalan tengah/ jalan keluar dari peperangan ideology yang ada.

1.2.     Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini agar kita selaku mahasiswa mengetahui peran penting Pancasila sebagai ideologi yang membangun paradigma kehidupan berpikir untuk menciptakan suatu kepribadian yang syarat akan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila itu sendiri, serta peran ideologi Pancasila dalam perkembangan dunia. Dan juga guna memenuhi tugas mata kuliah Pancasila.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Pancasila Sebagai Paradigma Kehidupan Diantara Ideologi Dunia

 

 

2.1. Pengertian Paradigma

Awalnya istilah paradigma berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan terutama yang kaitannya dengan filsafat ilmu pengetahuan. Tokoh yang mengembangkan istilah tersebut dalam dunia ilmu pengetahuan adalah Thomas S Khun dalam bukunya yang berjudul The Structure of Scientific Revolution (1970: 49). Paradigma disini diartikan Khun sebagai kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakianan atau pijakan suatu teori. Pemikir lain seperti Patton (1975) mendefinisikan pengertian paradigma hampir sama dengan Khun, yaitu sebagai “a world view, a general perspective, a way of breaking down of the complexity of the real world [suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum, atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata].” Kemudian Robert Friedrichs (1970) mempertegas definisi tersebut sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer (1980) dengan menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari pada ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah stu cabang/disiplin ilmu pengetahuan.[1] Inti sari paradigma adalah suatu asumsi-asumsi dasar dan asumsi teoritis yang umum dan dijadikan sumber hukum metode serta penerapan dalam ilmu pengetahuan sehingga sangat menentukan sifat, ciri, dan karakter ilmu pengetahuan itu sendiri.

Dengan adanya kajian paradigma ilmu pengetahuan sosial, kemudian dikembangkanlah metode baru yang berdasar pada hakikat dan sifat paradigma ilmu, yaitu manusia yang disebut metode kualitatif. Kemudian berkembanglah istilah ilmiah tersebut dalam bidang manusia serta ilmu pengetahuan lain, misalnya politik, hukum, ekonomi, budaya serta bidang-bidang lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari paradigma berkembang menjadi terminology yang mengadung arti sebagai sumber nilai, kerangka piker, orientasi dasar, sumber asas, tolak ukur, parameter saerta arah dan tujuan dari suatu perkembangan perubahan, dan proses dalam bidang tertentu termasuk bidang pebangunan, reformasi, maupun pendidikan. Dengan demikian paradigma menempati posisi dan fungsi yang strategis dalam proses kegiatan. Perencanaan pelaksanaan hasil-hasilnya dapat diukur dengan paradigma tertentu yang diyakini kebenarannya.[2]

2.2.  Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan

 

2.2.1. Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa

Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, dalam perjuagan untuk mencapai kehidupan yang lebih sempurna, senantiasa memerlukan nilai-nilai luhur yang di junjungnya sebagai suatu pandangan hidup. Pandangan hidup yang terdiri atas kesatuan rangkaian nilai-nilai luhur yang merupakan suatu tolak ukur kebaikan yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat mendasar dan abadi dalam hidup manusia yang menjadi suatu wawasan menyeluruh terhadap kehidupan.

Sebagai mahluk individu dan mahluk sosial manusia tidaklah mungkin memenuhi segala kebutuhannya sendiri., oleh karena itu untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya, ia senantiasa memerlukan orang lain. Dalam pengertian inilah maka proses perumusan pandangan hidup masyarakat dituangkan dan dilembagakan menjadi pandangan hidup bangsa dan selanjutnya pandangan hidup bangsa dituangkan sebagai pandangan hidup negara. Pandangan hidup bangsa dapat disebut sebagai ideologi bangsa (nasional), dan pandangan hidup negara dapat disebut sebagai ideologi negara.

Dalam proses penjabaran dalam kehidupan modern antara pandangan hidup masyarakat dengan pandangan hidup bangsa memiliki hubungan yang bersifat timbal balik. Pandangan hidup bangsa diproyeksikan kembali kepada pandangan hidup masyarakat serta tercermin dalam sikap hidup pribadi warganya. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa terebut terkandung di dalamnya konsepsi dasar mengenai kehidupan y ang dicita-citakan, terkandung dasar pikiran terdalamdan gagasan menjadi wujud kehidupan yang dianggap baik. Oleh karena itu Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa merupaka suatu kristalisasi dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia, maka pandangan hidup tersebut dijunjung tinggi oleh warganya karena pandangan hidup Pancasila berakar pada budaya dan pandangan hidup masyarakat. Dengan demikian pandangan hidup Pancasila bagi bangsa Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika tersebut harus merupakan asas pemersatu bangsa sehingga tidak boleh mematikan keanekaragaman.[3]

2.2.2. Pancasila sebagai Dasar Negara

Pancasila dalam kedudukannya, sering disebut sebagai Dasar Filsafat atau Dasar Falsafah Negara (Philosofische gronslag) dari negara, ideologi negara atau (Staatsidee). Dalam pengertian ini Pancasila merupakan suatu dasar nilai serta norma untuk mengatur pemerintahan negara atau dengan kata lain Pancasila merupakan suatu dasar untuk mengatur penyelenggaraan negara. Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan suatu asas kerohanian yang meliputi suasanan kebatinan atau cita-cita hukum, sehingga merupakan suatu sumber nilai, norma serta kaidah, baik moral maupun hukum negara, dan menguasai hukum dasar baik tertulis atau Undang-Undang Dasar maupun yang tidak tertulis atau convensi. Dalam kekdudukannya sebagai dasar negara, Pancasila mempunyai kekuatan mengikat secara hukum.[4]

Pancasila sebagai dasar negara mempunyai kedudukan sebagai berikut:[5]

  1. Sumber dari segala sumber hukum di Indonesia,
  2. Meliputi suasana kebatinan dari UUD 1945,
  3. Menciptakan cita-cita hukum bagi hukum dasar negara,
  4. Menjadi sumber semangat bagi UUD 1945, dan
  5. Mengandung norma-norma yang mengharuskan UUD untuk mewajibkan pemerintah maupun penyelenggara negara yang lain untuk memelihara budi pekerti luhur.

Pedoman kehidupan bernegara pada dewasa ini dilandasi dasar negara Pancasila melaluli ketetapan-ketetapan MPR RI, yang secara filosofis harus dapat dilihat dan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai bukti bahwa benar-benar berada dalam siklus kehidupan negara yang berlandaskan kepada Pancasila.

Dalam kehidupannya sebagai sumber segala sumber hukum yang berlaku di Indonesia, Pancasila merupakan hukum dasar nasional menurut Pasal 1, Ayat (3), Ketetapan MPR RI No. III/MPR/2000, menjadi landasan dan pedoman dalam penyelenggaraan negara termasuk pedoman bagi segenap peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.

Adapun isi sumber hukum dan tata urutan peraturan perundangan RI, seperti tercantum pada TAP MPR tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Undang-Undang Dasar 1945,
  2. Ketetapan MPR RI,
  3. Undang-Undang,
  4. Peraturan Pemerintah pengganti undang-undang,
  5. Peraturan pemerintah,
  6. Keputusan presiden, dan
  7. Peraturan daerah

Pancasila sebagai dasar negara mempunyai nilai-nilai keseimbangan, yaitu Nilai Ketuhanan (Moral Religius), Nilai Kemanusiaan (Humanistik), dan Nilai Kemasyarakatan (Nasionalistik, Demokratik dan Keadilan Sosial).[6]

 

  1.      Nilai Ketuhanan (Moral Religius)

Konsep Ketuhanan ini tidaklah mengarah atau memihak kepada salah satu ajaran agama yang terdapat di Indonesia. Konsep Ketuhanan ini mengandung nilai-nilai universalitas yang imanen di dalam sifat-sifat ketuhanan. Dengan demikian, konsep ketuhanan ini tidak bicara tentang agama di dalam ruang ritual (hubungan antara manusia dengan tuhannya), akan tetapi bagaimana nilai-nilai ketuhanan yang universal tersebut dapat dijalankan di dalam ruang publik (hubungan manusia dengan sesama dan alam).

Yang dimaksud dengan nilai-nilai universalitas ketuhanan ini adalah nilai-nilai keadilan, persamaan, kemerdekaan, kebenaran, kasih sayang, perlindungan, kebersamaan, kejujuran, kepercayaan, tanggungjawab, keterbukaan, keseimbangan, perdamaian, dan lain-lainnya dari beberapa nilai yang imanen di dalam sifat-sifat Ketuhanan.

 

  1. Nilai Kemanusiaan (Humanistik)

Konsep kemanusiaan ini harus dapat memposisikan manusia tetap sebagai makhluk yang mempunyai hak-hak dasar yang alamiah. Adapun yang dimaksud dengan hak-hak dasar alamiah itu adalah hak untuk hidup, hak untuk berkarya, hak untuk berserikat, hak untuk berkeluarga, hak untuk memperoleh kebahagiaan, hak untuk berfikir, bersikap dan mengembangkan potensi.

 

c.   Nilai Kemasyarakatan (Nasionalistik, Demokratik dan Keadilan Sosial)

Konsep Kemasyarakatan ini merupakan sebuah keniscayaan adanya peran negara di dalam segala proses kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi peran negara tersebut bukanlah untuk negara, akan tetapi diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat yang didasarkan atas prinsip keadilan.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, maka negara harus dibangun di dalam sistem politik yang demokratis. Di dalam konsep demokrasi, rakyatlah yang mempunyai kedaulatan. Penguasa hanyalah sebagai mandataris dari titah yang diberikan oleh rakyat. Untuk mencegah munculnya penguasa yang otoriter, maka kekuasaan yang diberikan kepada penguasa harus dibatasi lewat konstitusi (demokrasi konstitusional).

 

Akhirnya, Pancasila sebagai dasar negara juga dapat memberikan motivasi atas keberhasilan serta tercapainya suatu cita-cita/tujuan nasional yang juga merupakan cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu suatu masyarakat yang adil dan makmur, hidup berdampingan dengan negara-negara di dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.[7]

 

2.2.3. Pancasila sebagai Suatu Ideologi

Sebagai suatu ideologi bangsa dan negara Indonesia maka Pancasila pada hakikatnya bukan hanya merupakan suatu hasil perenungan atau pemikiran seseorang atau kelompok orang sebagaimana ideologi-ideologi lain di dunia, namun Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum membentuk negara, dengan lain perkataan unsur-unsur yang merupakan materi (bahan) Pancasila tidak lain diangkat dari pandangan hidup masyarakat Indonesia sendiri, sehingga bangsa ini merupakan kausa materialis (asal bahan) Pancasila.

Ideologi Pancasila memiliki berbagai aspek, baik berupa cita-cita pemikiran atau nilai-nilai, maupun norma yang baik dapat direalisasikan dalam kehidupan praksis dan bersifat terbuka dengan memiliki tiga dimensi sebagai berikut:[8]

  • Dimensi idealis, artinya nilai-nilai dasar dari Pancasila memilki sifat yang sistematis, juga rasional dan bersifat menyeluruh.
  • Dimensi normatif, merupakan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila yang perlu dijabarkan ke dalam sistem norma sehingga tersirat dan tersurat dalam norma-norma kenegaraan.
  • Dimensi realistis adalah nilai-nilai Pancasila yang dimaksud di atas harus mampu memberikan pencerminan atas realitas yang hidup dan berkembang dalam penyelenggaraan negara.

 

Dalam rangka perkembangan ideologi, khususnya di Indonesia, ideologi berkembangsesuai kepentingan dan kondisi kehidupan bangsa dan negara Indonesia, di antaranya sebagai ideologi persatuan, ideologi pembangunan dan ideologi terbuka. Ideologi persatuan sangat penting yang memiliki tugas dan fungsi mempersatukan seluruh rakyat Indonesia menjadi rakyat dan bangsayang memiliki sikap kepribadian yang tersendiri tanpa ketergantungan kepada siapa pun serta mempertebal kebersamaan dalam kehidupan berbangsa.

Mengenai ideologi pembangunan, berarti pembangunan ikut dalam memberikan kepada pemerintahan RI kewenangan dalam mempersiapkan kebijaksanaan dalam wujud cita-cita kehidupan bangsa melalui pembangunan nasional yang dilakukan dengan penyusunan kaidah-kaidah/norma-norma penting dalam penunjang pembangunan yang sedang dilakukan.

Sebagai ideologi terbuka (ideologi Pancasila) dalam melihat perkembangan kemajuan dunia dewasa ini, termasuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta lajunya sarana komunikasi membuat dunia seolah menjadi sempit dan kecil sehingga pembangunan akhirnya tidak terkait pada faktor-faktor yang ada didalam negeri saja. Selain itu tetap menjaga dan mempertahankan identitas dalam ikatan pertahanan nasional dan persatuan nasional, mampu bersaing dengan bangsa-bangsa di dunia, melalui ideologi terbuka dikembangkan dinamika kehidupan masyarakat bangsa. Membuka wawasan lebih luas secara kongkrit serta dapat lebih mudah menyelesaikan masalah yang timbul dengan penyelesaian yang baik dan lebih terbuka dengan berdasarkan atas kesepakatan seluruh masyarakat tanpa ada paksaan dari luar.

Keterbukaan ideologi Pancasila didukung oleh beberapa hal antara lain:

  1. Tekad bangsa dalam memperjuanagkan tercapainya tujuan nasional/tujuan proklamasi,
  2. Pembangunan nasional yang teratur dan maju pesat,
  3. Tekad yang kuat dalam mempertahankan nilai sila-sila Pancasila  yang sifatnya abadi,
  4. Hilangnya ideologi komunis/sosialis sebagai ideologi tertutup.

 

 

 

Hal-hal yang membatasi keterbukaan ideologi Pancasila adalah sebagai berikut:

  1. Stabilitas nasional yang mantab,
  2. Tetap berlakunya larangan terhadap paham komunisme di Indonesia,
  3. Adanya pencegahan atas pengembangan ideologi liberal di Indonesia, dan
  4. Pencegahan terhadap gerakan ekstrem dan paham-paham lain yang dapat menggoyahkan nilai persatuan dan kesatuan bangsa.

Dengan demikian, bahwa ideologi Pancasila memiliki arti sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita, maupun keyakinan dan nilai-nilai bangsa Indonesia yang secara normatif perlu diwujudkan dalam tata kehidupan berbangsa dan bernegara guna menunjang tercapainya suatu keadialan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

2.3. Pancasila Diantara Ideologi Dunia

 

2.3.1. IDEOLOGI PANCASILA

2.3.1.1. Pengertian Asal Mula Pancasila

Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideologi bangsa dan negara Indonesia, bukan terbentuk secara mendadak serta bukan hanya diciptakan oleh seseorang sebagaiman yang terjadi pada ideologi-ideologi lain di dunia. Namun terbentuknya Pancasila melalui proses yang cukup panjang dalam sejarah bangsa Indonesia.

Secara kausalitas Pancasila sebelum disahkan menjadi dasar filsafat negara nilai-nilainya telah ada dan berasal dari bangsa Indonesia sendiri yang berupa nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan dan nilai-nilai religius. Kemudian para pendiri negara Indonesia mengangkat nilai-nilai tersebut dirumuskan secara musyawarah mufakat berdasarkan moral yang luhur, antara lailn dalamsidang BPUPKI pertama, sidang panitia sembilan yang kemudian menghasilkan Piagam Jakarta yang memuat Pancasila yang pertama kali, kemudian dibahas lagi dalam sidang BPUPKI kedua. Setelah kemerdekaan Indonesia sebelum sidang resmi PPKI Pancasila sebagai calon dasar filsafat negara dibahas serta disempurnakan kembali dan akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1945 disahkan oleh PPKI sebagai daasar filsafat negara Republik Indonesia.

 

2.3.1.2. Karakteristik Ideologi Pancasila

            Pancasila sebagai suatu ideologi tidak bersifat kaku dan tertutup, namun bersifat reformatif, dinamis, dan terbuka. Hal ini dimaksudkan bahwa ideologi Pancasila adalah bersifat aktual, dinamis,  antisipatif dan senantiasa mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi serta dinamika perkembangan aspirasi masyarakat. Keterbukaan ideologi Pancasila bukan berarti mengubah nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya, namun mengekplisitkan wawasannya secara lebih kongkrit, sehingga memiliki kemampuan yang reformatif untuk memecahkan masalah-masalah aktual yang senantiasa berkembang seiring dengan aspirasi rakyat, perkembangan iptek serta zaman.

Berdasarkan pengertian tentang ideologi terbuka tersebut nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah sebagai berikut:

Nilai Dasar, yaitu hakikat kelima sila Pancasila yaitu Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Nilai dasar tersebut merupakan esensi dari sila-sila Pancasila yang bersifat universal, sehingga dalam nilai dasar tersebut terkandung cita-cita, tujuan serta niali-nilai yang baik dan benar.

 

Nilai Instrumental, yang merupakan arahan, kebijakan, strategi, sasaran serta lembaga pelaksanaannya. Nilai instrumental ini merupakan ekspisitasi, penjabaran lebih lanjut dari nilai-nilai dasar ideologi Pancasila.

 

Nilai Praksis, yaitu merupakan realisasi nilai-nilai instrumental dalam suatu realisasi pengamalan yang bersifat nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam realisasi praksis inilah maka penjabaran nilai-nilai Pancasila senantiasa berkembang dan selalu dapat dilakukan perubahan dan perbaikan (reformasi) sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi serta aspirasi masyarakat.

Berdasakan ciri khas proses dalam rangka membentuk suatu negara, maka bangsa Indonesia mendirikan suatu negara memiliki suatu karakteristik, ciri khas tertentu karena ditentukan oleh keanekaragamanaa, sifat dan karakternya, maka bangsa ini mendirikan suatu negara berdasarkan Filsafat Pancasila, yaitu suatu Negara Persatuan, suatu Negara Kebangsaan serta suatu Negara yang Bersifat Integralistik.

 

2.3.2. IDEOLOGI LIBERALISME

 

2.3.2.1. Pengertian Liberalisme

Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Liberalisme tumbuh dari konteks masyarakat Eropa pada abad pertengahan. Ketika itu masyarakat ditandai dengan dua karakteristik berikut. Anggota masyarakat terikat satu sama lain dalam suatu sistem dominasi kompleks dan kukuh, dan pola hubungan dalam system ini bersifat statis dan sukar beruba

Pemikiran liberal (liberalisme) berkembang sejak masa Reformasi Gereja dan Renaissans yang menandai berakhirnya Abad Pertengahan (abad V-XV). Disebut liberal, yang secara harfiah berarti bebas dari batasan (free from restraint), karena liberalisme menawarkan konsep kehidupan yang bebas dari pengawasan gereja dan raja. Ini berkebalikan total dengan kehidupan Barat Abad Pertengahan ketika gereja dan raja mendominasi seluruh segi kehidupan manusia.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. Oleh karena itu paham liberalisme lebih lanjut menjadi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme.

Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. Bandingkan Oxford Manifesto dari Liberal International: “Hak-hak dan kondisi ini hanya dapat diperoleh melalui demokrasi yang sejati. Demokrasi sejati tidak terpisahkan dari kebebasan politik dan didasarkan pada persetujuan yang dilakukan dengan sadar, bebas, dan yang diketahui benar (enlightened) dari kelompok mayoritas, yang diungkapkan melalui surat suara yang bebas dan rahasia, dengan menghargai kebebasan dan pandangan-pandangan kaum minoritas.

Masyarakat yang terbaik (rezim terbaik), menurut paham liberalisme adalah yang memungkinkan individu mengembangkan kemampuan-kemampuan individu sepenuhnya. Dalam masyarakat yang baik semua individu harus dapat mengembangkan pikiran dan bakat-bakatnya. Hal ini mengharuskan para individu untuk bertanggung jawab atas tindakannya, dan tidak menyuruh seseorang melakukan sesuatu untuknya atau seseorang untuk mengatakan apa yang harus dilakukan.

 

2.3.2.2. Ciri-ciri ideologi liberalisme

Ciri-ciri ideologi liberal sebagai berikut

1. Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang lebih baik

2. Anggota masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasuk kebebasan berbicara, kebebasan beragama dan kebebasan pers.

3. Pemerintah hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas. Keputusan yang dibuat hanya sedikit untuk rakyat sehingga rakyat dapat belajar membuat keputusan diri sendiri.

4. Kekuasaan dari seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang buruk.

5. Semua masyarakat dikatakan berbahagia apabila setiap individu atau sebagian terbesar individu berbahagia.

6. Hak-hak tertantu yang tidak dapat dipindahkan dan tidak dapat dilanggar oleh kekuasaan manapun..

 

2.3.2.3. Ideologi Liberaisme Terbentuk

Ajaran liberalisme ortodoks sangat mewarnai pemikiran para The Founding Father Amerika seperti George Wythe, Patrick Henry, Benjamin Franklin, ataupun Thomas Jefferson

 

2.3.2.4. Negara yang menganut Ideologi Liberalisme

Beberapa Negara di Benua Amerika yang menganut ideology liberalisme Amerika Serikat, Argentina, Bolivia, Brazil, Cili, Cuba, Kolombia, Ekuador, Honduras, Kanada, Meksiko, Nikaragua, Panama, Paraguay, Peru, Uruguay dan Venezuela. Sekarang ini, kurang lebih liberalisme juga danut oleh negara Aruba, Bahamas, Republik Dominika, Greenland, Grenada, Kosta Rika, Puerto Rico dan Suriname.

Masih banyak lagi negara-negara yang menganut Ideologi Liberalisme di benua lainnya.

 

 

 

 

 

2.3.3. IDEOLOGI SOSIALISME

2.3.3.1. Pengertian Sosialisme

Sosialisme merupakan merupakan reaksi terhadap revolusi industri dan akibat-akibatnya. Awal sosialisme yang muncul pada bagian pertama abad ke-19 dikenal sebagai sosialis utopia. Sosialisme ini lebih didasarkan pada pandangan kemanusiaan (humanitarian). Paham sosialis berkeyakinan perubahan dapat dan seyogyanya dilakukan dengan cara-cara damai dan demokratis. Paham sosialis juga lebih luwes dalam hal perjuangan perbaikan nasib buruh secara bertahap.

Istilah sosialisme atau sosialis dapat mengacu ke beberapa hal yang berhubungan dengan ideologi atau kelompok ideologi, sistem ekonomi, dan negara. Istilah ini mulai digunakan sejak awal abad ke-19. Dalam bahasa Inggris, istilah ini digunakan pertama kali untuk menyebut pengikut Robert Owen pada tahun 1827. Di Perancis, istilah ini mengacu pada para pengikut doktrin Saint-Simon pada tahun 1832 yang dipopulerkan oleh Pierre Leroux dan J. Regnaud dalam l’Encyclopédie Nouvelle[1]. Penggunaan istilah sosialisme sering digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda-beda oleh berbagai kelompok, tetapi hampir semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian yang dengan sistem ekonomi menurut mereka dapat melayani masyarakat banyak daripada hanya segelintir elite.

 

2.3.3.2. Ajaran tentang Ideologi Sosialisme

1. Menciptakan masyarakat sosialis yang dicita-citakan dengan kejernihan dan kejelasan argument, bukan dengan cara-cara kekerasan dan revolusi.

2. Permasalahan seyogyanya di selesaikan dengan cara demokratis.

 

2.3.3.3. Nama-nama penting dalam Ideologi Sosialisme

Nama-nama penting dalam Ideologi Sosialisme C.H. Saint Simon (1760-1825), F.M Charles Fourier (1772-1837), EtinneCabet (1788-1856), Wilhelm Weiling (1808-1871), dan Louis Bland (1811-1882).

 

2.3.3.4. Negara yang menganut Ideologi Sosialisme

Negraa yang menganut Ideologi Sosialisme adalah Negara-negara di Eropa Barat.

 

 

 

2.3.4. IDEOLOGI KOMUNISME

2.3.4.1. Pengertian Komunisme

Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia, selain kapitalisme dan ideologi lainnya. Komunisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, yang mana mereka itu mementingkan individu pemilik dan mengesampingkan buruh.

Secara umum komunisme sangat membatasi agama pada rakyatnya, dengan prinsip agama dianggap candu yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran yang rasional dan nyata.

Paham komunis berkeyakinan perubahan atas system kapitalisme harus dicapai dengan cara-cara revolusi dan pemerintahan oleh diktator proletariat sangat

diperlukan pada masa transisi. Dalam masa transisi dengan bantuan Negara dibawah diktator proletariat, seluruh hak milih pribadi dihapuskan dan diambillah untuk selanjutnya berada dalam control negara.

Komunisme sebagai ideologi mulai diterapkan saat meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.

 

2.3.4.2. Ciri-ciri Ideologi Komunisme

Adapun ciri pokok pertama ajaran komunisme adalah sifatnya yang ateis, tidak mengimani Allah. Orang komunis menganggap Tuhan tidak ada, kalau ia berpikir Tuhan tidak ada. Akan tetapi, kalau ia berpikir Tuhan ada, jadilah Tuhan ada. Maka, keberadaan Tuhan terserah kepada manusia.

Ciri pokok kedua adalah sifatnya yang kurang menghargai manusia sebagai individu. Manusia itu seperti mesin. Kalau sudah tua, rusak, jadilah ia rongsokan tidak berguna seperti rongsokan mesin. Komunisme juga kurang menghargai individu, terbukti dari ajarannya yang tidak memperbolehkan ia menguasai alat-alat produksi.

Komunisme mengajarkan teori perjuangan (pertentangan) kelas, misalnya proletariat melawan tuan tanah dan kapitalis. Pemerintah komunis di Rusia pada zaman Lenin pernah mengadakan pembersihan kaum kapitalis (1919-1921). Stalin pada tahun 1927, mengadakan pembersihan kaum feodal atau tuan tanah.

Salah satu doktrin komunis adalah the permanent atau continuous revolution (revolusi terus-menerus). Revolusi itu menjalar ke seluruh dunia. Maka, komunisme sering disebut go international.. Komunisme memang memprogramkan tercapainya masyarakat yang makmur, masyarakat komunis tanpa kelas, semua orang sama. Namun, untuk menuju ke sana, ada fase diktator proletariat yang bertentangan dengan demokrasi. Salah satu pekerjaan diktator proletariat adalah membersihkan kelas-kelas lawan komunisme, khususnya tuan-tuan tanah dan kapitalis.

Dalam dunia politik, komunisme menganut sistem politik satu partai, yaitu partai komunis. Maka, ada Partai Komunis Uni Soviet, Partai Komunis Cina, PKI, dan Partai Komunis Vietnam, yang merupakan satu-satunya partai di negara bersangkutan. Jadi, di negara komunis tidak ada partai oposisi. Jadi, komunisme itu pada dasarnya

tidak menghormati HAM.

 

Karl Heinrich Marx (Trier, Jerman, 5 Mei 1818 – London, 14 Maret 1883) adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia.Karl Heinrich Marx Lambang Komunisme

 

2.3.4.3. Negara yang menganut Ideologi Komunis

Komunisme sebagai ideologi mulai diterapkan saat meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Republik Rakyat Cina (sejak 1949), Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.

 

 

 

2.3.5. IDEOLOGI KONSERVATISME

2.3.5.1. Pengertian Konservatisme

Konservatisme adalah sebuah filsafat politik yang mendukung nilai-nilai tradisional. Istilah ini berasal dari kata dalam bahasa Latin, conservāre, melestarikan; “menjaga, memelihara, mengamalkan”. Karena berbagai budaya memiliki nilai-nilai yang mapan dan berbeda-beda, kaum konservatif di berbagai kebudayaan mempunyai tujuan yang berbeda-beda pula. Sebagian pihak konservatif berusaha melestarikan status quo, sementara yang lainnya berusaha kembali kepada nilai-nilai dari zaman yang lampau, the status quo ante.

Samuel Francis mendefinisikan konservatisme yang otentik sebagai “bertahannya dan penguatan orang-orang tertentu dan ungkapan-ungkapan kebudayaannya yang dilembagakan.”[1] Roger Scruton menyebutnya sebagai “pelestarian ekologi sosial” dan politik penundaan, yang tujuannya adalah mempertahankan, selama mungkin, keberadaan sebagai kehidupan dan kesehatan dari suatu organisme sosial.

 

2.3.5.2. Ciri-Ciri Ajaran Ideologi Konservatisme

1. Lebih mementingkan lembaga-lembaga kerajaan dan gereja

2. Agama dipandang sebagai kekuatan utama disamping upaya pelestarian tradisi dan kebiasaan dalam tata kehidupan masyarakat.

3. Lembaga-lembaga yang sudah mapan seperti keluarga, gereja, dan Negara semuanya dianggap suci.

4. Konservatisme juga menentang radikalisme dan skeptisisme.

 

Ideologi konservatisme yang dikumandangkan oleh Edmund Burke, 1729-1797. Dimana ideologi konservatisme ini telah merasuk ke beberapa negara sekular yang ada sekarang. Nasionalisme dan kebangsaan ini sekarang kalau di Indonesia dijadikan lambang perjuangan Partai Amanat Nasional di bawah Amien Rais dan Partai Kebangkitan Bangsa yang lahirnya dibidani oleh Gus Dur.

Negara yang pernah menganut Ideologi Konservatisme adalah Inggris, Kanada, Bulgaria, Denmark, Hongaria, Belanda, Swedia.

 

 

 

2.3.6. IDEOLOGI FASISME

2.3.6.1. Pengertian Ideologi Fasisme

Fasisme merupakan sebuah paham politik yang mengangungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik dan juga otoriter sangat kentara.

Kata fasisme diambil dari bahasa Italia, fascio, sendirinya dari bahasa Latin, fascis, yang berarti seikat tangkai-tangkai kayu. Ikatan kayu ini lalu tengahnya adakapaknya dan pada zaman Kekaisaran Romawi dibawa di depan pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada kekuasaan pejabat pemerintah.

Pada abad ke-20, fasisme muncul di Italia dalam bentuk Benito Mussolini. Sementara itu di Jerman, juga muncul sebuah paham yang masih bisa dihubungkan dengan fasisme, yaitu Nazisme pimpinan Adolf Hitler. Nazisme berbeda dengan fasisme Italia karena yang ditekankan tidak hanya nasionalisme saja, tetapi bahkan rasialisme dan rasisme yang sangat sangat kuat. Saking kuatnya nasionalisme sampai mereka membantai bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih rendah.

Fasisme dikenal sebagai ideologi yang lahir dan berkembang subur pada abad ke-20. Ia menyebar dengan pesat di seluruh dunia pada permulaan Perang Dunia I, dengan berkuasanya rezim fasis di Jerman dan Italia pada khususnya, tetapi juga di negara-negara seperti Yunani, Spanyol, dan Jepang, di mana rakyat sangat menderita oleh cara-cara pemerintah yang penuh kekerasan. Berhadapan dengan tekanan dan kekerasan ini, mereka hanya dapat gemetar ketakutan. Diktator fasis dan pemerintahannya yang memimpin sistem semacam itu—di mana kekuatan yang brutal, agresi, pertumpahan darah, dan kekerasan menjadi hukum—mengirimkan gelombang teror ke seluruh rakyat melalui polisi rahasia dan milisi fasis mereka, yang melumpuhkan rakyat dengan rasa takut. Lebih jauh lagi, pemerintahan fasis diterapkan dalam hampir semua tingkatan kemasyarakatan, dari pendidikan hingga budaya, agama hingga seni, struktur pemerintah hingga sistem militer, dan dari organisasi politik hingga kehidupan pribadi rakyatnya. Pada akhirnya, Perang Dunia II, yang dimulai oleh kaum fasis, merupakan salah satu malapetaka terbesar dalam sejarah umat manusia, yang merenggut nyawa 55 juta orang.

 

Pelopor Ideologi Fasisme

Nazisme Hitler dengan bukunya Mein Kampft, dan Mussolini dengan Doktrine of Fascism.

 

Ajaran pokok Ideologi Fasisme

Namun demikian, bukan berarti fasisme tidak memiliki ajaran. Setidaknya para pelopor fasisme meninggalkan jejak ajaran mereka perihal fasisme. Hitler menulis Mein Kampft, sedangkan Mussolini menulis Doktrine of Fascism. Ajaran fasis model Italia-lah yang kemudian menjadi pegangan kaum fasis didunia, karena wawasannya yang bersifat moderat. Menurut Ebenstein, unsur-unsur pokok fasisme terdiri dari tujuh unsur:

Pertama, ketidak percayaan pada kemampuan nalar. Bagi fasisme, keyakinan yang bersifat fanatik dan dogmatic adalah sesuatu yang sudah pasti benar dan tidak boleh lagi didiskusikan. Terutama pemusnahan nalar digunakan dalam rangka “tabu” terhadap masalah ras, kerajaan atau pemimpin.

Kedua, pengingkaran derajat kemanusiaan. Bagi fasisme manusia tidaklah sama, justru pertidaksamaanlah yang mendorong munculnya idealisme mereka. Bagi fasisme, pria melampaui wanita, militer melampaui sipil, anggota partai melampaui bukan anggota partai, bangsa yang satu melampaui bangsa yang lain dan yang kuat harus melampaui yang lemah. Jadi fasisme menolak konsep persamaan tradisi yahudi-kristen (dan juga Islam) yang berdasarkan aspek kemanusiaan, dan menggantikan dengan ideology yang mengedepankan kekuatan.

Ketiga, kode prilaku yang didasarkan pada kekerasan dan kebohongan. Dalam pandangan fasisme, negara adalah satu sehingga tidak dikenal istilah “oposan”. Jika ada yang bertentangan dengan kehendak negara, maka mereka adalah musuh yang harus dimusnahkan. Dalam pendidikan mental, mereka mengenal adanya indoktrinasi pada kamp-kamp konsentrasi. Setiap orang akan dipaksa dengan jalan apapun untuk mengakui kebenaran doktrin pemerintah. Hitler konon pernah mengatakan, bahwa “kebenaran terletak pada perkataan yang berulang-ulang”. Jadi, bukan terletak pada nilai obyektif kebenarannya.

Keempat, pemerintahan oleh kelompok elit. Dalam prinsip fasis, pemerintahan harus dipimpin oleh segelintir elit yang lebih tahu keinginan seluruh anggota masyarakat. Jika ada pertentangan pendapat, maka yang berlaku adalah keinginan si-elit.

Kelima, totaliterisme. Untuk mencapai tujuannya, fasisme bersifat total dalam meminggirkan sesuatu yang dianggap “kaum pinggiran”. Hal inilah yang dialami kaum wanita, dimana mereka hanya ditempatkan pada wilayah 3 K yaitu: kinder (anak-anak), kuche (dapur) dan kirche (gereja). Bagi anggota masyarakat, kaum fasis menerapkan pola pengawasan yang sangat ketat. Sedangkan bagi kaum penentang, maka totaliterisme dimunculkan dengan aksi kekerasan seperti pembunuhan dan penganiayaan.

Keenam, Rasialisme dan imperialisme. Menurut doktrin fasis, dalam suatu negara kaum elit lebih unggul dari dukungan massa dan karenanya dapat memaksakan kekerasan kepada rakyatnya. Dalam pergaulan antar negara maka mereka melihat bahwa bangsa elit, yaitu mereka lebih berhak memerintah atas bangsa lainnya. Fasisme juga merambah jalur keabsahan secara rasialis, bahwa ras mereka lebih unggul dari pada lainnya, sehingga yang lain harus tunduk atau dikuasai. Dengan demikian hal ini memunculkan semangat imperialisme.

Terakhir atau ketujuh, fasisime memiliki unsur menentang hukum dan ketertiban internasional. Konsensus internasional adalah menciptakan pola hubungan antar negara yang sejajar dan cinta damai. Sedangkan fasis dengan jelas menolak adanya persamaan tersebut. Dengan demikian fasisme mengangkat perang sebagai derajat tertinggi bagi peradaban manusia. Sehingga dengan kata lain bertindak menentang hukum dan ketertiban internasional.

 

Negara-negara yang menganut Ideologi Fasisme

Negara-negara yang pernah menganut Ideologi Fasisme adalah Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Italia dan Jerman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideologi bangsa dan negara Indonesia, bukan terbentuk secara mendadak serta bukan hanya diciptakan oleh seseorang sebagaiman yang terjadi pada ideologi-ideologi lain di dunia. Namun terbentuknya Pancasila melalui proses yang cukup panjang dalam sejarah bangsa Indonesia.

Sebagai paradigma, Pancasila memiliki peran sebagai dasar negara, sebagai pandangan hidup negara dan sebagai suatu ideologi. Dengan beberapa hal yang mendukung terbukanya ideologi Pancasila memungkinkan dapat terlaksananya nilai-nilai yang terkandung pada tiap sila-sila Pancasila demi tercapainya cita-cita dan aspirasi rakyat.

