Syukur pada Sang Kasih Sayang

Al Fatihah, Syukur pd Sang Kasih Sayang
Alhamdulillahirobbilalamiin.Arrohmaanirrohiim
Segala puji bagimu Tuhan Semesta Alam, Sang Maha Kasih Sayang (QS:6:12,54,17:110). Ku bersyukur atas nikmat-nikmatMu yang tak dapat kukuantitaskan-terhitung, NikmatMu Mana yang kudustakan.
Nikmat Sehat, tatkala orang lain sakit bahkan koma cacat buta buntung kaki tangan bisu bahkan gilaaa.
Nikmat Pekerjaan, yang cukup rezekinya
Nikmat Keluarga, lengkap Orang tua saudara rumah
Nikmat ilmu, tak habis2nya hikmah yg kau berikan padaku
Nikmat Makan Minum Tidur jalan dan oksigeeen yg gratis

Nikmat PendengaranNikmat PenglihatanNikmat Hati
(QS: 32:7, 16:78, 23:78)

Terima kasih ArRohmaan
Kubersyukur ArRohiim
Janganku menjadi pengingkar nikmatmu
NikmatMu mana yg kulupakan ?
Kasih sayangMu mana yg kudustakan ? (QS:ArRohmaan/55)

Hidup ini memang sementara.
Tetapi siapakah dari kita yang bisa bertahan kelaparan selama empat hari saja?,
penderitaan karena rasa sakit, kelaparan, keterpinggiran, kemiskinan, dan ketertindasan – hidup di dunia ini sangaat panjang atas nikmat dan karuniaNya.
maka hendaklah kita termasuk orang-orang yang bersyukur” (QS:39:66)
“jika kamu bersyukur, Pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS:14:7)

“Membicarakan nikmat Allah, itu berarti mensyukurinya Dan meninggalkannya berarti mengingkari nikmat-Nya. Dan orang yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, Berarti tidak mensyukuri nikmat yang banyak. Dan orang yang tidak mensyukuri manusia berarti tidak mensyukuri Allah. — ”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (ni`mat)Ku. “(02:152)
“Apabila Allah memberi engkau harta benda, Maka perlihatkanlah bekas kurnia (anugerah) Allah atas engkau Dan kemulianNya” (Hadits)

SYUKUR Berarti “TERIMA KASIH”
BerSYUKUR Adalah Naluri HATI NURANI Berkeinginan Mengucapkan
Terima Kasih Kepada ALLAH, Karena Merasakan NIKMAT Atas
Seluruh Karunia ALLAH Yang Diberikan Kepada MANUSIA
Perasaan SYUKUR Tersebut Diwujudkan Dengan Senantiasa BerTAKWA Kepada ALLAH

(QS. Az Zumar (39) ayat 7, 66), (QS. Ibrahim (14) ayat 7), (QS. An Nahl (16) ayat 114), (QS. Al Ankabuut ( 29) ayat 17), (QS. Al Baqarah (02) ayat 21, 63, 124, 172, 177), (QS. Al Insaan (76) ayat 2), (QS. Ash Shaff (61) ayat 2-3), (QS. Ali ‘Imran (03) ayat 144, 145)

BerSYUKUR adalah Suatu Proses BerTAKWA Kepada ALLAH
Untuk Memperoleh Ridho ILAHI
Dilakukan Dengan Sepenuh Hati Karena Merasakan KARUNIA ILAHI
Yang Tidak Ada Henti- hentinya

(QS. Al Baqarah (02) ayat 185)(QS. An Nahl (16) ayat 114)(QS. Al Anfaal (08) ayat 26)(QS. Ibrahim (14) ayat 7, 37)(QS. Al Hajj (22) ayat 36)(QS. Yaa Siin (36) ayat 35, 73)(QS. Az Zumar (39) ayat 7, 66)(QS. Al Ankabuut (29) ayat 17)

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu Dan Dia tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya; Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhoi bagimu kesyukuranmu itu; Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu Apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu” (Al Qur’an surat Az Zumar (39) ayat 7)
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki Yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah” (Al Qur’an surat An Nahl (16) ayat 114)

Mengapa MANUSIA Harus BerSYUKUR Kepada ALLAH ?
MANUSIA Harus BerSYUKUR Kepada ALLAH

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna Atas kebanyakan makhluk yang telah Kami Ciptakan” (Al Qur’an surat Al Israa’ (17) ayat 70)

MANUSIA Harus BerSYUKUR Kepada ALLAH
Karena MANUSIA Diciptakan ALLAH Lengkap Dengan MATA Dan Penglihatan TELINGA
Dan Pendengaran HATI Dan Perasaan AKAL Dan Pikiran

QS. Al Hajj (22) ayat 75)(QS. Al Ahzab (33) ayat 72)(QS. An Nahl (16) ayat 78)(QS. Al Mu’minuun (23) ayat 78)(QS. As Sajdah (32) ayat 9)(QS. Al Mulk (67) ayat 23)(QS. Al Israa’ (17) ayat 36)(QS. Al Anfaal (08) ayat 22)(QS. Al A’raaf (07) ayat 179)(QS. Yunus (10) ayat 100)(QS. Al Maa-idah (05) ayat 100)(QS. Ibrahim (14) ayat 52)

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu Dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, Agar kamu bersyukur” (Al Qur’an surat An Nahl (16) ayat 78)
“Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, Pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur” (Al Qur’an surat Al Mu’minuun (23) ayat 78)
“Orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah,Ialah orang yang tidak ada terima kasihnya Terhadap orang lain” (Hadits riwayat Ahmad)

MANUSIA Harus BerSYUKUR Kepada ALLAH
Karena ALLAH Telah Menyediakan Aneka Makanan MANUSIA Di Bumi ALLAH

(QS. Al A’raaf (07) ayat 10), (QS. An Nahl (16) ayat 5-8, 114), (QS. Yaa Siin (36) ayat 73), (QS. ‘Abasa (80) ayat 24-32), (QS. Al An’aam (06) ayat 99), (QS. Al Mu’minuun (23) ayat 18-23), (QS. Al Baqarah (02) ayat 22), (QS. Al Hajj (22) ayat 36)

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi Dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur” (Al Qur’am surat Al A’raaf (07) ayat 10)
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki Yang telah diberikan Allah kepadamu; Dan syukurilah nikmat Allah, Jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah” (Al Qur’am surat An Nahl (16) ayat 114)
“Sesungguhnya bumi itu setiap harinya berseru sebanyak tujuh puluh kali Seraya mengatakan: Hai anak Adam, makanlah apa yang kamu kehendaki dan yang kamu selerai. Demi Allah, kelak aku pasti memakan daging dan kulit kamu” (Hadits riwayat Imam Hakim dari Tsauban)

MANUSIA Harus BerSYUKUR Kepada ALLAH
Karena ALLAH Memberikan MAAF, AMPUNAN Dan TAUBAT
Kepada Semua MANUSIA Yang Menyadari Kesalahannya.

“Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu Maka berilah hukuman kepada keduanya, Kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, Maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi maha penyayang” (An Nisaa’ (04) ayat 16)
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla Berkenan menerima taubat hambaNya Sebelum nyawanya sampai tenggorokkan (sakaratul maut)” (Hadits riwayat Tirmidzi)

MANUSIA Harus BerSYUKUR Kepada ALLAH
Karena ALLAH Menerangkan Hukum-hukumnya
Dan Memberi PETUNJUK Kepada Semua MANUSIA.

(QS. Al Baqarah (02) ayat 1-3, 185)(QS. Ali ‘Imran (03) ayat 138)(QS. Al Maa-idah (05) ayat 89)(QS. Al An’aam (06) ayat 90)(QS. Ibrahim (14) ayat 52)(QS. An Nuur (24) ayat 1)(QS. Az Zumar (39) ayat 41)(QS. Al Jaatsiyah (45) ayat 20)(QS. Al Qalam (68) ayat 52) (QS. Luqman (31) ayat 1-3)

Ya Allah ! berkatilah bagi kami pada pendengaran kami Dan penglihatan kami dan hati kami dan suami/isteri kami Dan keturunan kami dan beri taubatlah kami, Sesungguhnya Engkau penerima taubat lagi penyayang Dan jadikanlah kami orang yang bersyukur atas nikmat Engkau, Orang yang memuji atasnya, orang yang menerimanya Dan sempurnakanlah nikmat itu atas kami” (Hadits riwayat Hakim dari Ibnu Mas’ud)

MANUSIA Harus BerSYUKUR Kepada ALLAH
Karena ALLAH Memberi KARUNIA, NIKMAT Dan REZEKI Yang Baik Kepada MANUSIA

(QS. Al Baqarah (02) ayat 152, 172, 243)(QS. Ali ‘Imran (03) ayat 152)(QS. An Nahl (16) ayat 14)(QS. Al Anfaal (08) ayat 26)(QS. An Nanl (27) ayat 73)(QS. Al Qashash (28) ayat 73)(QS. Ar Ruum (30) ayat 46)(QS. Al Mu’min (40) ayat 61)(QS. Al Jaatsiyah (45) ayat 12)(QS. Ibrahim (14) ayat 7)

“Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat (pula) kepadamu Dan bersyukurlah kepadaKu Dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (Al Qur’an surat Al Baqarah (02) ayat 152)

MANUSIA Harus BerSYUKUR Kepada ALLAH
Karena ALLAH Memberikan BALASAN Dengan ADIL Kepada MANUSIA
Sesuai Dengan Apa Yang Telah Dikerjakannya

(QS. Ali ‘Imran (03) ayat 144-145)(QS. Ibrahim (14) ayat 7)(QS. Al Qamar (54) ayat 35)(QS. Yunus (10) ayat 44)(QS. Al Israa’ (17) ayat 7, 15)(QS. Al Hajj (22) ayat 10)

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, Sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia Niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu Dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (Ali ‘Imran (03) ayat 145)
“Carilah kebutuhan itu dengan cara yang mulia Karena sesungguhnya semua perkara itu berjalan sesuai Dengan takarannya masing-masing (takdir)” (Hadits riwayat Ibnu ‘Asakir)

MANUSIA Harus BerSYUKUR Kepada ALLAH
Sebagai WUJUD KeTAKWAan dan Mencari Ridho ALLAH

(Surat 003 ALI-IMRAN Ayat 015), (QS. Ali ‘Imran (03) ayat 123), (QS. Ibrahim (14) ayat 7), (Surat 031 LUQMAN Ayat 014), (QS. An Nahl (16) ayat 128), (QS. Al Maa-idah (05) ayat 93), QS. Az Zumar (39) ayat 7, 66), (QS. Al Ankabuut (29) ayat 17), (QS. An Naml (27) ayat 40), (QS. Ibrahim (14) ayat 7), (QS. Ali ‘Imran (03) ayat 144-145)

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, Padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” (Al Qur’an surat Ali ‘Imran (03) ayat 123)
“Barangsiapa yang diberi nikmat atasnya satu nikmat Maka hendaklah ia memuji kepada Allah Dan barangsiapa yang terlambat rezekinya, Maka hendaklah ia meminta ampun kepada Allah Dan barangsiapa yang menyusahkan akannya satu pekerjaan maka katakanlah: Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah” (Hadits riwayat Ali)

Terima kasih Tuhan
Bersyukurku padaMu Yaa Rohmaan

 

Iklan

PENDIDIK SEBAGAI MOTIVATOR YANG MENCERAHKAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Jika diamati dari beberapa lembaga pendidikan yang ada sebenarnya sebuah lembaga pendidikan tidak kekurangan pendidik yang luar biasa cerdas, mereka menguasai materi pembelajaran dengan baik bahkan dengan sangat baik. Hanya saja mayoritas para pendidik tersebut kurang dalam memberikan motivasi kepada peserta didiknya. Terinspirasi dari film Laskar pelangi (Bu guru Muslimah yang selalu menyemangati para peserta didiknya untuk maju) maupun film Sang Pemimpi (Pak Ichsan Balia yang selalu memotivator dengan cara  menugaskan kepada para peserta didiknya untuk menyebutkan kalimat pembangkit semangat setiap sebelum dan setelah belajar) seharusnya semua pendidik seperti itu. Memotivasi agar peserta didiknya lebih bersemangat menyongsong masa depan mereka dan tertarik dengan apa yang diajarkan oleh guru. Karena motivasi bisa muncul dari dalam diri sendiri dan dari orang lain (terutama guru) dan logikanya segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang harus menjanjikan dan memberikan manfaat bagi dirinya jika tidak maka orang tersebut tidak akan termotivasi untuk melakukannya.