Dengan ciri khas proses dalam rangka membentuk suatu negara, maka bangsa Indonesia mendirikan suatu negara memiliki suatu karakteristik, ciri khas tertentu karena ditentukan oleh keanekaragamanaa, sifat dan karakternya, maka bangsa ini mendirikan suatu negara berdasarkan Filsafat Pancasila, yaitu suatu Negara Persatuan, suatu Negara Kebangsaan serta suatu Negara yang Bersifat Integralistik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

            Kaelan. 2010. Pendidikan Pancasila edisi reformasi. Paradigma, Yogyakarta.

Setijo, Pandji. 2009. Pendidikan Pancasila Perspektif Sejarah Perjuangan Bangsa. PT                                                        Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta

 

 

 

http://kampusbaca.blogspot.com/2010/12/tugas-makalah-ideologi.html. diakses pada tanggal 14 November 2011 pukul 20.00 WIB

http://kritisfrombali.blogspot.com/2011/05/pancasila-sebagai-sebuah-ideologi.html diakses pada tanggal 14 Nov 2011, pukul 22:28.

http://adhunk.multiply.com/ diakses pada tanggal 14 November 2011, pukul 22:50.

http://ayya3.blogspot.com/2008/12/bab-i-pendahuluan-1.html, diakses pada tanggal 14 November 2011, pukul 22:30.


[1] http://adhunk.multiply.com/ diunduh pada tanggal 14 November 2011, pukul 22:50.

[2] http://ayya3.blogspot.com/2008/12/bab-i-pendahuluan-1.html, diunduh pada tanggal 14 November 2011, pukul 22:30.

[3] PROF.DR.KAELAN,M.S.Pendidikan Pancasila edisi Reformasi (Yogyakarta: PARADIGMA,2010).Hlm.107-109

[4] Ibid., hlm.110

[5] Pandji Setijo.PendidikanPancasila.(Jakarta: PT Gtamedia Widiasarana Indonesia,2009) Hlm.84

[6] http://narotama.ac.id/ diakses pada tanggal 15 November 2011, pukul 20.00 WIB.

 

[7] Pandji Setijo.Op.cit.,Hlm.85-87

[8] Ibid.Hlm.89

SEJARAH PERKEMBANGAN TAKSONOMI TUMBUHAN

 Sejarah Perkembangan Taksonomi Tumbuhan

Perbedaan dasar yang digunakan dalam klasifikasi tumbuhan akan memberikan hasil klasifikasi yang berbeda – beda sehingga terbentuklah sistem klasifikasi yang berlainan. Berdasarkan tingkat peradababnnya, manusia yang pertama-tama melakukan kegiatan di bidang taksonomi tumbuhan khususnya klasifikasi pasti memilah-milah dan mengelompokkan tumbuhan berdasarkan atas kesaman ciri-ciri yang berkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Misalnya dihasilkan kelompok tumbuhan penghasil bahan pangan, penghasil bahan sandang, penghasil bahan obat dan lain-lain. Selain itu jug a dapat berdasarkan ciri-ciri yang mudah dilihat dengan mata telanjang seperti perawakan tumbuhan. Berdasarkan perawakan tumbuhan (habitus), tumbuhan dikelompokkan menjadi empat yaitu, pohon (arbor), yang tumbuh tinggi dan besar serta berumur panjang, perdu, semak, dan terna (herba).

Seiring dengan kemajuan teknologi dan peradaban ciri-ciri tumbuhan yang pada mulanya tidak dapat diamati dapat dipertimbangkan untuk dijadikan dasar dalam pengklasifikasian. Karena teknologi yang lebih maju telah dapat mengamati bagian tersebut misalnya ciri-ciri anatomi, kandungan zat-zat kimia dan lain-lain.

Dalam dunia taksonomi tumbuhan dikenal berbagai sistem klasifikasi yang masing-masing diberi nama berdasarkan tujuan yang ingin dicapai atau dasar yang digunakan dalam pengklasifikasian. Sistem klasifikasi yang bertujuan pada penyederhanan objek studi dalam bentuk suatu ikhtisar lengkap seluruh tumbuhan disebut sistem buatan atau sistem artifisial. Dengan keterlibatan ilmu-ilmu lain dalam taksonomi tumbuhan muncul sistem klasifikasi lain yang tidak hanya bertujuan menyederhanakan objek sistem klasifikasinya disebut sistem alam.

Setelah lahirnya teori evolusi muncul sistem filogenentik yang mencita-citakan tercerminnya jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara golongan tumbuhan yang satu dengan golongan tumbuhan yang lain serta urutannya dalam sejarah perkembangan filogenetik tumbuhan.

Kemajuan dalam ilmu kimia dapat mengungkap zat-zat apa saja yang ada dalam tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan timbulnya saran agar pengklasifikasian tumbuhan juga didasarkan pada kesamaan atau kekerabatan zat-zat kimia yang terkandung di dalamnya. Sehingga terbentuk suatu aliran atau cabang dalam taksonom tumbuhan yang disebut kemotaksonomi.

Keberdaan teknologi canggih, salah satunya komputer maka berkembang suatu aliran yang dikenal sebagai taksimetri atau taksonometri yang berusaha untuk menentukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara dua takson tumbuhan melalui sistem pemberian nilai untuk kemiringan yang terdapat pada organ yang sama pada dua kelompok tumbuhan yang berbeda dan kemudian dengan penerapan analisis kelompok (CLUSTER analisis) dibentuk kelompok-klompok untuk menggambarkan jauh dekatnya hubungan kekerabatan diantara anggota kelompok

 Sistem Klasifikasi dan Tokoh- tokoh Pencetusnya

Dalam garis besarnya, perkembangan sistem klasifikasi dari masa ke masa adalah sebagai berikut:

1. Periode tertua

Dalam periode ini secara formal belum dikenal adanya system klasifikasi yang diakui (sejak ada kegiatan dalam taksonomi sampai kira-kira abad ke-4 sebelum masehi). Sejak awal kehidupan manusia bergantung pada bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, manusia sejak dahulu telah melakukan kegiatan-kegiatan yang termasuk dalam lingkup taksonomi, seperti mengenali dan memilah-milah tumbuhan mana yang berguna baginya dan yang mana yang tidak, termasuk pemberian nama, sehingga apa yang ditemukan dapat dikomunikasikan kapada pihak lain. Dalam zaman prasejarah orang telah mengenal tumbuh-tumbuhan penghasil bahan pangan yang penting seperti yang kita kenal sampai saat ini. Jenis-jenis tumbuhan ini diperkirakan telah diperkenal sejak 7 sampai 10 ribu tahun yang telah lalu, telah dibudidayakan oleh bangsa Mesir, China, Asiria dan Tigris Di Timur Tengah serta bangsa-bangsa Indian di Amerika Utara dan Selatan, sejak beberapa ribu tahun yang lalu telah dikenal berbagai jenis tumbuhan yang merupakan penghasil bahan pangan, sandang, dan bahan obat yang berarti bahwa sebenarnya merekapun telah menerapkan suatu sistem klasifikasi, dalam hal ini suatu system klasifikasi yang didasarkan atas manfaat tumbuhan, sehingga tidak dapat dianggap sebagai system buatan yang tertua. Jelaslah bahwa sejak berpuluh – puluh abad yang lalu orang telah terjun dalam kegiatan – kegiatan taksonomi tumbuhan, walaupun pengetahuan yang telah mereka kumpulkan belum begitu berarti, juga belum ditata, belum menunjukan hubungan sebab dan akibat, sehingga belum dapat disebut sebagai “ilmu pangetahuan”(science) menurut ukuran sekarang.

Sekalipun tidak ada bukti-bukti konkrit yan g berewujud peninggalan-peninggalan yang berupa dokumen-dokumen atau bentuk karya tulis lainnya, tidak perlu diragukan lagi bahwa sesuai dengan pernyataan Bloembergen-permulaan taksonomi tumbuhan harus digali dari kedalaman sejarah peradaban manusia di bumi ini.

1. Periode system Habitus, kira-kira pada abad ke-4 sebelum masehi sampai abad ke-17

Taksonomi tumbuhan sebagai ilmu pengetahuanh baru di anggap pada abad ke-4 sebelum Masehi oleh orang-orang Yunani yang dipelopori oleh Theophrastes ( 370-285 SM) murid seorang filsuf Yunani bernama Aristoteles. Aristoteles sendiri adalah murid filsuf Yunani yang semashur yaitu plato. Sistem klasifikasi yang diusulkan bangsa Yunani dengan Theophrastes sebagai pelopornya juga diikuti oleh kaum herbalis serta ahli-ahli botani dan nama itu terus dipakai sampai selama lebih 10 abad. Pengklasifikaan tumbuhan terutama didasarkan atas perawakan (habitus) yang golongan-golongan utamanya disebut dengan nama pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna. System klasifikasi ini bersifat dominan dari kira-kira abad ke-4 sebelum masehi sampai melewati abad pertengahan, dan selama periode-periode ini ahli-ahli botani, herbalis, dan filsuf telah menciptakan sIstem-sistem klasifikasi yang pada umumnya masih bersifat kasar, namun sering dinyatakan telah mencerminkan adanya hubungan kekerabatan antara golongan yang terbentuk.

Theophrastes sendiri yang dianggap sebagai bapaknya ilmu tumbuhan, dalam karyanya yang berjudul Historia Plantarum telah memperkenalkandan memberikan deskripsinya untuk sekitar 480 jenis tumbuhan. Dalam karya ini system klasifikasi yang diterapkan oleh Theoprastes telah mencerminkan falsafah guru dan eyang gurunya ( Aristoteles dan Plato), yaitu suatu suatu system klasifikasi tumbuhan berdasarkan bentuk dan tekstur. Selain golongan-golongan pohon, perdu, semak seperti yang disebut di atas, ia juga mengadakan pengelompokan menurut umur dan membedakan tumbuhan berumur pendek (annual), tumbuhan berumur 2 tahun (biennial), serta tumbuhan berumur panjang (perennial). Theophrastes juga telah dapat membedakan bunga majemuk yang berbatas (centrifugal) dan yang tidak berbatas (centripetal), juga telah dapat membedakan bunga dengan daun mahkota yang bebas (polipetal atau dialipetal) dan yang berlekatan (gamopetal atau simpetal) bahkan ia telah dapat mengenali perbedaan letak bakal daun yang tenggelam dan yang menumpang. Adapun yang telah dilakukan oleh theoprastes hasil klasifikasi tumbuhan yang telah diciptakan masih dianggap nyata-nyata merupakan suatu sistem artifisial.

Selama periode system habitus yang cukup panjang ini dapat dikemukakan tokoh-tokoh lain yang memainkan peran yang cukup penting dan dianggap telah memberikan saham yang cukup besar dalam perkembangan taksonomi tumbuhan antara lain:

a. DISCORIDES (50-?)

Tokoh ini adalah seorang berkebangsaan Romawi dan hidup dalam zaman pemerintahan Kaisar Nero dalam abad pertama sebelum masehi. Discorides yang rupa-rupanya tidak mengenal karya Theoprastes menyatakan pentingnya pemberian Chandra atau deskripsi orang akan dapat menggambarkan tumbuhan yang dimaksud dan menggunakannya untuk pengenalan tumbuhan. System klasifikasi ini diciptakan Dioscorides didasarkan atas manfaat dan sifat-sifat morfologi tumbuhan.

b. PLINIUS (23-79)

Hanya menghasilkan karya-karya yang merupakan kompilasi saja dari karya-karya yang telah terbit sebelumnya dan ditambahkan dengan bahan-bahan dari dongeng, takhayul, dan kepercayaan-kepercayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi secara lisan ke kalangan rakyat. Ia berpendapat bahwa semua tumbuhan di bumi ini diciptakan tuhan untuk kepentingan manusia. System klasifikasi yang diikuti Plinius adalah sistemnya Dioscorides yang telah membedakan pohon-pohonan, sayuran, tanaman obat-obatan, dan seterusnya.

Menjelang abad ke-16, bangkit lagi perhatian terhadap ilmu tumbuhan yang akan membawa perkembangan taksonomi kearah yang lain. Gambar-gambar tumbuhan yang dibuat semakin bermutu, lebih lengkap namun masih bercampur dengan data-data mengenai penggunaannya.

Dari sederetan nama-nama tokoh terkemuka dalam bidang taksonomi tumbuhan dari masa itu dapat kita sebut antara lain :

c. O. BRUNFELS (1464-1534)

Yang tergolong dalam kaum herbalis, telah menghasilkan karya tentang terna yang dihiasi gambar, yang sebagian besar merupakan bahan-bahan kompilasi dari karya-karya Theoprastes , Dioscorides, dan Plinius. Sayang , buku itu memuat banyak konsep-konsep yang keliru serta kekisruhan akibat dimasukkannya berbagai informasi yang bersumber dari cerita rakyat dan takhayul (Gugon Tuhon). Kaum herbalis terutama dianggap berjasa karena karya-karyanya yang dapat dikualifikasikan sebagai Taksonomi Deskriptif. Dalam golongan mereka ini nama-nama yang patut diketengahkan adalah:

d. J. BOCK (1489-1554) (HIERONYMUS TRAGUS)

Adalah seorang herbalis yang pernah menjadi guru, pendeta dan kemudian dokter yang mempunyai hobi ilmu tumbuhan. Ia masih menggolongkan tumbuhan menjadi terna, semak dan pohon, tetapi ia mengaku telah berupaya untuk menempatkan tumbuhan yang menurut anggotanya sekerabat dalam katagori yang sama.

e. L. FUCHS (1501-1566)

Kelahiran Bavaria (Jerman Barat), adalah seorang guru besar dalam ilmu kedokteran di Tubingen Jerman Barat. Dia terkenal dengan karya-karyanya dalam bidang ilmu tumbuhan yang benar pada masaanya.

f. R. DODONEUS (1516-1518)

Seorang dokter kelahiran Mechelen, Belgia. Dia pernah menjelajahi Prancis, Jerman dan Italia serta menjadi dokter di kota kelahirannya. Dia adalah penulis Het Cruyde Boek yang pada masanya sangat mashur.

g. M. de L’OBEL(1545-1612)

Berkebangsaan Inggris dan pernah mengadakan mengadakan perjalanan di Denmark dan Rusia. Dia memiliki sebuah kebun botani di London dan penulis sebuah karya besar tentang ilmu tumbuhan. Dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya dengan karya-karyanya yang tidak kalah menariknya tentang Taksonomi Deskriptif.

2. Periode sistem numerik

Periode ini terjadi pada permulaan abad ke 18, yang ditandai dengan sifat sistem yang murni artifisial, yang sengaja dibuat sebagai sarana pembantu dalam identifikas tumbuhan. Sistem ini tidak menggunakan bentuk dan tekstur tumbuhan sebagai dasar utama pengklasifikasian. Tetapi pengambilan kesimpulan mengenai kekerabatan antara tumbuhan.

Dalam periode ini tokoh yang paling menonjol adalah Karl Linne (Carolus Linneaus)

Dibawah bimbingan Dr. Rudbeck ia menerbitkan karyanya yang pertama kali mengenai seksualitas tumbuhan. Setelah menjadi dosen ia menerbitkan karyanya yang berjudul Hortus Uplandikus yang memuat nama-nama semua tumbuhan yang terdapat dikebunraya di Upsala, yang susunannya mengikuti sistem de Tournefort. karena jumlah tumbuhan dikebun raya tadi makin besr jumlahnya maka linneaus menerbitkaan Hortus Uplandikus edisi baru yang disusun menurut ciptaannya sendiri yang dikenal sebagai Sistema Sexsuale atau sistem seksual. Doktor Gronovius seorang dokter dan naturalis, begitu oleh Linneaus, dan Lawson menawarkan kepada Linneaus untuk membiayai penerbitan naskahnya yaitu Sistema Naturae yang memuat dasar-dasar pengklasifikasian tumbuhan hewan dan mineral. Selama tahun 1737 sewaktu dinegeri Belanda karya Linneaus yang diterbitkan berjudul Genera Plantarum dan Flora Lavonica sambil menunggu pencetakan naskah-naskah itu Linneaus diberi kesempatan oleh Clifford untuk berkunjung ke Inggris, dan sekembalinya dari Inggris selama sembilan bulan ia menyiapkan naskah Hortus Cliffortianus yang berisi jenis-jenis tumbuhan yang dipelihara dalam kebunnya Clifford selama tiga tahun di Belanda dari tahun 1737 sampai 1739 merupakan masa yang paling produktif bagi Linneaus. Kurang lebih ada 14 judul tulisannya terbit waktu itu, yang sebagian besar telah dipersiapkan ketika ia masih di Swedia.

Setelah kembali lagi ke Swedia tidak lagi terbit karyanya yang berarti dari linneaus selain spesies plantarum yang terbit 1 mei 1753. Pada tahun 1775 ia mengundurkan diri sebagai guru besar dan tiga tahun kemudian meninggal dunia setelah menderita sakit selama kurang lebih 2 tahun (10 januari 1778).

Sistem klasifikasi tumbuhan yang diciptakan oleh Linnaeus masih dikategorikan sebagai sistem artivisial. Nama Sistema Sexsuale untuk sistem yang diciptakan sebenarnya tidak begitu tepat karena pada dasarnya sistem ini tidak ditekankan pada masalah jenis kelamin, tetapi pada kesamaan jumlah alat-alat kelamin seperti jumlah benangsari. Nama-nama golongan tumbuhan yang diciptakan oleh linnaeus seperti monandria (berbenang sari tunggal), diandria (berbenangsari dua), triandria berbenangsari tiga dan seterusnya. Itulah sebabnya sistem klasifikasi tumbuhan ciptaan Linnaeus dikenal pula sebagai sistem numerik.

Ciptaan Linnaeus ini meupakan sistem yang dinilai revolusioner untuk masa itu, dan memberikan pengaruh yang lebih besar dari pada sumbangan linnaeus yang lain,dan sistem ini sengaja dirancang sebagai alat bantu dalam mengidentifikasi tumbuhan dan ia juga dianggap sebagai pencipta sistem tatanama ganda yang ia terapkan dalam bukunya Species plantarum yang diterbitkan pada tanggal 1 mei 1753 yang menjadi pangkal tolak berlakunya tatanama tumbuhan yang diakui.

Sesungguhnya linnaeus dianggap tidak tepat bila ia sebagai pencipta tatanama ganda. Sebelum linnaeus, sistem tatanama ganda telah dirintis oleh caspar bauhin, yang dalam tahun 1623 dalam bukunya pinax theatri botanici telah menerapkan sistem tatanama ganda pada tumbuhan. Karena besar jasa-jasa yang diberikan oleh linnaeus bagi perkembangan taksonomi umumnya dan taksonomi tumbuha n khususnya bagi dunia ilmu hayat linnaeus mendapatkan gelar sebagai “ bapak taksonomi” baik hewan maupun tumbuhan dan juga mendapat pengakuan dari negara yang diberikan oleh raja swedia yang mengangkat linnaeus ke jenjang bangsawan, sehingga nama karl linne diubah menjadi karl von linne. Linneaus juga berperan penting dalam taksonomi tumbuhan yang membangkitkan minat dan semangat siswa yang kemudian beberapa diantaranya menjadi tokoh seperti gurunya.

a. Peter Kalm ( 1716 – 1779)

Yaitu salah seorang murid linnaeus yang berkebangsaan swedia yaitu sebagai kolektor dan penjelajah dengan ekspedisinya ke finlandia dan rusia.

b. F. Hasselquist ( 1722 – 1752 )

Yaitu salah satu murid favrite linnaeus yang selama 2 tahun mengadakan koleksi di timur tengah. Ia mengkoleksi tumbuhan asli dari Palestina, Arab, Mesir, Suriah dan Smyrna.

c. P Forskal ( 1731 – 1760 )

Yaitu salah satu murid Linnaeus dari Finlandia yang pernah terpaksa berpakaian sebagai petani untuk menghindari penganiayaan orang-orang badui ketika mengadakan ekspedisi dari Denmark, dari koleksi Forskal inilah Linnaeus dapat mengetahui flora Mesir, terutama yag ada disekiatar Kairo.

d. C.P. Thunberg ( 1743- 1828)

Yaitu murid Linnaeus yang telah menulis dua buku flora dari sejumlah besar karya – karya ilmiah lainnya. Ia pernah mengadakan koleksi didaerah tanjung harapan di Afrika Selatan dan menemukan sekitar 300 jenis tumbuahan yang baru untuk ilmu pengetahuan.

e. J.A Murray ( 1740- 1791)

Yaitu salah seorang murid Linnaeus yang sangat pandai, yang kemudian menjadi guru besar di Universitas Goningen, Jerman barat, penerbit karya Linnaeus system vegetabilum edisi ke 13,14,dan 15. Ia juga menulis berbagai publikasi dalam bidang tumbuhan.

f. J. Roemer ( 1763- 1819)

Yairu seorang guru besar di Zurich,Swis, yang bersama schules menerbitkan karya linnaeus systema vegetbilum edisi 16.

g. CL.WILDENOW ( 1765- 1812)

Adalah guru besar dalam ilmu hayat di Universitas Berlin dan direktur kebun raya Berlin, yang bertindak pula sebagai penyunting (editor) species plantarum edisi ke-IV yang ditulis kembali dan diperluas.

h. J.Schultes (1773- 1831)

Yaitu guru besar di Wina dan di universitas lain, penulis flora austria dan bersama-sama roemer menerbitkan karya Linnaeus systema vegetabilum edisi 16.

Setelah meninggalnya linnaeus pada tahun 1783, koleksi tersebut dibeli oleh J.E.Smith (1758-1828) yang akhirnya dijual tiga kali lipat kepada himpunan Linnaeus d London (linnean society of London) yang memiliki seluruh koleksi Linneaus dan menyimpannya hingga sekarang.

3. Periode sistem klasifikasi yang didasarkan atas kesamman bentuk atau sistem alam,dari kira-kira akhir abad ke-18 sampai pertengahan abad ke-19

Menjelang berakhirnya abad ke-18 terjadi perubahan-perubahan yang revolusioner dalam pengklasifikasiaan tumbuhan. Sistem klasifikasi yang baru ini disebut “sistem alam” yaitu golongan yang terbentuk merupakan unit-unit ynag wajar (natural) bila terdiri dari anggota-anggota itu,dan dengan demikian dapat tercermin pengertian manusia mengenai yang disebut yang dikehendaki oleh alam. Secara harfiah istilah “sistem alam” untuk aliran baru dalam klasifikasi ini tidak begitu tepat karena pada hakekatnya semua sistem klasifikasi adalah sistem buatan. Untuk sitem klasifikasi yang digunakan dalam periode ini, digunakan nama “sistem alam” (natural system) dengan maksud untuk memenuhi keinginan manusia akan adanya penataan yang tepat yang lebih baik dari sistem-sistem sebelumnya.

Dalam periode ini tokoh-tokoh yang dikemukakan dalam periode ini adalah

a. M.Adanson ( 1727- 1806)

Yaitu seorang ahli tumbuhan berkebangsaan Perancis dan seorang anggota akademi ilmu pengetahuan di Universitasa Sorbonne,Paris. Yaitu ia menolak semua sistem artifisial, menggantikan dengan sistem alam, ia termasuk orang yang pertama-tama mengadakan eksplorasi tumbuhandidaerah tropika yang dalam bukunya families des plantes ia telah membedakan dan mendeskripsi unit –unit pada waktu sekarang setar dengan yang kita kenal sebgai bangsa (ordo) dan suku ( familia).

b. G.C. Oeders (1728- 1791)

Seorang ahi tumbuhan berkebangsaan denmark yang antara lain telah menulis flora Sleeswijk Holstein dan Denmark.

c. J.R. de Lamarck (1744-1829)

Seorang ahli ilmu hayat berkebangsaan Perancis,yang bagi para ahli taksonomi tumbuhan dikenal sebagai penulis flora francoise yang ditulis berupa kunci untuk pengidentifiasian tumbuh-tumbuhan diperncis, dan Lamarck juga dikenal sebgai penulis fhilosophie zoologique dan echele animale dan dianggap sebagai slaha seorang perintis lahirnya teori evolusi. Teorinya dikenal dengan nama “lamarckisme”, yang menyatakan perubahan lingkungan yang dapat mengubah struktur organisme, menimbulkan yang herediter sering menjadi bahan ejekan dikalangan ahli ilmu hayat.

d. De Jussieu bersaudara Antoine de jussie ( 1686- 1758)

Benard de jussie (1699-1776), joseph de jussieu (1704-1779). Tiga saudara de jussie yang merupakan putera-puteri seorang apoteker di Lyon. Perancis. Yang ketiga-tiganya kemudian menjadi ahli taksonomi tumbuhan yang bernama Antoine dan Benard adalah murid Pierre Magnol (1638-1715) yang menjadi guru besar dan direktur kebun raya di mompellier. Perancis. Benard menyusun kembali klasifikasi menurut sistem ciptaannya sendiri,tetapi banyak kemiripannya dengan sistem linnaeus yang ditetapkan dalam karyanya yang berjudul fragmenta methodi naturalis dan sistem ray dalam bukunya methodue plantarum benard membagi tumbuhan bangsa dalam tumbuhan biji tunggal dan tumbuhan biji belah, dan diadakan pembagian lebih lanjut mengenai kedudukan bakal buah, ada atau tidaknya mahkota bunga,dan ada tidaknya pelekatan daun-daun mahkota bunga.

e. Joseph (1709-1779)

Yang termuda dari ketiga De jussieu bersaudara ini tinggal bertahun-tahun di Amerika Selatan untuk studi dan pembuatan koleksi.

f. All de Jussieu (1748-1836)

Telah mempublikasikan karyanya yang pertama yang memuat suatu sistem klasifikasi tumbuhan yang baru. Saran klasifikasi tumbuhan dari De jussie adalah sebagai berikut:

i. Acotyledoneae terdiri atas satu kelas dengan 6 suku fungi, algae, hepaticae, musci, filices, njades.

ii. Monocotyledoneae terdiri atas 3 kelas dengan 16 suku .

iii. Dicotyledoeae yang terbagi dalam

  • · Monoclinae yang dibag lagi dalam 3 golongan

a. apetalae terdiri atas 3 kelas dengan 11 suku

b. monopetalae terdiri atas 4 kelas dengan 25 suku

c. polypetalae terdiri atas 3 kelas dengan 57 suku

  • · Diclinae terdiri atas 1 kelas dengan 5 suku

All. de jussie menjadi guru besar yang dikenal sebagai DE CANDOLLE, nama ini merupakan nama keluarga yang tiga generasi berturut-turut menghasilkan tokoh-tokok yang sangat mashur dalam dunia ilmu tumbuhan, khususnya taksonomi. Mereka itu adalah :

a. Augustin Pyramus De Candolle (1778-1841)

Yang adalah murid R.L Desfontaines (1752-1833 yang bertahun-tahun menjabat Guru Besar ilmu tumbuhan di Paris dan direktur Kebun Raya di sana, penulis Flora Atlantica dan berbagai publikasi lainnya. DE CANDOLLE sendiri kemudian menjadi Guru Besar di Montpellier (Prancis) dan akhirnya di Geneva (swiss). Ia menjadi sangat mashur sebagai pemrakarsa dan penulis sepuluh jilid pertama sebuah karya monumental yang berjudul Prodromus SystematisNatural Regni Vegetabilis, previsi edisi ke-III karya Lamarck Flora Francoise, dan pencipta system klasifikasi tumbuhan disebut menurut namanya (system de Candolle), yang banyak hal mirip sistemnya de Jussieu, tetapi jauh lebih luas. Ia juga berpendapat, bahwa sifat-sifat anatomi dapat dijadikan dasar klasifikasi yang lebih kuat dari pada sifat-aifat fisiologi. Garis besar system klasifikasi de Candolle adalah sebagai berikut :

I. Kelas Dicotyledoneae (exogenae)

1. Anak kelas thalamiflorae, yang terdiri atas 4 kohor dan 51 marga

2. Anak kelas Calicyflorae, yang terdiri atads 64 marga

3. Anak kelas Corolliflorae dengan 23 marga

4. Anak kelas Monochlamydeae dengan 20 bangsa

II. Kelas Monocotyledonea (Endogenae)

1. Anak kelas Phanerogamae dengan 21 marga

2. Anak kelas Cryptogamae dengan 5 bangsa

III. Kelas Acotyledonae (Cellulares)

1. Anak kelas Foliaceae, yang mencakup Musci dan Hepaticae.

2. Anak kelas Aphyllae, yang meliputi Lichenes, HIpoxyla, Fungi dan Algae.

b. Alphonso De Candolle (1806-1893)

Anak Augustin de Candolle yang menyelesaikan tugas ayahnya, sehingga Prodromus yang tersisa itu ditulis oleh spesialis-spesialis dengan Alpohso de candolle sebagai penyuntingnya. Ia sendiri menulis jilid pertama buku-buku Suites au Prodromus dan penyunting kelima jilid buku-buku yang merupakan kelanjutan Prodromus yang diprakarsai ayahnya.

c. Casimir De Candolle (1838-1918)

Adalah anak Alfonso yang menulis berbagai monografi antara lain tentang Meliaceae dan Piperaceae, dan bertindak sebagai editor untuk menyrlesaikan keempat jilid Suites au Prodromus yang masih tersisa.

d. Robert Brown (1773-1858)

Adalah kolektor tumbuhan dan penulis publikasi yang penting. Sekalipun ia sendiri tidak menciptakan suatu system klasifikasi, tetapi karya-karyanya mempunyai pengaruh yang besar terhadap system-sistem klasifikasi yang diciptakankemudian. Ia telah menunjukan bahwa Gymnospermae adalah golongan tumbuhan yang ditandai dengan adanya bakal biji yang telanjang dan harus dipisahkan dari angiospermae. Ia juga orang pertana yang menjelaskan morfologi bunga dan penyerbukan pada asclepiadeaceae dan Polygalaceae. Ia pun dikenal sebagai penemu suatu fenomenon yang hingga sekarang kita kenal sebagai “gerakan Brown”

e. John Llindley (1799-1865)

Adalah Guru Besar ilmu Tumbuhan di London. Ia sangat tenar dengan ahli Anggerik. Ia mengusulkan suatu system klasifikasi yang didasarkan atas aspek-aspek terbaik yang ia ambil dari para pendahulunya. System Lindley merupakan system alam yang pertama yang secara luas digunakan Inggris dan Amerika, antara lain juga merupakan system klasifikasi alam yang paling komprehensif yang ditulis dalam bahasa inggris.

f. Brongniart (1801-1847)

Adalah Guru Besar ilmu Tumbuhan dan anggota Akademik Ilmu Pengetahuan di Paris dan merupakan seorang ahli paleobotani dan taksonomi. Sebagai penulis sejumlah besar karya-karya dalam ilmu tumbuhan, ia antara lain mengusulkan suatu system klasifikasi tumbuhan sebagai berikut :

I. Cryptogamae

1. Amphigenes (Algae, fungie, lichenes)

2. Aerogenes (Musci, Cryptogamae beberkas angkutan dan characeae)

II. {Phanerogamae)

1. Monocotyledonae

b. Perispermae

c. Aperispermae

2. Dicotyledonae

A. Angiospermae

a) Gamopetalae

b) Dialypetalae

B. Gymnospermae

Letak kelemahan system Brongniart ini adalah penempatan angiospermae dan gymospermaedalam lingkungan Dicotyledonae

g. St. L. Endlicher (1804-1849)

Adalah Guru besar Ilmu Tumbuhan, Direktur Kebun Raya dan Museum Botani di Wina. Dari sekian banyak publikasinya, ia tercatat sebagau salah seorang penganjur system alam yang termuat dalam bukunya Genera Plantarum yang memuat 8835 marga yang 6235di antaranya adalah dari tumbuhan berberkas angkutan. System klasifikasinya yang termuat dalam General Plantarum itu terbit kira-kira pada masa yang bersamaan dengan terbitnya system bronkniart, dan dianggap sebagai salah satu sumbangan yang besar dalam sejarah klasifikasi tumbuhan. Endlicher mengklasifikasikan tumbuhsn sebagai berikut :

Region I Thallophyta

Sectio 1. Protophyta (Algaedan Lichenes)

SEctio 2. HYsterophita (fungi)

Regiopn II Cormophyta

SEctio 3. Acrobrya

Kohor 1. Acrybrya anophyta (Hepaticae dan Musci) Kohor 2. Acrybrya protophyta (calamariae, felices,

hidropterides)

Kohor 3. Acrobrya Hysterophyta (Rhizantheae)

Sectio 4. Ampibrya (Monocotiledonae)

Sectio 5. Acramphibrya

Kohor 1. Gymnospermae

Kohor 2. Apetalae

Kohor 3. Gamepetalae

Kohor 4. Dialypetalae

h. G. Benmtham (1800-1884) dan J. D Hooker (1817-1911)

George Bentham pada mulanya adalah seorang amatir, tetapi setelah mencapai usia separuh baya telah memberikan sepenuh perhatiannya kepada Ilmu taksonomi tumbuhan. Ia menjadi ahli taksonomi yang sangat mashur, disamping itu juga ahli bahasa dan menguasai bahasa latin dengan baik, dan penulis berbagai karya dalam bidang taksonomi tumbuhan, antara lain Flora of Australia, hongkong, dan nomografi-monografi dunia untuknsejumlah suku seperti Polygonaceae, labiatae, dll.SS

5. Periode Sistem Filogenetik dari Pertengahan abad ke 19 hingga sekarang

Teori evolusi, teori desendensd atau teori keturunan seperti yang diciptakan oleh darwin merupakan suatru teori hingga sekarang oleh sebagian orang terutama tokoh agama masih dianggap kontroversial dan tetap ditentang kendati ajaran itu tetap diterima dan cepat tersebar luas dikalangan kaum ilmuan yang begitu fanatik terhadap teori ini sampai ada yang menyatakan, bahwa “ evolusi bukannya teori lagi, tetapi adalah suatu aksioma yang tidak perlu diragukan kebenarannya, dan oleh krenanya tidak perlu diperdebatkan lagi “.

Sistem klasifikasi dalam periode ini berupaya untuk mengadakan penggolongan tumbuhan yang sekaligus mencerminkan urutan – urutan golongan itu dalam sejarah perkembangan filogenetiknya dan demikian juga menunjukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan yang satu dengan yang lain. Jadi dalam klasifikasi ini dasar yang digunakan adalah “filogeni” dan dari sini lahirlah nama “sistem filogenetik” kenyataanya, bahwa kemudian muncul sistem klasifikasi yang berbeda, membuktikan bahwa persepsi dan interpretasi para ahli biologi mengenai yang disebut filogeni itu masih berbeda – beda.