Sebagai seorang pendidik yang selalu memberikan motivasi yang mencerahkan, menciptakan semangat maju dan menciptakan minat peserta didik kepada materi pembelajaran. Berbagai cara dapat dilakukan, misalnya dengan menjadi pendidik yang baik.

Tidak mudah menjadi pendidik yang baik, dikagumi dan dihormati oleh anak didik, masyarakat sekitar dan rekan seprofesi.  Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang pendidik untuk mendapat pengakuan sebagai pendidik yang baik dan berhasil.

Pertama, Berusahalah tampil di muka kelas dengan prima. Kuasai betul materi pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik. Jika perlu, ketika berbicara di muka kelasa tidak membuka catatan atau buku pegangan sama sekali. Berbicaralah yang jelas dan lancar sehingga terkesan di hati peserta didik bahwa kita benar-benar tahu segala permasalahan dari materi yang disampaikan.

Kedua, Berlakulah bijaksana. Sadarilah bahwa peserta didik yang kita ajar, memiliki tingkat kepandaian yang berbeda-beda. Ada yang cepat mengerti, ada yang sedang, ada yang lambat dan ada yang sangat lambat bahkan ada yang sulit untuk bisa dimengerti. Jika kita memiliki kesadaran ini, maka sudah bisa dipastikan kita akan memiliki kesabaran yang tinggi untuk menampung pertanyaan-pertanyaan dari anak didik kita. Carilah cara sederhana untuk menjelaskan pada peserta didik yang memiliki tingkat kemampuan rendah dengan contoh-contoh sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari walaupun mungkin contoh-contoh itu agak konyol.

Ketiga, Berusahalah selalu ceria di muka kelas. Jangan membawa persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan dari rumah atau dari tempat lain ke dalam kelas sewaktu kita mulai dan sedang mengajar.

Keempat, Kendalikan emosi. Jangan mudah marah di kelas dan jangan mudah tersinggung karena perilaku peserta didik. Ingat peserta didik yang kita ajar adalah remaja yang masih sangat labil emosinya. Peserta didik yang kita ajar berasal dari daerah dan budaya yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya dan berbeda dengan kebiasaan kita, apalagi mungkin pendidikan di rumah dari orang tuanya memang kurang sesuai dengan tata cara dan kebiasaan kita. Marah di kelas akan membuat suasana menjadi tidak enak, peserta didik menjadi tegang. Hal ini akan berpengaruh pada daya nalar peserta didik untuk menerima materi pelajaran yang kita berikan.

Kelima, Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan peserta didik. Jangan memarahi peserta didik yang yang terlalu sering bertanya. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan peserta didik dengan baik. Jika suatu saat ada pertanyaan dari peserta didik yang tidak siap dijawab, berlakulah jujur. Berjanjilah untuk dapat menjawabnya dengan benar pada kesempatan lain sementara kita berusaha mencari jawaban tersebut. Janganlah merasa malu karena hal ini. Ingat sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tapi usahakan hal seperti ini jangan terlalu sering terjadi. Untuk menghindari kejadian seperti ini, berusahalah untuk banyak membaca dan belajar lagi. Jangan bosan belajar. Janganlah menutupi kelemahan kita dengan cara marah-marah bila ada anak yang bertanya sehingga menjadikan anak tidak berani bertanya lagi. Jika peserta didik sudah tidak berani bertanya, jangan harap pendidikan/pengajaran kita akan berhasil.

Keenam, Memiliki rasa malu dan rasa takut. Untuk menjadi pendidik yang baik, maka seorang pendidik harus memiliki sifat ini. Dalam hal ini yang dimaksud rasa malu adalah malu untuk melakukan perbuatan salah, sementara rasa takut adalah takut dari akibat perbuatan salah yang kita lakukan. Dengan memiliki kedua sifat ini maka setiap perbuatan yang akan kita lakukan akan lebih mudah kita kendalikan dan dipertimbangkan kembali apakah akan terus dilakukan atau tidak.

Ketujuh, Harus dapat menerima hidup ini sebagai mana adanya. Di negeri ini banyak semboyan-semboyan mengagungkan profesi pendidik tapi kenyataannya negeri ini belum mampu/mau menyejahterakan kehidupan pendidik. Kita harus bisa menerima kenyataan ini, jangan membandingkan penghasilan dari jerih payah kita dengan penghasilan orang lain/pegawai dari instansi lain. Berusaha untuk hidup sederhana dan jika masih belum mencukupi berusaha mencari sambilan lain yang halal, yang tidak merugikan orang lain dan tidak merugikan diri sendiri. Jangan pusingkan gunjingan orang lain, ingatlah pepatah “anjing menggonggong bajaj berlalu.”

Kedelapan, Tidak sombong.Tidak menyombongkan diri di hadapan murid/jangan membanggakan diri sendiri, baik ketika sedang mengajar ataupun berada di lingkungan lain. Jangan mencemoohkan peserta didik yang tidak pandai di kelas dan jangan mempermalukan peserta didik (yang salah sekalipun) di muka orang banyak. Namun pangillah peserta didik yang bersalah dan bicaralah dengan baik-baik, tidak berbicara dan berlaku kasar pada peserta didik.

Kesembilan, Berlakulah adil. Berusahalah berlaku adil dalam memberi penilaian kepada peserta didik. Jangan membeda-bedakan peserta didik yang pandai/mampu dan peserta didik yang kurang pandai/kurang mampu Serta tidak memuji secara berlebihan terhadap peserta didik yang pandai di hadapan peserta didik yang kurang pandai. (Tohir Zainuri. http//:zainuri.wordpress.com 23 Desember 2009).

Selain itu juga untuk menjadi seorang pendidik yang selalu memberikan motivasi yang mencerahkan, menciptakan minat peserta didik kepada materi pembelajaran, menurut Zulfiandri (2007) seorang pendidik dapat juga melakukan beberapa hal berikut ini, yaitu : melalui pemberian hadiah, hukuman, menciptakan minat dengan cara bermain, bercerita maupun dengan teknik-teknik pencairan suasana yang mengajak mereka untuk fokus kepada materi pembelajaran.

Selain itu menurut Ramayulis (2005: 51) menjadi pendidik harus memiliki syarat-syarat tertentu, yang diantaranya adalah syarat psikis, yaitu seorang pendidik harus sehat rohani, dewasa dalam berpikir dan bertindak, mampu mengendalikan emosi, sabar, ramah dan sopan, memiliki jiwa kepemimpinan, konsekuensi dan berani bertanggung jawab, berani berkorban dan memiliki jiwa pengabdian, guru harus mematuhi norma dan nilai yang berlaku serta memiliki semangat membangun. Inilah pentingnya pendidik harus memiliki rasa keikhlasan yang tinggi terhadap pelaksanaan proses pembelajaran. Jadi pada dasarnya seorang pendidik memang harus kepribadian yang baik, yang dapat memotivasi dan memberikan pencerahan kepada peserta didiknya.

Pengertian Motivasi

Ada sepenggal kata bijak “Kerjakanlah sesuatu secara tulus dan wajar, dan segalanya akan baik. Kesempurnaan terletak pada motivasi kerja, bukan pada pekerjaan” (Guru Ching Hai). Demikian besarnya pengaruh motivasi dalam kehidupan manusia, karena dengan motivasi manusia dapat melakukan sesuatu.

Motivasi berpangkal dari kata “motif”, yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motiv dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan) (Pupuh, 2007 : 19). Adapun menurut Mc Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan muculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc Donald ini, maka terdapat tiga elemen atau ciri pokok dalam motivasi, yakni: motivasi mengawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan (Sardiman, 2004).

Namun pada intinya dapat disederhanakan bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi berfungsi sebagai berikut (Omar Hamalik, 2002) :

1.      Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan langkah penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

2.      Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

3.      Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Jadi motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan sekaligus sebagai penggerak perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Pendidik merupakan faktor yang penting untuk mengusahakan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dengan cara memenuhi kebutuhan peserta didik.

Peran Pendidik sebagai motivator dalam Pembelajaran

Hari Senin tanggal 07 Februari 2009 jam pelajaran kedua aku berada kelas 9 b. Hanya dua peserta didik yang tidak masuk, keduanya ada surat ijin karena sakit. Pelajaran aku mulai dengan apresepsi selama kurang lebih 5 menit. Pada waktu apresepsi sudah selesai peserta didik putra mulai gaduh saling berebut kertas warna putih. Kudekati salah satu peserta didik tersebut. Aku bertanya “Apakah yang diperebutkan ? Jawabnya “ Lembar tugas yang ibu berikan Minggu kemarin, saya meminjam kepunyaan Lina, Bu”. Dan ternyata ada delapan peserta didik putra yang tidak mengerjakan tugas, bahkan lembar kerjanya kesemuanya tertinggal dirumah. Sedangkan tiga puluh dua peserta didik lainnya mengerjakan tugas dengan baik.

Pendidik sebagai agen pembelajaran mempunyai peran yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini peran pendidik terkait dengan peran peserta didik dalam belajar. Pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah peran tersebut sangat tinggi, karena ada gejala pada diri peserta didik malas belajar, membolos sekolah, menjawab hanya asal kena (clometan), senda gurau, menggunakan HP bila pendidik menjelaskan bahan-bahan yang sekiranya perlu difahami hal ini merupakan ketidaksadaran peserta didik tentang belajar.

Peserta didik dalam belajar memiliki bermacam-macam motivasi. Menurut Biggs dan Telfer motivasi tersebut adalah sebagai berikut: (1) motivasi instrumental; (2) motivasi sosial; (3) motivasi instriksik. dan (4) motivasi berprestasi. Motivasi instrumental maksudnya bahwa peserta didik belajar karena didorong adalah hadiah atau menghidari dari hukuman. Motivasi sosial maksudnya adalah peserta didik belajar penyelenggaraan tugas, berarti keterlibatan pada tugas menonjol. Motivasi instriksik maksudnya belajar karena keinginan dari diri sendiri. Motivasi instrumental dan motivasi sosial termasuk kondisi eksternal sedang motivasi instriksik dan motivasi berprestasi termasuk kondisi internal. Motivasi berprestasi dibedakan motivasi berprestasi tinggi dan motivasi berprestasi rendah. Peserta didik memiliki motivasi berprestasi dan motivasi instriksik diduga peserta didik akan berusaha belajar segiat mungkin (http://pendidikpkn3smp.blogspot.com/2009/02/peran-pendidik-sebagai-motivator.html).

Pada motivasi instriksik maka ditemukan sifat perilaku sebagai berikut: (1) peserta didik kualitas keterlibatnya dalam belajar sangat tinggi berarti pendidik tinggal memelihara semangat, (2) Perasaan dan keterlibatan ranah afektif tinggi; dalam hal ini pendidik memelihara keterlibatan belajar peserta didik. (3) motivasi ini sifatnya memelihara sendiri. Dengan demikian pendidik harus memeliharan keterlibatan peserta didik dalam belajar (Dyah Purwati, 2009).

Pendidik harus benar-benar memahami motivasi belajar peserta didiknya dan kemudian memberi motivasi yang tepat. Apabila peserta didik motivasi berprestasi tinggi, lebih berkeinginan meraih keberhasilan, lebih terlibat dalam tugas-tugas dan tidak menyukai kegagalan, maka dalam hal ini tugas pendidik menyalurkan semangat kerja keras, dan apabila peserta didik memiliki motivasi berprestasi rendah, yang pada umumnya lebih suka menghindari dari tugas, maka pendidik sebaiknya memberi motivasi yang lebih agar peserta didik tersebut sadar akan belajar dan diharapkan pendidik mampu berkreasi dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran.

Karena hal ini sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada pendidik (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada peserta didik (student oriented), maka peran pendidik dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran pendidik sebagai motivator.