Contoh tokoh – tokoh ahli taksonomi tumbuhan sebagai berikut :

a. Alexander Braun (1805 – 1877)

Merupakan seorang ahli tumbuhan yang dikenal sebagai pakar morfologi dan pengenal baik “Flora Eropa Tengah”. Sebagai pelopor sistem filogenetik ia membedakan tumbuhan seperti dibawah ini :

I. Tingkat Briophyta

1. Kelas Thallodae (Algae, Lichenes, Fungi)

2. Kelas Thallophyllodae (Chorinae, Muscinae)

II. Tingkat Cormophyta (Felices)

III. Tingkat Anthophyta

a. Bagian besar Gymnospermae

b. Bagian besar Angiospermae

1. Kelas Monocotyledonae

2. Kelas Dicotiledonae

1e. Apetalae

2e. Sympetalae

3e. Eleutheropetalae

b. A.W. Eichler (1839 – 1887)

Seorang ahli tumbuhan yang sangat termashur karena publikasinya melalui diagram – diagram bunga, dan editor Flora Braziliensis yang ditulis oleh von Martius (1794 – 1868), yang waktu menjadi guru besar di Munich pernah mengambil Eichler sebagai asitennya. Eichler juga pernah menjadi penulisbab tentang Coniferaedalam edisi pertama buku Die Naturlichen Pllanzen familienyang diterbitkan oleh engler (1844 – 1930) dan K. Prantl. Klasifikasi alam tumbuhan menurut Eichler adalah sebagai berikut :

A. Crytogamae

I. Afdeling Thallophyta

1. Kelas Algae

2. Kelas Fungi (sebagai kelompok demikian pula Lichenes)

II. Afdeling bryophyta

III. Afdeling Pterydophyta

B. Phanerogamae

I. Afdeling Gymnospermae

II. Afdeling Panerogamae

1. Kelas Monokotiledoneae

2. Kelas Dikotiledonae

c. Adolp Engler (1844-1930)

Merupakan ahli taksonomi tumbuhan yang berkebangsaan Jerman yang sangat termashur, penulis atau editor sejumlah karya-karya dalam taksonomi yang sangat penting, antara lain Die Naturlichen Pflanzenfamilien yang meliputi lebih dari 20 jilid dari bersama-sama dengan K. Prantl. Sistem engler membagi alam tumbuhan dalam sejumlah Afdeling yang garis-garis besarnya sebagai berikut :

I. Afdeling Schizophyta

II. Afdeling Phytosarcodyna

III. Afdeling Flagellatae

IV. Afdeling Diniflagellatae

V. Afdeling Bachilariophyta

VI. Afdeling Conjugate

VII. Afdeling Clorophyceae

VIII. Afdeling Charophyta

IX. Afdeling Phaeophyceae

X. Afdeling Rhodophyceae

XI. Afdeling Eumycetes

XII. Afdeling embryophyta asiphonogama

1. Sub Afdeling Bryophyita

2. Sub Afdeling Pteridophyta

XIII. Afdeling Embryophyta siphonogama

1. Sub Afdeling gymnospermae

2. Sub Afdeling Angiospermae

a. Kelas Monocotiledoneae

b. Kelas Dicotyledoneae

Salah satu penyebab mengapa engler diterima secara luas oleh ahli – ahli tumbuhan ialah karena engler dan Plantl dalam bukunya Die Naturlichen Pflanzenfamilien menerapkan sitemnya untuk seluruh tumbuhan mulai dari Algae sampai kepada Spermatophyta. Engler berpendapat bahwa Monocotiledoneae lebih primitif dari pada Dicotiledoneae, dan bahwa Orchidaceae (anggrek) lebih maju dari pada Gramineae (rumput).

d. Charles E. Besseu (1845 – 1915)

Menjadi orang pertama yang menyajikan suatu sistem klasifikasi secara filogenetik. Ia tidak dapat menrima hipotesi – hipotesisnya Eichler dan Engler, dan sebagai ahli ilmu tumbuhan sangat dipengaruhi masalah asalnya jenis dan teori evolusi seperti yang dikemukakan oleh darwin dan wallace. Pada umunya sistem Bessey adalah seperti sistemnya Benthan dan Hooker yang ditatakembali dengan menerapkan asas-asas evaluasi dengan mengubah istilah “cohor” menjadi “bangsa” (ordo), “orders” menjadi “suku” (familia).

e. Richard Wettstein (1862 – 1831)

Salah seorang guru besar ilmu tumbuhan di Winadimana dalam sistem klasifikasinya menggunakan istilah “stamm” untuk kategori tertinggi barangkali sering menggunakan kata “divisi”. “Abteilung” untuk bagian “stamm” yang barangkali dapat dinamakan sekarang dengan “anak divisi”. Selain itu dia juga masih menggunakan istilah “unter abteilung” yang sekarang sukar dicari padananya.

f. Alfred B. Rendle (1865 – 1939

Ia terkenal bukan hanya studinya mengenai Gramineae, Oricidaceae, Najadaceae tetapi juga karena kepemimpinanyabertalian dengan penyusuan peraturan-peraturan pemberian nama secar internasional. Ia juga menulis Classification of Flowering Plants yang terdiri atas dua jilid, yang memuat sistem kjlasifikasinya yang pada dasarnya mengikuti sistemnya Engler dan Prantl. Sistem ciptaan Rendle lebih merupakan sistem filogenetik modern dalam arti yang sesungguhnya. Seperti Engler dan Plantl, ia juga berpendapat bahwa Monocotiledoneae adalah golongan paling primitif dibandingkan dengan Dicotiledoneae.

g. Karl C. Mets (1866 – 1944)

Metode penetuan jauh dekatnya hubungan kekerabatan antar tumbuhan yang dikembangkan Metz dan dibantu oleh Ziengenpix ini timbul dari anggapan bahwa setiap jenis tumbuhan mengandung protein yang pas bagi jenis itu dan timbul lain yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan jenis itu di anggap mempunyai protein yang sejenis yang dpat dibuktikan melalui reaksi serologi atau teori serodinostik. Metode ini ternyata berkembang pesat dalam fiorlogi dan lazim diterapkan dalam mengidentifiikasi virus. Penerpannya dalam duniaa tumbuhan adlah sebagai berikut, mulai dari suatu jenis tumbuhan yang telah diketahui identifikasinya diakstrasi protein yang dianggap karasteristik untuk jenis itu. Hsil ekstraksi itu disuntikan sebagai antigen kelam darah marmot atau kelinci, yang dengan dimasukinya ndengan benda asing itu dalam serum darahnya akan membentuk antibodi.

Jelas kiranya bahwa metode ini merupakan metode yang cukup rumit yang tidak dikuasai oleh rata-ratanya ahli biologi, hingga aspek ini tidak begitu banyak oleh ahli-ahli taksonomi tumbuhan yang tidak memiliki latarbelakang pendidikan kimia yang kuat. Namun demikian, dikalangan ahli-ahli farmasi, melaui studi formakognosi, fitokima dan lain-lain, terutama untuk menpatkan bahan-bahan kimia dengan tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai pengobatan.

h. Hans Halliers (Johan Gottfried Hallier) (1868 – 1932)

Diantara sekian banyak publikasinya, termuat sistem filogenetik ciptaanya, yang masih berdasarkan atas asas-asas filetik seperti yang dilakukan oleh Bessey, namun ia masih banyak menggunakan hasil-hasil penelitian dalam paleobotani, anatomi, serologi, dan antogeni. Ia menolak konsep Engler mengenai bunga yang masih dianggap primitif tetapi memilih tipe strobiloid sebagai tipe bunga yang primitif. Penangananya pada Monocotiledoneae tidak bgitu cermat terhadap yang ia lakukan pada Dicotiledoneae.

i. August A. Pulle (1878)

Ia menggolongkan tumbuhan berbiji dengan nama Spermatophyta, tetapi menolak konsep engler yang membagi divisi itu menjadi dua anak divisi yaitu Monocotiledoneae dan Dicotiledoneae.

j. Carl Skottberg (1880)

Sistem skottberg berbeda baik dengan pendapat Engler maupun Wattstein, btetapi menerima baik bebrapa pendapat Bentham dan Bessei. Seperti ia tunjukan pada penetapan Amentiferae setelah Roasales, dan berbeda pula dengan sistem Pulle dengan memepertahankanb Primulales dalam Sympatalae.

k. John Hutchinson (1884 – 1972)

Sistem klasifikasi Hutchinson menujukan kaitan – kaitan yang lebih dekat dengan sistemnya Bentham dan Hooker serta sistemnya Bessey dari pada Engler. Walaupun sistem Hutchinson merupkan sistem klasifikasi tumbuhan yang termasuk sistem filogenetik paling mutakhir dan cukup terperinci tetapi hanya terbatas pada tumbuhan berbiji saja dan dari golongan ini hanya sebagain yaitu angiospermae.

6. Sistem Klasifikasi Kontemporer

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dalam abad ke-20 ini pasti akan berpengaruh pula terhadap perkembangan ilmu taksonomi tumbuhan. Kecenderungan untuk mengkuantitatifkan data penelitian dan penerapan matematika dalam pengolahan data yang diperoleh telah menyusup pula ke dalam ilmu-ilmu sosial yang semula tak pernah atau belum memanfaatkan matematika serta belum mempertimbangkan pula kemungkinan-kemungkinanyang dapat di capai dengan penerapan pendekatan kuantitatif matematik.

Perkembangan teknologi, khusus nya di bidang elektronika yang dalam abad nukluer maju dengan pesat ini, telah pula menjamah bidang taksonomi tumbuhan, yang sejak beberapa dasawarsa belakangan ini juga sudah di jalari “penyakit” penerapan metode penelitian kuantitatif yang pengelohan datanya memanfaatkan jasa-jasa komputer pula. Kumputer telah digunakan secara luas dalam pengembangan metode kuantitatif dalam klasifikasi tumbuhan, yang melahirkan bidang baru dalam taksonomi tumbuhan yang dikenal sebagai taksonomi numerik,taksometri atau taksonometri.

Pengolahan data secara elektronik (EDP—Elektronic Data Processing), juga sudah diterapkan untuk berbagai prosedur dalam penilitian taksonomi antara lain dalam penyimpanan dan pengambilan laporan-laporan atau informasi.

Taksonomi numerik didefinisikan sebagai metode evaluasi kuantitatif mengenai kesamaan atau kemiripan sifat antar golongan organisme dan penataan golongan-golongan itu melalui suatu analisisyang dikenal sebagai”analisis kelompok” (cluster annalysis) kedalam katagori takson yang lebih tinggi atas dasar kesamaan-kesamaan tersebut. Peranan komputer adalah unutk mengerjakan perbandingan kuantitatif antara organisme mengenai sejumlah besar ciri-ciri secara simultan.

Taksonomi numerik didasarkan atas bukti-bukti fenetik, artinya didasarkan atas kemiripan yang diperlihatkan objek studi yang diamati dan di catat, dan bukan atas dasar kemungkinan-kemungkinan perkembangan filogenetiknya. Kegiatan-kegiatan dalam taksonomi numerik bersifat empirik oprasional, dan data serta kesimpulannya selalu dapat diuji kembali melalui obsevarsi dan eksperimen. Langkah-langkah yang perlu diambil dalam melaksanakan kegiatannya, meliputi berturut-turut :

  1. Pemilihan objek studi, yang dapat berupa individu, galur, varietas, jenis, dst. Yang penting diperhatikan ialah unit-unit yang dijadikan objek-objrk studi harus benar mewakili golongan organisme yang sedang di garap.
  1. Pemilihan ciri-ciri yang akan diberi angka (score). Jumlah ciri yang dipilih untuk pemberian angka harus cukup banyak. Sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) ciri, yang masinhg-masing diberi kode dan selanjutnya disusun dalam bentuk tabel atayu matriks.
  1. Penguksran kemiripan. Kemiripan ditentukan dengan membandingkan tiap ciri pada masing unit taksonomi operasional. Banyaknya atau besanya kesamaan diberi angka yang dinyatakan dalam %.
  1. Analisis kelompok (cluster analysis). Matriks kemiripan kemudian didata kembali sehingga unit-unit taksonomi operasional yang mempunyai kemiripam bersama yang paling tinggi dapat dikumpulkan menjadi satu. Ini dapat dilakukan dengan berbagai cara yang memungkinkan penentuan takson atau kelompok yang sekerabat. Kelompok-kelompok itu disebut fenon dan ditata secara hirerki dalam suatu diagram yang disebut dendogram.

Diskriminasi. Metode yang diterapkan dalam taksonometri itu dalah metode morfologi komparatif yang secara konfesional telah lazim digunakan, dengan perbedaan dalam taksonomi numerik dimanfaatkan bantuan peralatan yang canggih tyaitu komputer dan alat yang digunakan untuk menghitung lainnya.

Takson dan Kategori
Dalam Kode Internasional Tatanama Tumbuhan (KITT) Bagian II Peraturan dan Saran-Saran Bab I Tingkat Takson dan Istilah untuk Menyebutnya Pasal 1, secara eksplisit, bahwa yang dimaksud Takson adalah setiap golongan (unit) taksonomi tingkat yang mana pun. Artinya takson-takson itu dibedakan dalam tingkat yang berbeda-beda, yang berarti pula bahwa takson-takson itu dapat ditata menurut urut-urutan tingkatnya. Pasal berikutnya dalam KITT menyebutkan bahwa ada 7 tingkat takson yang utama, yang diurutkan dari yang terbesar sampai yang terkecil, seperti pada tabel berikut (Perbandingan dengan takson hewan) :


Istilah jenis, marga, suku, dan seterusnya merupakan istilah untuk menunjukkan takson menurut tingkatnya, yang dalam taksonomi disebut pula dengan istilah kategori. Namun istilah kategori lazim digunakan dalam taksonomi hewan, dan jarang kita jumpai dalam taksonomi tumbuhan.
Takson (unit) dasar dalam taksonomi tumbuhan. Pada masa lampau yang dijadikan unit dasar dalam klasifikasi tidak sama dengan unit dasar yang dipakai sekarang. Dari karya pakar masa lampau dapat disimpulkan, bahwa unit dasar yang mereka pakai adalah marga (genus), yang terbukti dari judul karya mereka yang semua hampir sama, yaitu Genera Plantarum (marga-marga tumbuhan), seperti karya-karya Linnaeus, Endlicher, Bentham & Hooker, semuanya berjudul Genera Plantarum. Pada waktu sekarang keadaannya telah berubah, KITT Bagian II, Bab I Pasal 2 menyebutkan seara eksplisit, bahwa takson jenis (species) adalah yang merupakan unit dasar. Sebagai contoh klasifikasi pada Oryza sativa (padi):

Regnum (dunia) : Tumbuhan
Divisio (divisi) : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Class (kelas) : Monocotyledoneae
Ordo (bangsa) : Poales (Glumiflorae)
Familia (suku) : Gramineae
Genus (marga) : Oryza
Species (jenis) : Oryza sativa

Identifikasi dan Sistem Identifikasi
Indentifikasi atau “pengenalan” merupakan kegiatan untuk menetapkan identitas (“jati diri”) suatu tumbuhan, yang dalam hal ini tidak lain daripada “menentukan namanya yang benar dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi”. Istilah identifikasi sering juga digunakan istilah “determinasi”. Setiap orang yang akan mengidentifikasi suatu tumbuhan selalu dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu :
1. tumbuhan yang akan ia identifikasi itu belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan, jadi belum ada nama ilmiah-nya, juga belum ditentukan tumbuhan itu berturut-turut dimasukkan dalam kategori yang mana.
2. tumbuhan yang akan ia identifikasi itu sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan, sudah ditentukan nama dan tempatnya yang tepat dalam sistem klasifikasi.

Identifikasi tumbuhan yang belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan harus tidak boleh menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku seperti dimuat dalam KITT. Nama takson baru itu selanjutnya harus dipublikasikan melalui cara-cara yang diatur pula oleh KITT. Prosedur identifikasi tumbuhan yang untuk pertama kali akan diperkenalkan oleh dan ke dunia ilmiah itu memerlukan bekal yang lazimnya hanya dimiliki oleh mereka yang berpendidikan ilmu hayat, khususnya taksonomi tumbuhan. Oleh karena itu pekerjaan identifikasi yang pertama kali itu hanya dilakukan oleh ahli-ahli yang bekerja dalam lembaga penelitian taksonomi tumbuhan (herbarium), jarang sekali oleh pihak-pihak lain di luar mereka.
Untuk identifikasi tumbuhan yang tidak kita kenal tetapi telah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan, dapat dilakukan dengan cara :
1. Menanyakan identitas tumbuhan tersebut kepada seseorang yang kita anggap ahli dan kita perkirakan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan kita.
2. Mencocokkan dengan spesimen herbarium yang telah diidentifikasikan.
3. Mencocokkan dengan candra dan gambar-gambar yang ada dalam buku-buku flora atau monografi.
4. Menggunakan kunci identifikasi dalam identifikasi tumbuhan.
5. Menggunakan Lembar Identufikasi Jenis (“Species Identification Sheet”).

Tatanama Tumbuhan
Nama biasa dan nama ilmiah
Pada mulanya nama yang diberikan kapada tumbuhan itu adalah dalam bahasa induk orang yang memberi nama. Dengan demikian satu jenis tumbuhan dapat mempunyai nama yang berbeda-beda sesuai dengan bahasa orang yang memberikannya. Misalnya pisang dalam bahasa Indonesia oleh orang Inggris atau Belanda dinamakan banana, orang Jawa Tengah menyebutnya gedang, sedang orang Jawa Barat oleh orang-orang Sunda pisang dinamakan cauk. Nama demikian itu, yang berbeda-beda menurut bahasa yang memberikan nama tadi, dalam taksonomi tumbuhan disebut nama biasa, nama daerah, atau nama lokal atau “common name”. dengan semakin berkembangnya ilmu taksonomi tumbuhan kemudian dikenal yang disebut “nama ilmiah” (“scientific name”).
Lahirnya nama ilmiah disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
1. Beranekaragamnya nama biasa, berarti tidak adanya kemungkinan nama biasa itu diberlakukan secara umum untuk dunia internasional, mengingat adanya perbedaan dalam setiap bahasa yang digunakan, sehingga tidak mungkin dimengerti oleh semua bangsa.
2. Beranekaragamnya nama dalam arti ada yang pendek, ada yang panjang, bahkan ada yang panjang sekali, misalnya nama Sambucus, Sambucus nigra (sambucus hitam), Sambucus fructu in umbello nigro (Sambucus dengan buah berwarna hitam yang tersusun dalam rangkaian seperti payung), atau Sambucus caule ramoso floribus umbellatus (Sambucus dengan batang berkayuyang bercabang-cabang dan bunga yang tersusun sebagai payung). Nama-nama itu diberikan kepada tumbuhan tanpa adanya indikasi nama-nama tadi dimaksud sebagai nama jenis, nama marga, atau nama kategori takson yang lain lagi.
3. Banyaknya sinonima (dua nama atau lebih) untuk satu macam tumbuhan, seperti misalnya nama-nama dalam bahasa Jawa: tela pohong, tela kaspa, tela jendral, menyok, untuk katela pohon,dan juga banyak homonima, seperti misalnya dalam bahasa Indonesia lidah buaya yang digunakan untuk marga Aloe dan Opuntia.
4. Sukarnya diterima oleh dunia internasional, bila salah satu bahasa bangsa-bangsa yang sekarang masih dipakai sehari-hari dipilih sebagai bahasa untuk nama-nama ilmiah.

Bila kedua macam nama yaitu nama biasa dan nama ilmiah tersebut kita bandingkan, akan kita temukan perbedaan-perbedaan seperti pada tabel berikut :


Suatu takson dengan sirkum-skripsi, posisi, dan tingkat tertentu hanya mempunyai satu nama yang benar, kecuali dalam hal-hal yang dinyatakan secara khusus.

Kaitan Taksonomi dengan Cabang-Cabang Ilmu Lain
Berdasarkan bentuk kaitan antara cabang-cabang ilmu lain dengan taksonomi tumbuhan, dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok, yaitu:
1. Ilmu atau cabang-cabang ilmu yang merupakan syarat mutlak sebagai bekal untuk dapat mendalami taksonomi tumbuhan. Ilmu atau cabang-cabang ilmu demikian itu disebut prasyarat (prerequisite) yang harus dikuasai dulu oleh seseorang sebelum memulai dengan mempelajari ilmu yang lain. Cabang-cabang ilmu yang dapat dianggap merupakan prasyarat untuk mempelajari taksonomi tumbuhan yaitu Tatanama Tumbuhan, Morfologi-Terminalogi, dan Bahasa Latin.