Proses pembelajaran akan berhasil manakala peserta didik mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, pendidik perlu menumbuhkan motivasi belajar peserta didik. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, pendidik dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar peserta didik, sehingga terbentuk perilaku belajar peserta didik yang efektif. Dalam perspektif manajemen maupun psikologi, kita dapat menjumpai beberapa teori tentang motivasi (motivation) dan pemotivasian (motivating) yang diharapkan dapat membantu para manajer (baca: pendidik) untuk mengembangkan keterampilannya dalam memotivasi para peserta didiknya agar menunjukkan prestasi belajar atau kinerjanya secara unggul. Kendati demikian, dalam praktiknya memang harus diakui bahwa upaya untuk menerapkan teori-teori tersebut atau dengan kata lain untuk dapat menjadi seorang motivator yang hebat bukanlah hal yang sederhana, mengingat begitu kompleksnya masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku individu (peserta didik), baik yang terkait dengan faktor-faktor internal dari individu itu sendiri maupun keadaan eksternal yang mempengaruhinya (http://www.psb-psma.org/content/blog/peran-pendidik-sebagai-motivator).

Terlepas dari kompleksitas dalam kegiatan pemotivasian tersebut, dengan merujuk pada pemikiran Wina Senjaya (2008), di bawah ini dikemukakan beberapa petunjuk umum bagi pendidik dalam rangka meningkatkan motivasi belajar peserta didik,

1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai.

Tujuan yang jelas dapat membuat peserta didik paham ke arah mana ia ingin dibawa. Pemahaman peserta didik tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat peserta didik untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar peserta didik. Oleh sebab itu, sebelum proses pembelajaran dimulai hendaknya pendidik menjelaskan terlebih dulu tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini, para peserta didik pun seyogyanya dapat dilibatkan untuk bersama-sama merumuskan tujuan belajar beserta cara-cara untuk mencapainya.

2. Membangkitkan minat peserta didik.

Peserta didik akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar peserta didik merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Beberapa cara dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar peserta didik, diantaranya :

  • Hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan peserta didik. Minat peserta didik akan tumbuh manakala ia dapat menangkap bahwa materi pelajaran itu berguna untuk kehidupannya. Dengan demikian pendidik perlu menjelaskan keterkaitan materi pelajaran dengan kebutuhan peserta didik.
  • Sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan peserta didik. Materi pelajaran yang terlalu sulit untuk dipelajari atau materi pelajaran yang jauh dari pengalaman peserta didik, akan tidak diminati oleh peserta didik. Materi pelajaran yang terlalu sulit tidak akan dapat diikuti dengan baik, yang dapat menimbulkan peserta didik akan gagal mencapai hasil yang optimal; dan kegagalan itu dapat membunuh minat peserta didik untuk belajar. Biasanya minat peserta didik akan tumbuh kalau ia mendapatkan kesuksesan dalam belajar.
  • Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi, misalnya diskusi, kerja kelompok, eksperimen, demonstrasi, dan lain-lain.

3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.

Peserta didik hanya mungkin dapat belajar dengan baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut. Usahakan agar kelas selamanya dalam suasana hidup dan segar, terbebas dari rasa tegang. Untuk itu pendidik sekali-sekali dapat melakukan hal-hal yang lucu.

4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan peserta didik.

Motivasi akan tumbuh manakala peserta didik merasa dihargai. Memberikan pujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan. Pujian tidak selamanya harus dengan kata-kata. Pujian sebagain penghargaan dapat dilakukan dengan isyarat, misalnya senyuman dan anggukan yang wajar, atau mungkin dengan tatapan mata yang meyakinkan.

5. Berikan penilaian.

Banyak peserta didik yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian peserta didik nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar peserta didik secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan secara objektif sesuai dengan kemampuan peserta didik masing-masing.

6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan peserta didik.

Peserta didik butuh penghargaan. Penghargaan bisa dilakukan dengan memberikan komentar positif. Setelah peserta didik selesai mengerjakan suatu tugas, sebaiknya berikan komentar secepatnya, misalnya dengan memberikan tulisan “bagus” atau “teruskan pekerjaanmu” dan lain sebagainya. Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

7. Ciptakan persaingan dan kerja sama.

Persaingan yang sehat dapat memberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran peserta didik. Melalui persaingan peserta didik dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik. Oleh sebab itu, pendidik harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk bersaing baik antara kelompok maupun antar-individu. Namun demikian, diakui persaingan tidak selamanya menguntungkan, terutama untuk peserta didik yang memang dirasakan tidak mampu untuk bersaing, oleh sebab itu pendekatan cooperative learning dapat dipertimbangkan untuk menciptakan persaingan antar kelompok (Anita Lie, 2002).

Di samping beberapa petunjuk cara membangkitkan motivasi belajar peserta didik di atas, adakalanya motivasi itu juga dapat dibangkitkan dengan cara-cara lain yang sifatnya negatif seperti memberikan hukuman, teguran, dan kecaman, memberikan tugas yang sedikit berat (menantang). Namun, teknik-teknik semacam itu hanya bisa digunakan dalam kasus-kasus tertentu. Beberapa ahli mengatakan dengan membangkitkan motivasi dengan cara-cara semacam itu lebih banyak merugikan peserta didik. Untuk itulah seandainya masih bisa dengan cara-cara yang positif, sebaiknya membangkitkan motivasi dengan cara negatif dihindari.

Sementara itu Zulfiandri (2007) berpendapat bahwa beberapa prinsip dasar motivasi dalam rangka pembelajaran agar peserta didik memiliki arah motivasi mendekat adalah :

1. Gunakan lingkungan sekeliling untuk memfokuskan perhatian peserta didik pada pembelajaran

Para pendidik yang mencerahkan mampu menghangatkan suasana kelas dan atmosfer pembelajaran dengan menggunakan lingkungan sekitar. Gunakan bantuan visual, seperti boklet, poster, peralatan praktik untuk mengarahkan perhatian peserta belajar.