2. Ilmu atau cabang-cabang ilmu yang oleh seseorang diperlukan agar ia dapat lebih memahami berbagai aspek ilmu yang sedang dipelajari itu dengan lebih baik. Ilmu atau cabang-cabang ilmu demikian itu lazim disebut sebagai penunjang, yang sama halnya dengan ilmu yang merupakan prasyarat seyogyanya dikuasai lebih dulu sebelum melangkah untuk mempelajari suatu bidang ilmu tertentu. Ilmu atau cabang-cabang ilmu yang diperlukan sebagai penunjang untuk mendalami taksonomi tumbuhan yaitu Filogeni (mempelajari sejarah evolusioner suatu takson yang berupaya untuk menerangkan asal dan perkembangan takson) dan Evolusi, Ekologi (Ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungnya) dengan dan Fitogeografi (ilmu yang mempelajari hubungan keruangan antara takson tumbuhan di muka bumi atau dikatakan juga ilmu yang mempelajari tentang distribusi tumbuhan di muka bumi), dan Genetika.

3. Ilmu atau cabang-cabang ilmu yang bila dimiliki oleh seseorang dalam mempelajari suatu bidang ilmu tertentu akan dapat menambah atau lebih mendalam wawasannya, yaitu Geologi, Ilmu Tanah, dan Iklim, Matematika, Statistika, dan Komputer.

Daftar Pustaka

1. R.D. Vidyarthi and S.C. Tripathi. 2002. A Texbook of Botany. S. Chand & Company Ltd. Ram Nagar, New Delhi. India.

2. Gembong Tjitrosoepomo. 2005. Taksonomi Umum (Dasar-dasar taksonomi tumbuhan). Cetakan ketiga. Gadjah Mada University Press. Jogyakarta.

3. Supraptono Djajadirana. 2000. Kamus Dasar Agronomi. Cetakan pertama. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.

TIGA HAL PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN OLEH PENDIDIK

TIGA HAL PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN OLEH PENDIDIK

(Gaya Pribadi, Kecerdasan, dan Gaya Belajar Peserta Didik)

Tutut Handayani*

Abstract: A person who has knowledge to be shared is a useful person. We call him a teacher. S/he is really important and has great influence to the next generation. S/he will be a role model for his/ her students to be success. Therefore, there are three things to be considered. They are personal style, intelligence, and students’ learning style. By considering those three things, hopefully the learners can reach their success.

Keywords: teachers, learners, personal style, intelligence, learners’ learning style

Pendahuluan

Pilihan menjadi seorang pendidik profesional adalah untuk membedakan dari para pendidik lainnya yang tidak menjadikannya sebagai sebuah “kesenangan” hanya sekedar profesi. Karena pekerjaan mendidik adalah pekerjaan yang mulia dan dilakukan oleh semua orang. Bahkan Allah SWT Sang Pencipta adalah pendidik yang Agung. Dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman : “Bacalah! Dan Rabb Mu Yang Maha Mulya. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (pena)” (Q.S.96:3-4).

Guru yang profesional harus mengenal semua siswanya secara pribadi. Dalam konsep pelatihan, seorang trainer/instruktur harus mampu mengintertain semua peserta, sehingga pelatih harus mengenal semua peserta didik dengan baik, apalagi dengan pendidik. Seorang  pendidik/guru yang profesional harus mengenal semua peserta didiknya dengan baik (Mengenal secara pribadi).

Mengenal secara pribadi maksudnya adalah mengenal gaya pribadi peserta didik, kecerdasan yang dimiliki dan gaya belajar peserta didik, maka sebagai pendidik kita dapat melakukan pendekatan secara pribadi.

Mengenal Gaya Pribadi Peserta Didik

Gaya pribadi setiap manusia adalah unik, bahkan sangat unik. Masing-masing orang berbeda dengan yang lainnya. Sehingga setiap orang harus dihadapi dengan cara yang khas, sesuai dengan gayanya masing-masing.

Secara umum para psikolog perilaku seperti Jung, membagi manusia atas beberapa tipe pribadi. Jung adalah orang yang pertama merumuskan tipe kepribadian dengan istilah extrovertion dan introvertion. Serta mengemukakan empat fungsi kepribadian manusia yang disebut sebagai fungsi thinking, feeling, sensing, dan intuiting. kemudian oleh para tokoh psikolog lainnya ditambahkan dengan fungsi judgment dan perception (Zulfiandri, 2007).

Berikut penjelasannya :

  1. a.                  Orientasi Ekstrover, ekstrover merupakan suatu kecenderungan yang mengarahkan kepribadian lebih banyak keluar daripada ke dalam diri sendiri. Seorang ekstrover memiliki sifat sosial, lebih banyak berbuat daripada berkontemplasi (merenung dan berfikir). Ia juga adalah orang yang penuh dengan motif-motif yang dikoordinasi oleh kejadian-kejadian eksternal. Standar dunia luar sangat berpengaruh bagi seorang ekstrover.
  2. b.                  Introver adalah suatu orientasi kedalam diri sendiri, maksudnya seorang introver adalah orang yang cenderung menarik diri dari kontak sosial, minat dan perhatiannya lebih terpokus pada fikiran dan pengalamannya pribadi.
  3. c.                   Fungsi Pengindra, setiap orang memiliki pikiran yang terang mengenai bagaimana pengindra berfungsi dan bekerja. Orang-orang yang menggunakan fungsi pengindra umumnya percaya, menghargai, dan mengarahkan energi pada saat sekarang dan di sini. Perhatian kepada saat sekarang, ketidaksabaran dengan penundaan, dan sensitifitasnya pada seluk beluk fakta, menjadikan orang pengindra sebagai orang yang meyakinkan. Ia siap berdebat untuk mempertahankan pokok pikirannya atau rencana kegiatan yang ia lakukan.
  4. d.                  Fungsi Intuitif adalah suatu jalan merasakan, cara membawakan informasi kepada budi dan jiwa. Fungsi ini merupakan suatu fungsi merasakan yang muncul dengan sendirinya secara alamiah seperti fungsi pengindera. Fungsi ini digerakkan dari alam bawah sadar manusia. Anak-anak berfungsi intuitif gampang untuk membaca. Pikiran mereka dikuasai oleh fantasi, cerita-cerita fiktif dan legenda. Para guru menemukan bahwa para murid yang berpreferensi intuitif sering cepat bosan, gampang gelisah, khususnya ketika melakukan tugas-tugas rutin, atau ketika belajar materi-materi yang menyangkut fakta.
  5. e.                   Fungsi berfikir, orang berfungsi berfikir umumnya bekerja atas dasar logika, objektivitas, dan bermental analitis. Orang yang berfungsi berpikir biasa impersonal, sangat menjunjung tinggi nilai logika, berusaha menemukan kriteria objektif sebelum memutuskan sesuatu.
  6. f.                    Fungsi Perasa, adalah proses rasional yang membuat keputusan atas dasar sistem nilai. Mereka memiliki kemampuan memahami perasaan-perasaan orang lain atau berempati. Mereka sering memutuskan berdasarkan keinginan orang lain. Ia tidak senang menyampaikan hal-hal yang kurang menyenangkan orang lain, umumnya tidak mengalami kesulitan dalam pergaulan, sangat simpatik.
  7. g.                  Fungsi Penilai, bagi seorang yang terkategori seorang penilai memiliki karakter yang sistematis, rapi, kurang luwes, berkesan maju, bertanggung jawab dan tegas. Ia mempunyai rencana yang jelas, punya pendirian yang keras, gemar membuat keputusan, senang kalau segala sesuatu berjalan lancar atau slesai pada waktunya.
  8. h.                  Fungsi Pengamat, karakter orang pengamat adalah toleran, terbuka, gampang menyesuaikan diri, sangat mengerti orang lain, spontan, luwes, dan punya semangat ingin tahu yanag tinggi. Ia memiliki spontanitas yang tidak terduga, sangat toleran dan memiliki hidup yang optimis ((Zulfiandri, 2007 : 60-62).

Pada suatu peristiwa ada seorang pendidik yang mendekati peserta didiknya, peserta didik tersebut selalu tampak diam dan malas untuk berkomunikasi, dia hanya akan berkata ‘YA’ atau ‘TIDAK’ dan ‘MENGERTI’ saja dalam setiap situasi termasuk dalam proses pembelajaran, pendidik ini kemudian mencoba berkomunikasi dengan peserta didik ini dengan cara mengawalinya dengan pertanyaan ‘hal-hal apa sajakah yang disukainya’, ternyata pertanyaan ini ampuh dengan adanya pertanyaan ini peserta didik tersebut mulai tertarik untuk berkomunikasi dengan gurunya, hingga seterusnya sampai peserta didik ini tidak lagi mengalami kemalasan dalam berkomunikasi.

Jadi sebenarnya semua peserta didik merupakan Sang Juara, keberhasilan peserta didik tersebut ditentukan oleh penanganan yang tepat oleh sekolah dan sesuai dengan kepribadian dan bakat peserta didik.

 

Mengenal Kecerdasan Peserta Didik

Ketika Binet mengusulkan tentang definisi kecerdasan, saat itu semua orang sepertinya bersepakat bahwa kecerdasan tersebut hanya semata-mata IQ. Ternyata Binet tidak bisa memuaskan banyak orang dalam definisi kecerdasan tadi. Karena kesuksesan dalam hidup seseorang tidak berkorelasi positif dengan kecerdasan (IQ) yang dimilikinya. Kemudian beberapa penelitian berikutnya menyempurnakan konsep kecerdasan Binet. Dr. Howard Gardner, seorang psikolog kognitif, menemukan beberapa jenis kecerdasan tidak hanya satu yang dapat diukur dan dijumlah sebagaimana kecerdasan IQ. Teorinya menawarkan pandangan yang lebih luas mengenai kecerdasan dan menyarankan bahwa kecerdasan adalah suatu kesinambunganyang dikembangkan seumur hidup. Jadi tidak dapat lagi dinyatakan bahwa kecerdasan hanya dapat diukur dari kecerdasan matematika dan logika semata. Dr. Howard Gardner (1983) mengenalkan dengan istilah kecerdasan berganda (Multiple Intelligence). Bahkan Danah Johar dan Ian Marshal sepakat menambahkan dengan satu lagi kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual.

Adapun kesembilan kecerdasan tersebut adalah sebagai berikut :

1.   Kecerdasan Linguistik : Word Smart

Adalah kecerdasan menggunakan kata-kata secara efektif. Kecerdasan ini sangat berguna bagi para penulis, aktor, pelawak, selebriti, radio dan para pembicara hebat. Kecerdasan juga membantu kesuksesan kariernya di bidang pemasaran dan politik.

Coba anda periksa kepribadian di bawah ini, mana yang merupakan kepribadian Peserta Didik anda:

  1. Suka menulis kreatif di rumah.
  2. Senang menulis kisah khayal, lelucon dan cerpen.
  3. Menikmati membaca buku di waktu senggang.
  4. Menyukai pantun, puisi dan permainan kata.
  5. Suka mengisi teka-teki silang atau bermain scrable (www.bayumukti.com).

Yang manakah kemampuan linguistik Peserta Didik  anda ?

Jika peserta didik anda di sekolah, di kampus banyak bicara dan kurang memperhatikan pelajaran atau menikmati menulis puisi di rumah tapi tidak mengerjakan PR, senang bercerita. Peserta didik anda mepunyai kecerdasan linguistik. Kembangkanlah potensinya terus. Suatu saat peserta didik anda akan menjadi seseorang yang hebat.

2.   Kecerdasan Logis- Matematis : Number Smart

Kecerdasan yang satu ini adalah keterampilan mengolah angka dan kemahiran menggunakan logika dan akal sehat. Ini adalah kecerdasan yang digunakan ilmuwan untuk membuat hipotesa dan dengan tekun mengujinya dengan eksperimen. Ini juga kecerdasan yang digunakan oleh akuntan pajak, pemrogaman komputer dan ahli matematika.

Coba periksa keterampilan yang ada pada peserta didik anda saat ini :

  1. Menghitung problem aritmatika dengan cepat di luar kepala.
  2. Menikmati menggunakan bahasa komputer atau progam software logika
  3. Ahli bermain catur, dan permainan strategi lainnya
  4. Menjelaskan masalah secara logis
  5. Merancang Eksperimen
  6. Suka bermain teka-teki logika
  7. Mudah memahami sebab-akibat (www.bayumukti.com).

Menikmati pelajaran matematika dan IPA serta mendapatkan prestasi yang bagus Kemampuan logis yang manakah yang peserta didik anda miliki ? Inilah kecerdasan yang dikaitkan dengan kecerdasan dalam bersekolah. Jika peserta didik memiliki kecenderungan kutu buku, mendapat nilai tinggi IPA, menikmati dan berinteraksi dengan komputer, mencoba mencari jawaban yang sulit, maka peserta didik berbakat besar dalam kecerdasan ini. Kembangkan terus, suatu saat kamu akan menjadi seorang ilmuwan, akuntan, insinyur, ahli pemrogaman komputer atau bahkan mungkin menjadi seorang filosof.

3.   Kecerdasan Spasial : Picture Smart

Ini adalah kecerdasan gambar dan bervisualisasi. Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk menvisualisasikan gambar di dalam kepala seseorang atau menciptakannya dalam bentuk dua atau tiga dimensi. Seniman atau pemahat serta pelukis memiliki kecerdasan ini dalam tingkat tinggi. Coba periksa ketrampilan yang menurut kamu ada pada diri kamu:    

  1. Menonjol dalam kelas seni kelas.
  2. Mudah membaca peta, grafik dan diagram.
  3. Menggambar sosok orang atau benda persis aslinya.
  4. Mencoret-coret diatas kertas.
  5. Lebih mudah memahami lewat gambar daripada lewat kata-kata ketika sedang membaca (www.bayumukti.com).

Jadi yang manakah kemampuan spasial yang peserta didik anda miliki ? Seandaianya peserta didik anda menonjol dalam kecerdasan ini, kembangkanlah. Karena suatu saat peserta didik anda bisa jadi pelukis, pemahat, designer, dan perancang bangun.

4.   Kecerdasan Kinestetik- Jasmani : Body Smart

Kecerdasan jasmani adalah kecerdasan seluruh tubuh (atlet, penari, seniman, pantomim aktor) dan juga kecerdasan tangan (montir, penjahit, tukang kayu, ahli bedah) Coba anda pilih ketrampilan yang ada pada diri Peserta Didik anda:

  1. Bergerak-gerak ketika sedang duduk
  2. Terlibat dalam kegiatan fisik seperti renang, bersepeda, hiking atau bermain skate board.
  3. Perlu menyentuh sesuatu yang ingin dipelajari.
  4. Menikmati melompat, gulat dan lari.
  5. Memperlihatkan kerampilan dalam kerajinan tangan seperti kayu, menjahit, mengukir.
  6. Menikmati bekerja dengan tanah liat, melukis dengan jari, atau kegiatan “kotor” lainnya.
  7. Suka membongkar sebuah benda kemudian menyusunnya lagi (www.bayumukti.com).

Lalu kemampuan kinestetik jasmani apa yang peserta didik anda miliki sekarang ? Jika peserta didik anda tidak betah duduk lama-lama dan lebih suka bergerak, menyukai studi lapangan, maka peserta didik anda menonjol dalam kecerdasan ini. Maka kembangkanlah terus.

5.   Kecerdasan Musikal: Music Smart

Kecerdasan musical melibatkan kemampuan menyanyikan sebuah lagu, mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan irama atau sekedar menikmati musik. Dalam bentuknya yang lebih canggih, kecerdasan ini mencakup para diva dan virtuoso piano di dunia seni dan budaya (www.bayumukti.com). Bakat musik adalah sesuatu bakat yang selam ini dibiarkan atau ditelantarkan di sekolah. Jikalau kamu memiliki bakat ini maka ada baiknya mengembangkan di luar lingkungan sekolah.

6.   Kecerdasan Antar Pribadi: People Smart

Kecedasan ini melibatkan kemampuan untuk memahami dan bekerja untuk orang lain. Kecerdasan ini melibatkan banyak hal, mulai dari kemampuan berempati, kemampuan memimpin, dan kemampuan mengorganisir orang lain (www.bayumukti.com). Nah jika peserta didik anda sangat populer di kalangan teman-temanmu dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cepat. Maka peserta didik anda berbakat dalam kecerdasan ini. Kembangkanlah, suatu saat kamu akan menjadi seorang pemimpin, konselor, pengusaha atau organiser komunitas.

7.   Kecerdasan Intra Pribadi: Self Smart

Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk memahami diri sendiri, kecerdasan untuk mengetahui siapa sebenarnya diri kita sendiri. Kecerdasan ini sangat penting bagi para wirausahawan dan individu lain yang harus memiliki persyaratan disiplin diri, keyakinan, dan pengetahuan diri untuk mengetahui bidang atau bisnis baru (www.bayumukti.com). Jika peserta didik anda mampu mengetahui siapa dirinya sebenarnya, pandai menargetkan dan menentukan target untuk diri sendiri. Dia peserta didik yang percaya diri dan tidak pemalu, maka peserta didik anda berbakat dalam kecerdasan ini. Kembangkanlah terus kecerdasan ini karena sangat dibutuhkan dalam kehidupan untuk meraih kesuksesan.

8.   Kecerdasan Naturalis: Nature Smart

Kecerdasan naturalis melibatkan kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk alam di sekitar kita: Bunga, burung, pohon, hewan serta flora dan fauna lainnya. Kecerdasan ini dibutuhkan di banyak profesi seperti ahli biologi, penjaga hutan, dokter hewan dan holtikulturalis (www.bayumukti.com).

9.   Kecerdasan Spiritual: Spiritual Smart

Pembicaraan mengenai kecerdasan spiritual tidak lepas dari konsep filosofis yang menjadi latar belakangnya. Kecerdasan spiritual banyak mengembangkan konsep-konsepnya dari aliran humanistis. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh, kecerdasan spiritual tidak bergantung pada budaya atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri. Kecerdasan spiritual adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun yang memungkinan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Terutama persoalan yang menyangkut masalah eksistensial, yaitu saat seseorang secara pribadi terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran dan masalah masa lalu akibat penyakit dan kesedihan. Dengan kecerdasan spiritual seseorang mampu mengatasi masalah hidupnya dan berdamai dengan masalah tersebut. Kecerdasan spiritual memberi rasa aman pada diri seseorang menyangkut perjuangan hidup (www.untag-sby.ac.id/index.php).