2.   Berikan pujian

Sependapat dengan Wina Sanjaya, bahwa peserta didik perlu diberi pujian. Pada situasi pembelajaran secara umum, motivasi diri tanpa penghargaan tidak akan berhasil. Salah satu bentuk penghargaan adalah pujian. Pujian merupakan bentuk motivasi dengan arah mendekat. Anak-anak yang terbiasa diberikan motivasi menjauh, misalnya dengan cacian atau hinaan, cenderung memiliki kepercayaan diri dan inisiatif yang rendah

3.  Motivasi internal adalah kekal lebih panjang dan lebih kuat dibanding motivasi eksternal.

Motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang jauh lebih kuat dari motivasi yang diberikan dari luar. Motivasi dari luar misalnya pujian dan reward. Motivasi luar ibarat balon yang dipompa dengan alat pompa. Sedangkan motivasi dari dalam diri sendiri ibarat orang memiliki pompa yang siap untuk memompa balon setiap saat ketika dia melihat kecenderungan semangatnya mengempis.

4.   Pembelajaran akan berjalan efektif ketika peserta didik siap untuk belajar

Ketika peserta didik membuat pertanyaan, hal ini berarti ada minat dalam pembelajaran. Atau ketika peserta didik mempersiapkan dirinya dan memiliki minat terhadap pembelajaran maka secara otomatis gelombang otaknya focus dan siap untuk belajar. Fokus dapat diperoleh dengan metode pencairan suasana (ice breaking).

Disamping itu Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno (2007: 20-21) berpendapat bahwa ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, yaitu :

1.   Menjelaskan tujuan belajar kepada peserta didik

Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang pendidik menjelaskan mengenai tujuan yang akan dicapainya kepada peserta didik. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajat.

2.   Hadiah

Berikan hadian untuk semua peserta didik yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Disamping itu, peserta didik yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bias mengejar peserta didik yang berprestasi.

3.   Saingan/kompetisi

Guru berusaha mengadakan persaingan diantara peserta didiknya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang dicapai sebelumnya.

4.   Pujian

Sudah sepantasnya peserta didik yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yanag bersifat memotivasi.

5.   Hukuman

Hukuman diberikan kepada peserta didik yang berbuat kesalahan saat proses pembelajaran. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar peserta didik tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

6.   Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar

Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik.

7.   Membentuk kebiasaan belajar yang baik.

8.   Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun komunal

(kelompok).

9.   Menggunakan metode yang bervariasi dalam setiap proses pembelajaran.

10. Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Tiap peserta didik memiliki kemampuan indera yang tidak sama, baik pendengaran maupun pengelihatannya, demikian juga kemampuan berbicara. Ada yang lebih senang membaca ada yang lebih senang mendengar (karena gaya belajar peserta didik bervariasi ada yang auditorial, visual dan kinestetik (Bobbi DePorter, 2000 : 84)) dengan variasi penggunaan media, kelemahan indera yang dimiliki tiap peserta didik dapat dikurangi. Untuk menarik perhatian anak misalnya, pendidik dapat memulai dengan berbicara terlebih dahulu, kemudian menulis di papan tulis, dilanjutkan dengan melihat contoh konkret. Dengan variasi seperti ini, maka diharapkan dapat memberi stimulus terhadap indera peserta didik.

Sebagai seorang pendidik yang selalu memotivasi dan mencerahkan, maka konsep diri positif dan meyakini apapun yang terjadi dalam diri kita adalah positif maknanya, dengan memiliki konsep diri positif, seorang pendidik akan mampu mempengaruhi lingkungan sekitar dengan aura positif yang dimiliki.

Kisah di bawah ini yang mungkin terjadi pada diri kita, sebagai seorang pendidik di depan para peserta didik di depan kelas pada sebuah lembaga pendidikan :

“baik anak-anak sekalian, kalian telah melihat hasil uji coba Ujian Akhir Nasional. Tenyata hasil mengecewakan kita semua. Saya tidak mengerti kenapa kalian bias dapat nilai yang mengecewakan tersebut. Padahal sebagai pendidik saya sudah memberikan semuanya kepada kalian. Kenapa membalas kebaikan kami dengan cara yang demikian. Kalau sudah seperti ini, saya sudah tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan. Masa depan kalian sudah bias digambarkan sekarang. Suram !!!”

Atau kita dapat melihat sebuah kejadian pada tempat yang berbeda, dengan tema yang hampir sama

“baik anak-anak semuanya. Kalian tentu telah melihat hasil uji coba Ujian Akhir Nasional? Hasilnya memang agak sedikit mengecewakan kita semua, namun saya yakin ini belumlah hasil terbaik yang kalian bias tampilkan. Ini baru uji coba, baru pemanasan. Kami pihak guru yakin bahwa, jika bias memperbaiki cara belajar dan keseriusan kita maka kita akan bias menuai sukses. Kita semua akan benar-benar diuji pada saat Ujian Akhir Nasional. Jika kalian mempersiapkan diri sebaik mungkin, dan kami para pendidik, dengan senang hati membantu kalian agar bias sukses pada Ujian Akhir Nasional. Oke! Sekarang kita bersama bersepakat untuk meraih kesuksesan pada saat Ujian Akhir Nasional, mempersiapkan diri sebaik  mungkin, dan kami para pendidik, dengan senang hati membantu kalian agar bias suksses pada ujian akhir ”.

Kejadian pertama adalah contoh para pendidik yang tidak memiliki kemampuan memberikan motivasi dan pencerahan. Dia tidak memiliki konsep positif pada dirinya. Sedangkan pada kejadian yang kedua merupakan gambaran pendidik yang mencerahkan dan  selalu memberikan motivasi. Maka untuk semua pendidik jadilah para pendidik yang selalu memberikan motivasi yang mencerahkan.

Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya letupan kesuksesan para generasi penerus bangsa ini  jika memiliki para pendidik yang selalu memotivasi dan memberikan pencerahan, bukan para pendidik killer (pembunuh semangat dan kreativitas peserta didik). Seperti halnya mimpi yang dimiliki anak-anak di film Sang Pemimpi (Ikal, Arai dan Jimron) mimpi yang akhirnya dapat mereka raih, mimpi yang mereka dapat karena terinspirasi dari motivasi dan pencerahan dari pendidiknya sehingga mereka menjadi anak-anak yang selalu bersemangat belajar dan bersemangat mengejar cita-cita. Jadi wahai para pendidik jadilah pendidik yang selalu memotivasi dan memberikan pencerahan kepada para peserta didikmu, jangan menjadi pendidik yang killer, demi tercapainya Indonesia maju dengan memiliki generasi-generasi penerus bangsa yang bersemangat, cerdas dan kreatif .

Pembagian Hadits

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar belakang

Hadits yang dipahami sebagai pernyataan, perbuatan, persetujuan dan hal yang berhubungan dengan Nabi Muhammad saw. Dalam tradisi Islam, hadits diyakini sebagai sumber ajaran agama kedua setelah al-Quran. Disamping itu hadits juga memiliki fungsi sebagai penjelas terhadap ayat-ayt al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam QS: an-Nahl ayat 44. Hadits tersebut merupakan teks kedua, sabda-sabda nabi dalam perannya sebagai pembimbing bagi masyarakat yang beriman. Akan tetapi, pengambilan hadits sebagai dasar bukanlah hal yang mudah. Mengingat banyaknya persoalan yang terdapat dalam hadits itu sendiri. Sehingga dalam berhujjah dengan hadits tidaklah serta merta digunakan sebagai sumber ajaran.

Adanya rentang waktu yang panjang antara Nabi dengan masa pembukuan hadits adalah salah satu problem. Para muhaddisin, dalam menentukan dapat diterimanya suatu hadits tidak mencukupkan diri hanya pada terpenuhinya syarat-syarat diterimanya rawi yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena mata rantai rawi yang teruntai dalam sanad-sanadnya sangatlah panjang. Oleh karena itu, haruslah terpenuhinya syarat-syarat lain yang memastikan kebenaran perpindahan hadits di sela-sela mata rantai sanad tersebut.

I.2. Tujuan

Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami pembagian hadits baik ditinjau dari segi kuantitas dan kualitasnya.

I.3. Rumusan masalah

  1. Pembagian hadits ditinjau dari segi kuantitas
  2. Pembagian hadits ditinjau dari segi kualitas
  3. Syarat-syarat hadits shahih

BAB II

PEMBAHASAN

II.1. Pembagian Hadits

II.1.1.  Dari Segi Jumlah Periwayatnya

Hadits ditinjau dari segi jumlah rawi atau banyak sedikitnya perawi yang menjadi sumber berita, maka dalam hal ini pada garis besarnya hadits dibagi menjadi dua macam, yakni hadits mutawatir dan hadits ahad.

1. Hadits Mutawatir

a. Ta’rif Hadits Mutawatir

Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. Sedangkan menurut istilah ialah:
“Suatu hasil hadis tanggapan pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta.”
Artinya:
“Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.”

Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir, yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera, seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia, baik yang terpuji maupun yang tercela, juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak, tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta.

Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya. Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung dari Nabi Muhammad SAW, maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut. Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits. Ada yang melihat atau mendengar, ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera, misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya. Disamping itu, dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu.

Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, maka penyampaian itu adalah secara mutawatir.

b. Syarat-Syarat Hadits Mutawatir

Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang semacamnya, dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya, maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak

2. Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta.

a. Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim.

b. Ashabus Syafi’i menentukan minimal 5 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi.

c. Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji, yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65).

d. Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah:
“Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu).” (QS. Al-Anfal: 64).

3. Seimbang jumlah para perawi, sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya, bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya. Sedangkan Ibnu Salah berpendapat bahwa mutawatir itu memang ada, tetapi jumlahnya hanya sedikit.

Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits, kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir, seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri al-Mutawatirah, susunan Imam As-Suyuti(911 H), Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-Mutawatir, susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H).

C. Faedah Hadits Mutawatir

Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu daruri, yakni keharusan untuk menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia membawa keyakinan yang qath’i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa penelitian terhadap rawi-rawi hadits mutawatir tentang keadilan dan kedlabitannya tidak diperlukan lagi, karena kuantitas/jumlah rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk tidak bersepakat dusta. Oleh karenanya wajiblah bagi setiap muslim menerima dan mengamalkan semua hadits mutawatir. Umat Islam telah sepakat tentang faedah hadits mutawatir seperti tersebut di atas dan bahkan orang yang mengingkari hasil ilmu daruri dari hadits mutawatir sama halnya dengan mengingkari hasil ilmu daruri yang berdasarkan musyahailat (penglibatan pancaindera).

d. Pembagian Hadits Mutawatir

Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam :

1. Hadits Mutawatir Lafzi.

Muhadditsin memberi pengertian Hadits Mutawatir Lafzi antara lain :
“Suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafaz menurut para rawi dan demikian juga pada hukum dan maknanya.”

Pengertian lain hadits mutawatir lafzi adalah :
“Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafaznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi dari sejumlah rawi.”

Contoh Hadits Mutawatir Lafzi :
“Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka.”

Silsilah/urutan rawi hadits di atas ialah sebagai berikut :

Menurut Abu Bakar Al-Bazzar, hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat, kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat.

2. Hadits mutawatir maknawi , Hadits mutawatir maknawi adalah :

Artinya : “Hadis yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya, tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum.”
Artinya: “Hadis yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafaz.”

Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut, namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya.

Contoh :

Artinya :
“Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa’ dan beliau mengangkat tangannya, sehingga nampak putih-putih kedua ketiaknya.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak, yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Antara lain hadis-hadis yang ditakrijkan oleh Imam ahmad, Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi :

Artinya : “Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau.”

3. Hadis Mutawatir Amali. Hadis Mutawatir Amali adalah :

Artinya : “Sesuatu yang mudah dapat diketahui bahwa hal itu berasal dari agama dan telah mutawatir di antara kaum muslimin bahwa Nabi melakukannya atau memerintahkan untuk melakukannya atau serupa dengan itu.”

Di samping pembagian hadis mutawatir sebagimana tersebut di atas, juga ulama yang membagi hadis mutawatir menjadi 2 (dua) macam saja. Mereka memasukkan hadis mutawatir amali ke dalam mutawatir maknawi. Oleh karenanya hadis mutawatir hanya dibagi menjadi mutawatir lafzi dan mutawatir maknawi.