Kita harus ingat bahwa setiap orang memiliki sembilan kecerdasan di atas dan setiap harinya digunakan dan dikombinasikannya. Contohnya saja bila pemain sepak bola menggiring bola maka mereka menggunakan kecerdasan kinestetik-jasmani untuk menggiring bola, kecerdasan spasial untuk memvisualisasikan posisi bola setelah lawan menendangnya, dan kecerdasan antar pribadi untuk kerja sama dengan anggota tim lainnya. Akan tetapi mereka memiliki salah satu kecerdasan yang paling dominan yaitu kinestik-jasmani.

Nah sekali lagi untuk menjadikan peserta didik anda menjadi orang yang sukses anda harus bisa membantunya mencari dan menemukan kecerdasan yang paling dominan pada diri peserta didik anda dan terus mengasahnya agar menjadi talenta dan orang yang sukses dan hebat.

Memanfaatkan Gaya Belajar Peserta Didik

Lain lubuk, lain ikannya. Lain orang, lain pula gaya belajarnya. Pepatah di atas memang pas untuk menjelaskan fenomena bahwa tidak semua orang punya gaya belajar yang sama, walaupun bila mereka bersekolah di sekolah atau bahkan duduk di kelas yang sama.

Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang dan ada pula yang sangat lambat. Karenanya, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama.

Sebagian peserta didik lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menuliskan segalanya di papan tulis. Dengan begitu mereka bisa membaca untuk kemudian mencoba memahaminya. Tapi, sebagian peserta didik lain lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menyampaikannya secara lisan dan mereka mendengarkan untuk bisa memahaminya. Sementara itu, ada peserta didik yang lebih suka membentuk kelompok kecil untuk mendiskusikan pertanyaan yang menyangkut pelajaran tersebut.

Cara lain yang juga kerap disukai banyak peserta didik adalah model belajar yang menempatkan pendidik tak ubahnya seorang penceramah. Pendidik diharapkan bercerita panjang lebar tentang beragam teori dengan segudang ilustrasinya, sementara para peserta didik mendengarkan sambil menggambarkan isi ceramah itu dalam bentuk yang hanya mereka pahami sendiri.

Apa pun cara yang dipilih, perbedaaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Karenanya, jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajar setiap orang itu, mungkin akan lebih mudah bagi kita jika suatu ketika, misalnya, kita harus memandu seseorang untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.

Tentu saja, sebelum kita sendiri mengajarkannya pada orang lain, langkah terbaik adalah mengenali gaya belajar kita sendiri. Pertimbangan ini yang seringkali kita lupakan. Dengan kata lain, kita sendiri harus merasakan pengalaman mendapatkan gaya belajar yang tepat bagi diri sendiri, sebelum menularkannya pada orang lain. Ada banyak alasan dan keuntungan yang bisa didapatkan bila pendidik mampu memahami ragam gaya belajar, termasuk gaya kita sendiri.

Kalangan tua, biasanya menyerap banyak pengetahuan tentang gaya belajar, berdasarkan pengalaman yang telah mereka lewati. Misalnya, mereka pernah bekerja, menjalani latihan militer, mendidik dan membimbing anak, dan sebagainya. Rangkaian pengalaman yang mereka lewati itu, sesungguhnya, adalah bagian dari cara mereka mendapatkan pelajaran berarti yang mungkin bisa kita serap untuk melihat seperti apa sebetulnya gaya belajar yang tepat bagi kita. Apa pun gaya yang akan kita pilih dan ikuti, hal terpenting yang tak boleh dilupakan: lakukan apa yang memang akan bermanfaat bagi Anda!

Sebagai seorang pendidik yang profesional pendidik harus mengetahui betapa pentingnya mengenali gaya belajar peserta didik. Dalam buku Quantum Learning Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (1992) memaparkan tiga modalitas belajar seseorang yaitu : “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modalitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”.

1. Visual (belajar dengan cara melihat)

Modalitas ini mengakses citra visual, yang diciptakan maupun diingat, lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi peserta didik yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada peserta didik atau menggambarkannya di papan tulis. Peserta didik yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, peserta didik visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Sehingga ciri-ciri gaya belajar visual dapat digambarkan sebagai berikut :

  1. Bicara agak cepat
  2. Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
  3. Tidak mudah terganggu oleh keributan
  4. Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
  5. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
  6. Pembaca cepat dan tekun
  7. Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
  8. Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
  9. Lebih suka musik dari pada seni
  10. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya (http://www.tempo.co.id/edunet/).

Untuk mengatasi ragam masalah di atas, ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan, sehingga belajar tetap bisa dilakukan dengan memberikan hasil yang menggembirakan. Pertama adalah menggunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran. Perangkat grafis itu bisa berupa film, slide, gambar ilustrasi, coretan-coretan, kartu bergambar, catatan dan kartu-kartu gambar berseri yang bisa digunakan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan. Atau dapat juga dengan cara :

  1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
  2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
  3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
  4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
  5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar (http://www.tempo.co.id/edunet/).

2.  Auditori (belajar dengan cara mendengar)

Gaya belajar kedua disebut Auditory Learners atau gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.

Modalitas ini mengakses segala segala jenis bunyi dan kata, lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang-sedang saja. Peserta didik yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya), untuk itu maka pendidik sebaiknya harus memperhatikan peserta didiknya hingga ke alat pendengarannya. Peserta didik yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang pendidik katakan. Peserta didik auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperti ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Dapat disimpulkan bahwa Ciri-ciri gaya belajar auditori adalah sebagai berikut (http://www.tempo.co.id/edunet/):

  1. Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
  2. Penampilan rapi
  3. Mudah terganggu oleh keributan
  4. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
  5. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  6. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
  7. Biasanya ia pembicara yang fasih
  8. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
  9. Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
  10. Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
  11. Berbicara dalam irama yang terpola
  12. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk belajar bila peserta didik termasuk orang yang memiliki kesulitan-kesulitan belajar seperti di atas. Pertama adalah menggunakan tape perekam sebagai alat bantu. Alat ini digunakan untuk merekam bacaan atau catatan yang dibacakan atau ceramah pengajar di depan kelas untuk kemudian didengarkan kembali. Strategi kedua yang bisa dilakukan adalah dengan wawancara atau terlibat dalam kelompok diskusi. Sedang strategi ketiga adalah dengan mencoba membaca informasi, kemudian diringkas dalam bentuk lisan dan direkam untuk kemudian didengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah dengan melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar.

Atau dapat juga dilakukan dengan cara-cara berikut ini :

  1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
  2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
  3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
  4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
  5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur (http://www.tempo.co.id/edunet/).

3. Kinestetik/Tactual learner (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Gaya belajar lain yang juga unik adalah yang disebut kinestetik/Tactual Learners atau kita harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar kita bisa mengingatnya. Tentu saja, ada beberapa karekteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar kita bisa terus mengingatnya. Kedua, hanya dengan memegang kita bisa menyerap informasinya tanpa harus membaca penjelasannya. Karakter ketiga adalah kita termasuk orang yang tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran. Keempat, kita merasa bisa belajar lebih baik bila disertai dengan kegiatan fisik. Karakter terakhir, orang-orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability).

Modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi (diciptakan maupun diingat), lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Peserta didik yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Peserta didik seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Peserta didik yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Adapun Ciri-ciri gaya belajar kinestetik/tactual learner :

  1. Berbicara perlahan
  2. Penampilan rapi
  3. Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
  4. Belajar melalui memanipulasi dan praktik
  5. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
  6. Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
  7. Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
  8. Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
  9. Menyukai permainan yang menyibukkan
  10. Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
  11. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka.
  12. Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi (http://www.tempo.co.id/edunet/).

Sedangkan Strategi untuk mempermudah proses belajar peserta didik kinestetik: pendekatan belajar yang mungkin bisa dilakukan adalah belajar berdasarkan atau melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model atau peraga, bekerja di laboratorium atau bermain sambil belajar. Cara lain yang juga bisa digunakan adalah secara tetap membuat jeda di tengah waktu belajar. Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter kinestetik/Tactual Learner juga akan lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk belajar mengucapkannya atau memahami fakta.

Penggunaan komputer bagi orang-orang yang memiliki karakter kinestetik/Tactual Learner akan sangat membantu. Karena, dengan komputer ia bisa terlibat aktif dalam melakukan touch, sekaligus menyerap informasi dalam bentuk gambar dan tulisan. Selain itu, agar belajar menjadi efektif dan berarti, orang-orang dengan karakter di atas disarankan untuk menguji memori ingatan dengan cara melihat langsung fakta di lapangan. (http://www.tempo.co.id/edunet/).

Selain itu dapat juga dengan cara :

  1. Jangan paksakan peserta didik untuk belajar sampai berjam-jam.
  2. Ajak peserta didik untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru). Izinkan peserta didik untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
  3. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
  4. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.

Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Bagaimana dengan gaya belajar Anda?

Penutup

Jika ada yang berpendapat bahwa untuk membuat peserta didik sukses harus didukung oleh pendidik yang profesional (yaitu pendidik yang berkompetensi secara akademik, profesional, sosial, dan kepribadian) itu juga benar tapi belum cukup, pendidik harus mengajar dengan cara yang mencerahkan, dia harus memperhatikan tiga hal penting dari peserta didik, yaitu : pertama, gaya pribadi (Gaya pribadi setiap manusia adalah unik, bahkan sangat unik. Masing-masing orang berbeda dengan yang lainnya. Sehingga setiap orang harus dihadapi dengan cara yang khas, sesuai dengan gayanya masing-masing). Jung adalah orang yang pertama merumuskan tipe kepribadian dengan istilah extrovertion dan introvertion. Serta mengemukakan empat fungsi kepribadian manusia yang disebut sebagai fungsi thinking, feeling, sensing, dan intuiting. kemudian oleh para tokoh psikolog lainnya ditambahkan dengan fungsi judgment dan perception (Zulfiandri, 2007). Kedua, jenis kecerdasan (Dr. Howard Gardner (1983) mengenalkan dengan istilah kecerdasan berganda (Multiple Intelligence). Bahkan Danah Johar dan Ian Marshal sepakat menambahkan dengan satu lagi kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual) dan Ketiga, gaya belajar (Dalam buku Quantum Learning Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (1992) memaparkan tiga modalitas belajar seseorang yaitu : “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K)).

Daftar Pustaka

DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 1999. Quantum Learning : Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung : Kaifa.

DePorter, Bobbi dkk. 2001. Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruanag Kelas. Bandung : Kaifa.

Djamarah Syaiful Bahri & Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Fathurrahman, Pupuh (ed). 2002, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Tunas Nusantara.

Gardner, Howard. 1983. Frames of  Mind, Basic Book. New York.

Ramayulis. 2005. Metodologi PAI. Jakarta : Kalam Mulia.

Zulfiandri. 2007. Qualitan Teaching : Cara Cerdas Menjadi Guru Mencerahkan. Bogor : Qualitama Tunas Mandiri.

http://www.tempo.co.id/edunet/, didownload pada tanggal 15 Oktober 2009

Depdiknas.go.id  didownload pada tanggal 15 Oktober 2009

www.bayumukti.com didownload pada tanggal 15 Oktober 2009

www.untag-sby.ac.id/index.php.  didownload pada tanggal 25 Oktober 2009

www.endonesia.com/mod.php. didownload pada tanggal 25 Oktober 2009

 

 

 

 

* Penulis Adalah Dosen Tetap pada Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang

PENDIDIK SEBAGAI MOTIVATOR YANG MENCERAHKAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Jika diamati dari beberapa lembaga pendidikan yang ada sebenarnya sebuah lembaga pendidikan tidak kekurangan pendidik yang luar biasa cerdas, mereka menguasai materi pembelajaran dengan baik bahkan dengan sangat baik. Hanya saja mayoritas para pendidik tersebut kurang dalam memberikan motivasi kepada peserta didiknya. Terinspirasi dari film Laskar pelangi (Bu guru Muslimah yang selalu menyemangati para peserta didiknya untuk maju) maupun film Sang Pemimpi (Pak Ichsan Balia yang selalu memotivator dengan cara  menugaskan kepada para peserta didiknya untuk menyebutkan kalimat pembangkit semangat setiap sebelum dan setelah belajar) seharusnya semua pendidik seperti itu. Memotivasi agar peserta didiknya lebih bersemangat menyongsong masa depan mereka dan tertarik dengan apa yang diajarkan oleh guru. Karena motivasi bisa muncul dari dalam diri sendiri dan dari orang lain (terutama guru) dan logikanya segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang harus menjanjikan dan memberikan manfaat bagi dirinya jika tidak maka orang tersebut tidak akan termotivasi untuk melakukannya.

Sebagai seorang pendidik yang selalu memberikan motivasi yang mencerahkan, menciptakan semangat maju dan menciptakan minat peserta didik kepada materi pembelajaran. Berbagai cara dapat dilakukan, misalnya dengan menjadi pendidik yang baik.

Tidak mudah menjadi pendidik yang baik, dikagumi dan dihormati oleh anak didik, masyarakat sekitar dan rekan seprofesi.  Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang pendidik untuk mendapat pengakuan sebagai pendidik yang baik dan berhasil.

Pertama, Berusahalah tampil di muka kelas dengan prima. Kuasai betul materi pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik. Jika perlu, ketika berbicara di muka kelasa tidak membuka catatan atau buku pegangan sama sekali. Berbicaralah yang jelas dan lancar sehingga terkesan di hati peserta didik bahwa kita benar-benar tahu segala permasalahan dari materi yang disampaikan.

Kedua, Berlakulah bijaksana. Sadarilah bahwa peserta didik yang kita ajar, memiliki tingkat kepandaian yang berbeda-beda. Ada yang cepat mengerti, ada yang sedang, ada yang lambat dan ada yang sangat lambat bahkan ada yang sulit untuk bisa dimengerti. Jika kita memiliki kesadaran ini, maka sudah bisa dipastikan kita akan memiliki kesabaran yang tinggi untuk menampung pertanyaan-pertanyaan dari anak didik kita. Carilah cara sederhana untuk menjelaskan pada peserta didik yang memiliki tingkat kemampuan rendah dengan contoh-contoh sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari walaupun mungkin contoh-contoh itu agak konyol.

Ketiga, Berusahalah selalu ceria di muka kelas. Jangan membawa persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan dari rumah atau dari tempat lain ke dalam kelas sewaktu kita mulai dan sedang mengajar.

Keempat, Kendalikan emosi. Jangan mudah marah di kelas dan jangan mudah tersinggung karena perilaku peserta didik. Ingat peserta didik yang kita ajar adalah remaja yang masih sangat labil emosinya. Peserta didik yang kita ajar berasal dari daerah dan budaya yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya dan berbeda dengan kebiasaan kita, apalagi mungkin pendidikan di rumah dari orang tuanya memang kurang sesuai dengan tata cara dan kebiasaan kita. Marah di kelas akan membuat suasana menjadi tidak enak, peserta didik menjadi tegang. Hal ini akan berpengaruh pada daya nalar peserta didik untuk menerima materi pelajaran yang kita berikan.

Kelima, Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan peserta didik. Jangan memarahi peserta didik yang yang terlalu sering bertanya. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan peserta didik dengan baik. Jika suatu saat ada pertanyaan dari peserta didik yang tidak siap dijawab, berlakulah jujur. Berjanjilah untuk dapat menjawabnya dengan benar pada kesempatan lain sementara kita berusaha mencari jawaban tersebut. Janganlah merasa malu karena hal ini. Ingat sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tapi usahakan hal seperti ini jangan terlalu sering terjadi. Untuk menghindari kejadian seperti ini, berusahalah untuk banyak membaca dan belajar lagi. Jangan bosan belajar. Janganlah menutupi kelemahan kita dengan cara marah-marah bila ada anak yang bertanya sehingga menjadikan anak tidak berani bertanya lagi. Jika peserta didik sudah tidak berani bertanya, jangan harap pendidikan/pengajaran kita akan berhasil.

Keenam, Memiliki rasa malu dan rasa takut. Untuk menjadi pendidik yang baik, maka seorang pendidik harus memiliki sifat ini. Dalam hal ini yang dimaksud rasa malu adalah malu untuk melakukan perbuatan salah, sementara rasa takut adalah takut dari akibat perbuatan salah yang kita lakukan. Dengan memiliki kedua sifat ini maka setiap perbuatan yang akan kita lakukan akan lebih mudah kita kendalikan dan dipertimbangkan kembali apakah akan terus dilakukan atau tidak.

Ketujuh, Harus dapat menerima hidup ini sebagai mana adanya. Di negeri ini banyak semboyan-semboyan mengagungkan profesi pendidik tapi kenyataannya negeri ini belum mampu/mau menyejahterakan kehidupan pendidik. Kita harus bisa menerima kenyataan ini, jangan membandingkan penghasilan dari jerih payah kita dengan penghasilan orang lain/pegawai dari instansi lain. Berusaha untuk hidup sederhana dan jika masih belum mencukupi berusaha mencari sambilan lain yang halal, yang tidak merugikan orang lain dan tidak merugikan diri sendiri. Jangan pusingkan gunjingan orang lain, ingatlah pepatah “anjing menggonggong bajaj berlalu.”

Kedelapan, Tidak sombong.Tidak menyombongkan diri di hadapan murid/jangan membanggakan diri sendiri, baik ketika sedang mengajar ataupun berada di lingkungan lain. Jangan mencemoohkan peserta didik yang tidak pandai di kelas dan jangan mempermalukan peserta didik (yang salah sekalipun) di muka orang banyak. Namun pangillah peserta didik yang bersalah dan bicaralah dengan baik-baik, tidak berbicara dan berlaku kasar pada peserta didik.

Kesembilan, Berlakulah adil. Berusahalah berlaku adil dalam memberi penilaian kepada peserta didik. Jangan membeda-bedakan peserta didik yang pandai/mampu dan peserta didik yang kurang pandai/kurang mampu Serta tidak memuji secara berlebihan terhadap peserta didik yang pandai di hadapan peserta didik yang kurang pandai. (Tohir Zainuri. http//:zainuri.wordpress.com 23 Desember 2009).

Selain itu juga untuk menjadi seorang pendidik yang selalu memberikan motivasi yang mencerahkan, menciptakan minat peserta didik kepada materi pembelajaran, menurut Zulfiandri (2007) seorang pendidik dapat juga melakukan beberapa hal berikut ini, yaitu : melalui pemberian hadiah, hukuman, menciptakan minat dengan cara bermain, bercerita maupun dengan teknik-teknik pencairan suasana yang mengajak mereka untuk fokus kepada materi pembelajaran.

Selain itu menurut Ramayulis (2005: 51) menjadi pendidik harus memiliki syarat-syarat tertentu, yang diantaranya adalah syarat psikis, yaitu seorang pendidik harus sehat rohani, dewasa dalam berpikir dan bertindak, mampu mengendalikan emosi, sabar, ramah dan sopan, memiliki jiwa kepemimpinan, konsekuensi dan berani bertanggung jawab, berani berkorban dan memiliki jiwa pengabdian, guru harus mematuhi norma dan nilai yang berlaku serta memiliki semangat membangun. Inilah pentingnya pendidik harus memiliki rasa keikhlasan yang tinggi terhadap pelaksanaan proses pembelajaran. Jadi pada dasarnya seorang pendidik memang harus kepribadian yang baik, yang dapat memotivasi dan memberikan pencerahan kepada peserta didiknya.

Pengertian Motivasi

Ada sepenggal kata bijak “Kerjakanlah sesuatu secara tulus dan wajar, dan segalanya akan baik. Kesempurnaan terletak pada motivasi kerja, bukan pada pekerjaan” (Guru Ching Hai). Demikian besarnya pengaruh motivasi dalam kehidupan manusia, karena dengan motivasi manusia dapat melakukan sesuatu.

Motivasi berpangkal dari kata “motif”, yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motiv dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan) (Pupuh, 2007 : 19). Adapun menurut Mc Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan muculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc Donald ini, maka terdapat tiga elemen atau ciri pokok dalam motivasi, yakni: motivasi mengawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan (Sardiman, 2004).

Namun pada intinya dapat disederhanakan bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi berfungsi sebagai berikut (Omar Hamalik, 2002) :

1.      Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan langkah penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

2.      Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

3.      Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Jadi motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan sekaligus sebagai penggerak perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Pendidik merupakan faktor yang penting untuk mengusahakan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dengan cara memenuhi kebutuhan peserta didik.

Peran Pendidik sebagai motivator dalam Pembelajaran

Hari Senin tanggal 07 Februari 2009 jam pelajaran kedua aku berada kelas 9 b. Hanya dua peserta didik yang tidak masuk, keduanya ada surat ijin karena sakit. Pelajaran aku mulai dengan apresepsi selama kurang lebih 5 menit. Pada waktu apresepsi sudah selesai peserta didik putra mulai gaduh saling berebut kertas warna putih. Kudekati salah satu peserta didik tersebut. Aku bertanya “Apakah yang diperebutkan ? Jawabnya “ Lembar tugas yang ibu berikan Minggu kemarin, saya meminjam kepunyaan Lina, Bu”. Dan ternyata ada delapan peserta didik putra yang tidak mengerjakan tugas, bahkan lembar kerjanya kesemuanya tertinggal dirumah. Sedangkan tiga puluh dua peserta didik lainnya mengerjakan tugas dengan baik.

Pendidik sebagai agen pembelajaran mempunyai peran yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini peran pendidik terkait dengan peran peserta didik dalam belajar. Pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah peran tersebut sangat tinggi, karena ada gejala pada diri peserta didik malas belajar, membolos sekolah, menjawab hanya asal kena (clometan), senda gurau, menggunakan HP bila pendidik menjelaskan bahan-bahan yang sekiranya perlu difahami hal ini merupakan ketidaksadaran peserta didik tentang belajar.

Peserta didik dalam belajar memiliki bermacam-macam motivasi. Menurut Biggs dan Telfer motivasi tersebut adalah sebagai berikut: (1) motivasi instrumental; (2) motivasi sosial; (3) motivasi instriksik. dan (4) motivasi berprestasi. Motivasi instrumental maksudnya bahwa peserta didik belajar karena didorong adalah hadiah atau menghidari dari hukuman. Motivasi sosial maksudnya adalah peserta didik belajar penyelenggaraan tugas, berarti keterlibatan pada tugas menonjol. Motivasi instriksik maksudnya belajar karena keinginan dari diri sendiri. Motivasi instrumental dan motivasi sosial termasuk kondisi eksternal sedang motivasi instriksik dan motivasi berprestasi termasuk kondisi internal. Motivasi berprestasi dibedakan motivasi berprestasi tinggi dan motivasi berprestasi rendah. Peserta didik memiliki motivasi berprestasi dan motivasi instriksik diduga peserta didik akan berusaha belajar segiat mungkin (http://pendidikpkn3smp.blogspot.com/2009/02/peran-pendidik-sebagai-motivator.html).

Pada motivasi instriksik maka ditemukan sifat perilaku sebagai berikut: (1) peserta didik kualitas keterlibatnya dalam belajar sangat tinggi berarti pendidik tinggal memelihara semangat, (2) Perasaan dan keterlibatan ranah afektif tinggi; dalam hal ini pendidik memelihara keterlibatan belajar peserta didik. (3) motivasi ini sifatnya memelihara sendiri. Dengan demikian pendidik harus memeliharan keterlibatan peserta didik dalam belajar (Dyah Purwati, 2009).

Pendidik harus benar-benar memahami motivasi belajar peserta didiknya dan kemudian memberi motivasi yang tepat. Apabila peserta didik motivasi berprestasi tinggi, lebih berkeinginan meraih keberhasilan, lebih terlibat dalam tugas-tugas dan tidak menyukai kegagalan, maka dalam hal ini tugas pendidik menyalurkan semangat kerja keras, dan apabila peserta didik memiliki motivasi berprestasi rendah, yang pada umumnya lebih suka menghindari dari tugas, maka pendidik sebaiknya memberi motivasi yang lebih agar peserta didik tersebut sadar akan belajar dan diharapkan pendidik mampu berkreasi dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran.

Karena hal ini sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada pendidik (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada peserta didik (student oriented), maka peran pendidik dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran pendidik sebagai motivator.

Proses pembelajaran akan berhasil manakala peserta didik mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, pendidik perlu menumbuhkan motivasi belajar peserta didik. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, pendidik dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar peserta didik, sehingga terbentuk perilaku belajar peserta didik yang efektif. Dalam perspektif manajemen maupun psikologi, kita dapat menjumpai beberapa teori tentang motivasi (motivation) dan pemotivasian (motivating) yang diharapkan dapat membantu para manajer (baca: pendidik) untuk mengembangkan keterampilannya dalam memotivasi para peserta didiknya agar menunjukkan prestasi belajar atau kinerjanya secara unggul. Kendati demikian, dalam praktiknya memang harus diakui bahwa upaya untuk menerapkan teori-teori tersebut atau dengan kata lain untuk dapat menjadi seorang motivator yang hebat bukanlah hal yang sederhana, mengingat begitu kompleksnya masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku individu (peserta didik), baik yang terkait dengan faktor-faktor internal dari individu itu sendiri maupun keadaan eksternal yang mempengaruhinya (http://www.psb-psma.org/content/blog/peran-pendidik-sebagai-motivator).

Terlepas dari kompleksitas dalam kegiatan pemotivasian tersebut, dengan merujuk pada pemikiran Wina Senjaya (2008), di bawah ini dikemukakan beberapa petunjuk umum bagi pendidik dalam rangka meningkatkan motivasi belajar peserta didik,

1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai.

Tujuan yang jelas dapat membuat peserta didik paham ke arah mana ia ingin dibawa. Pemahaman peserta didik tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat peserta didik untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar peserta didik. Oleh sebab itu, sebelum proses pembelajaran dimulai hendaknya pendidik menjelaskan terlebih dulu tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini, para peserta didik pun seyogyanya dapat dilibatkan untuk bersama-sama merumuskan tujuan belajar beserta cara-cara untuk mencapainya.

2. Membangkitkan minat peserta didik.

Peserta didik akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar peserta didik merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Beberapa cara dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar peserta didik, diantaranya :

  • Hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan peserta didik. Minat peserta didik akan tumbuh manakala ia dapat menangkap bahwa materi pelajaran itu berguna untuk kehidupannya. Dengan demikian pendidik perlu menjelaskan keterkaitan materi pelajaran dengan kebutuhan peserta didik.
  • Sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan peserta didik. Materi pelajaran yang terlalu sulit untuk dipelajari atau materi pelajaran yang jauh dari pengalaman peserta didik, akan tidak diminati oleh peserta didik. Materi pelajaran yang terlalu sulit tidak akan dapat diikuti dengan baik, yang dapat menimbulkan peserta didik akan gagal mencapai hasil yang optimal; dan kegagalan itu dapat membunuh minat peserta didik untuk belajar. Biasanya minat peserta didik akan tumbuh kalau ia mendapatkan kesuksesan dalam belajar.
  • Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi, misalnya diskusi, kerja kelompok, eksperimen, demonstrasi, dan lain-lain.

3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.

Peserta didik hanya mungkin dapat belajar dengan baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut. Usahakan agar kelas selamanya dalam suasana hidup dan segar, terbebas dari rasa tegang. Untuk itu pendidik sekali-sekali dapat melakukan hal-hal yang lucu.

4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan peserta didik.

Motivasi akan tumbuh manakala peserta didik merasa dihargai. Memberikan pujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan. Pujian tidak selamanya harus dengan kata-kata. Pujian sebagain penghargaan dapat dilakukan dengan isyarat, misalnya senyuman dan anggukan yang wajar, atau mungkin dengan tatapan mata yang meyakinkan.

5. Berikan penilaian.

Banyak peserta didik yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian peserta didik nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar peserta didik secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan secara objektif sesuai dengan kemampuan peserta didik masing-masing.

6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan peserta didik.

Peserta didik butuh penghargaan. Penghargaan bisa dilakukan dengan memberikan komentar positif. Setelah peserta didik selesai mengerjakan suatu tugas, sebaiknya berikan komentar secepatnya, misalnya dengan memberikan tulisan “bagus” atau “teruskan pekerjaanmu” dan lain sebagainya. Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

7. Ciptakan persaingan dan kerja sama.

Persaingan yang sehat dapat memberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran peserta didik. Melalui persaingan peserta didik dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik. Oleh sebab itu, pendidik harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk bersaing baik antara kelompok maupun antar-individu. Namun demikian, diakui persaingan tidak selamanya menguntungkan, terutama untuk peserta didik yang memang dirasakan tidak mampu untuk bersaing, oleh sebab itu pendekatan cooperative learning dapat dipertimbangkan untuk menciptakan persaingan antar kelompok (Anita Lie, 2002).

Di samping beberapa petunjuk cara membangkitkan motivasi belajar peserta didik di atas, adakalanya motivasi itu juga dapat dibangkitkan dengan cara-cara lain yang sifatnya negatif seperti memberikan hukuman, teguran, dan kecaman, memberikan tugas yang sedikit berat (menantang). Namun, teknik-teknik semacam itu hanya bisa digunakan dalam kasus-kasus tertentu. Beberapa ahli mengatakan dengan membangkitkan motivasi dengan cara-cara semacam itu lebih banyak merugikan peserta didik. Untuk itulah seandainya masih bisa dengan cara-cara yang positif, sebaiknya membangkitkan motivasi dengan cara negatif dihindari.

Sementara itu Zulfiandri (2007) berpendapat bahwa beberapa prinsip dasar motivasi dalam rangka pembelajaran agar peserta didik memiliki arah motivasi mendekat adalah :

1. Gunakan lingkungan sekeliling untuk memfokuskan perhatian peserta didik pada pembelajaran

Para pendidik yang mencerahkan mampu menghangatkan suasana kelas dan atmosfer pembelajaran dengan menggunakan lingkungan sekitar. Gunakan bantuan visual, seperti boklet, poster, peralatan praktik untuk mengarahkan perhatian peserta belajar.

2.   Berikan pujian

Sependapat dengan Wina Sanjaya, bahwa peserta didik perlu diberi pujian. Pada situasi pembelajaran secara umum, motivasi diri tanpa penghargaan tidak akan berhasil. Salah satu bentuk penghargaan adalah pujian. Pujian merupakan bentuk motivasi dengan arah mendekat. Anak-anak yang terbiasa diberikan motivasi menjauh, misalnya dengan cacian atau hinaan, cenderung memiliki kepercayaan diri dan inisiatif yang rendah

3.  Motivasi internal adalah kekal lebih panjang dan lebih kuat dibanding motivasi eksternal.

Motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang jauh lebih kuat dari motivasi yang diberikan dari luar. Motivasi dari luar misalnya pujian dan reward. Motivasi luar ibarat balon yang dipompa dengan alat pompa. Sedangkan motivasi dari dalam diri sendiri ibarat orang memiliki pompa yang siap untuk memompa balon setiap saat ketika dia melihat kecenderungan semangatnya mengempis.

4.   Pembelajaran akan berjalan efektif ketika peserta didik siap untuk belajar

Ketika peserta didik membuat pertanyaan, hal ini berarti ada minat dalam pembelajaran. Atau ketika peserta didik mempersiapkan dirinya dan memiliki minat terhadap pembelajaran maka secara otomatis gelombang otaknya focus dan siap untuk belajar. Fokus dapat diperoleh dengan metode pencairan suasana (ice breaking).

Disamping itu Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno (2007: 20-21) berpendapat bahwa ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, yaitu :

1.   Menjelaskan tujuan belajar kepada peserta didik

Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang pendidik menjelaskan mengenai tujuan yang akan dicapainya kepada peserta didik. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajat.

2.   Hadiah

Berikan hadian untuk semua peserta didik yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Disamping itu, peserta didik yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bias mengejar peserta didik yang berprestasi.

3.   Saingan/kompetisi

Guru berusaha mengadakan persaingan diantara peserta didiknya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang dicapai sebelumnya.

4.   Pujian

Sudah sepantasnya peserta didik yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yanag bersifat memotivasi.

5.   Hukuman

Hukuman diberikan kepada peserta didik yang berbuat kesalahan saat proses pembelajaran. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar peserta didik tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

6.   Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar

Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik.

7.   Membentuk kebiasaan belajar yang baik.

8.   Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun komunal

(kelompok).

9.   Menggunakan metode yang bervariasi dalam setiap proses pembelajaran.

10. Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Tiap peserta didik memiliki kemampuan indera yang tidak sama, baik pendengaran maupun pengelihatannya, demikian juga kemampuan berbicara. Ada yang lebih senang membaca ada yang lebih senang mendengar (karena gaya belajar peserta didik bervariasi ada yang auditorial, visual dan kinestetik (Bobbi DePorter, 2000 : 84)) dengan variasi penggunaan media, kelemahan indera yang dimiliki tiap peserta didik dapat dikurangi. Untuk menarik perhatian anak misalnya, pendidik dapat memulai dengan berbicara terlebih dahulu, kemudian menulis di papan tulis, dilanjutkan dengan melihat contoh konkret. Dengan variasi seperti ini, maka diharapkan dapat memberi stimulus terhadap indera peserta didik.

Sebagai seorang pendidik yang selalu memotivasi dan mencerahkan, maka konsep diri positif dan meyakini apapun yang terjadi dalam diri kita adalah positif maknanya, dengan memiliki konsep diri positif, seorang pendidik akan mampu mempengaruhi lingkungan sekitar dengan aura positif yang dimiliki.

Kisah di bawah ini yang mungkin terjadi pada diri kita, sebagai seorang pendidik di depan para peserta didik di depan kelas pada sebuah lembaga pendidikan :

“baik anak-anak sekalian, kalian telah melihat hasil uji coba Ujian Akhir Nasional. Tenyata hasil mengecewakan kita semua. Saya tidak mengerti kenapa kalian bias dapat nilai yang mengecewakan tersebut. Padahal sebagai pendidik saya sudah memberikan semuanya kepada kalian. Kenapa membalas kebaikan kami dengan cara yang demikian. Kalau sudah seperti ini, saya sudah tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan. Masa depan kalian sudah bias digambarkan sekarang. Suram !!!”

Atau kita dapat melihat sebuah kejadian pada tempat yang berbeda, dengan tema yang hampir sama

“baik anak-anak semuanya. Kalian tentu telah melihat hasil uji coba Ujian Akhir Nasional? Hasilnya memang agak sedikit mengecewakan kita semua, namun saya yakin ini belumlah hasil terbaik yang kalian bias tampilkan. Ini baru uji coba, baru pemanasan. Kami pihak guru yakin bahwa, jika bias memperbaiki cara belajar dan keseriusan kita maka kita akan bias menuai sukses. Kita semua akan benar-benar diuji pada saat Ujian Akhir Nasional. Jika kalian mempersiapkan diri sebaik mungkin, dan kami para pendidik, dengan senang hati membantu kalian agar bias sukses pada Ujian Akhir Nasional. Oke! Sekarang kita bersama bersepakat untuk meraih kesuksesan pada saat Ujian Akhir Nasional, mempersiapkan diri sebaik  mungkin, dan kami para pendidik, dengan senang hati membantu kalian agar bias suksses pada ujian akhir ”.

Kejadian pertama adalah contoh para pendidik yang tidak memiliki kemampuan memberikan motivasi dan pencerahan. Dia tidak memiliki konsep positif pada dirinya. Sedangkan pada kejadian yang kedua merupakan gambaran pendidik yang mencerahkan dan  selalu memberikan motivasi. Maka untuk semua pendidik jadilah para pendidik yang selalu memberikan motivasi yang mencerahkan.

Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya letupan kesuksesan para generasi penerus bangsa ini  jika memiliki para pendidik yang selalu memotivasi dan memberikan pencerahan, bukan para pendidik killer (pembunuh semangat dan kreativitas peserta didik). Seperti halnya mimpi yang dimiliki anak-anak di film Sang Pemimpi (Ikal, Arai dan Jimron) mimpi yang akhirnya dapat mereka raih, mimpi yang mereka dapat karena terinspirasi dari motivasi dan pencerahan dari pendidiknya sehingga mereka menjadi anak-anak yang selalu bersemangat belajar dan bersemangat mengejar cita-cita. Jadi wahai para pendidik jadilah pendidik yang selalu memotivasi dan memberikan pencerahan kepada para peserta didikmu, jangan menjadi pendidik yang killer, demi tercapainya Indonesia maju dengan memiliki generasi-generasi penerus bangsa yang bersemangat, cerdas dan kreatif .