2. Hadis Ahad

a. Pengertian hadis ahad

Menurut Istilah ahli hadis, tarif hadis ahad antara laian adalah:

Artinya: “Suatu hadis (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai jumlah pemberita hadis mutawatir; baik pemberita itu seorang. dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, tetapi jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut masuk ke dalam hadis mutawatir. “

Ada juga yang memberikan ta’rif sebagai berikut:

Artinya: “Suatu hadis yang padanya tidak terkumpul syara-syarat mutawatir.”

b. Faedah hadist ahad

Para ulama sependapat bahwa hadis ahad tidak Qat’i, sebagaimana hadis mutawatir. Hadis ahad hanya memfaedahkan zan, oleh karena itu masih perlu diadakan penyelidikan sehingga dapat diketahui maqbul dan mardudnya. Dan kalau temyata telah diketahui bahwa, hadis tersebut tidak tertolak, dalam arti maqbul, maka mereka sepakat bahwa hadis tersebut wajib untuk diamalkan sebagaimana hadis mutawatir. Bahwa neraca yang harus kita pergunakan dalam berhujjah dengan suatu hadis, ialah memeriksa “Apakah hadis tersebut maqbul atau mardud”. Kalau maqbul, boleh kita berhujjah dengannya. Kalau mardud, kita tidak dapat iktiqatkan dan tidak dapat pula kita mengamalkannya.

Kemudian apabila telah nyata bahwa hadis itu (sahih, atau hasan), hendaklah kita periksa apakah ada muaridnya yang berlawanan dengan maknanya. Jika terlepas dari perlawanan maka hadis itu kita sebut muhkam. Jika ada, kita kumpulkan antara keduanya, atau kita takwilkan salah satunya supaya tidak bertentangan lagi maknanya. Kalau tak mungkin dikumpulkan, tapi diketahui mana yang terkemudian, maka yang terdahulu kita tinggalkan, kita pandang mansukh, yang terkemudian kita ambil, kita pandang nasikh.

Jika kita tidak mengetahui sejarahnya, kita usahakan menarjihkan salah satunya. Kita ambil yang rajih, kita tinggalkan yang marjuh. Jika tak dapat ditarjihkan salah satunya, bertawaqquflah kita dahulu. Alhasil, barulah dapat kita dapat berhujjah dengan suatu hadis, sesudah nyata sahih atau hasannya, baik ia muhkam, atau mukhtakif adalah jika dia tidak marjuh dan tidak mansukh.

C. Pembagian Hadits Ahad

Bila dilihat jumlah rawi dalam hadits Ahad, maka hadits Ahad terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu :

    1. Hadits Mansyhur
    2. Hadits Aziz
    3. Hadits Gharib
  1. Hadits Mansyhur

Yang dimaksud dengan Hadits Mansyhur  adalah jumlah perawi pada hadits ini banyak akan tetapi dari jumlah tersebut belum sampai memberikan faedah ilmu Dharuri, sehingga kedudukan haditsnya menjadi zhanni. Adapun hadits ini dinamakan Mansyhur karena telah tersebar dikalangan masyarakat luas.

Dari segi kualitasnya, Hadits Mansyhur ada yang dinyatakan sahih ada yang Hasan dan ada pula yang Dha’if.

Hadits Mansyhur dinamakan sahih bila hadits tersebut memenuhi syarat-syarat kesahihanya, dan bila dinamakan Hadits Mansyhur Hasan bila Hadits Mansyhur ini kualitas prawianya dibawah Hadits Mansyhur yang sahih, sedangkan Hadits Mansyhur yang Dha’if artinya Hadits Mansyhur yang tidak memiliki syrat-syarat atau yang kurang salah satu syaratnya dari syarat Hadits yang dinyatakan “shahih”.

  1. Hadits Aziz

Ta’rif hadits Aziz adalah “ Hadits yang diriwayatkan oleh dua orang perawi walaupun orang perawi tersebut terdapat pada satu thabaqah saja, kemudian setelah itu orang banyak meriwayatkanya,”

Dari ta’rif tersebut dapat dipahami bahwa yang dikatakan hadits Aziz bukan saja yang diriwayatkan oleh dua orang pada setiap thabaqah didapati dua orang rawi, maka sudah bisa dikatakan hadits Aziz. Dengan demikian , hadits Aziz dapat berpadu dengan hadits Mansyhur.

  1. Hadits Gharib

Secara definitif, hadits Gharib ialah “ Hadits yang dalam sanadnya terdapat seseorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi”. Adapun hadits Gharib dapat diklasifikasi menjadi dua macam yaitu Gharib Muthlaq dan Gharib Nisbiy.

II.1.2. Dari segi Kualitas


1.  Hadits Sahih


Hadits sahih menurut bahasa berarti hadits yng bersih dari cacat, hadits yang benar berasal dari Rasulullah SAW. Sedangkan menurut istilah, Hadits sahih adalah hadits yang susunan lafadnya tidak cacat dan maknanya tidak menyalahi ayat (al-Quran), hadis mutawatir, atau ijimak serta para rawinya adil dan dabit. Untuk bisa dikatakan sebagai hadits shahih, maka sebuah hadits haruslah memenuhi kriteria berikut ini:

  1. Sanadnya bersambung (ittishal al-sanad), Sanadnya bersambung adalah bahwa tiap-tiap perawinya dalam sanad hadis menerima riwayat dari perawi terdekat sebelumnya.
  2. b. Perawinya Adil, Kata adil menurut bahasa biasanya berarti lurus ,tidak berat sebelah, tidak zalim, tidak menyimpang, tulus, jujur.
  3. c. Perawinya Dhabit, Kata dhabth menurut bahasa adalah kokoh, yang kuat, yang hafal dengan sempurna.
  4. d. Tidak Syadz (Janggal), Syadz atau syudzuz (jama’ dari syadz) disini, adalah hadis yang bertentangan dengan hadis lain yang lebih kuat lebih tsiqqah.
  5. e. Tidak ber-illat (Ghair Mu’ allal), Kata ‘illal yang bentuk jamaknya ‘ilal atau al-‘ilal, menurut bahasa berarti cacat, penyakit, keburukan dan kesalahan baca. Menurut istilah, ‘illal berarti suatu sebab yang tersembunyi atau samar-samar, yang karenanya dapat merusak kesahihan hadis tersebut.

2. Hadits Hasan

Menurut bahasa, hasan berarti bagus atau baik. Menurut Istilah ialah setiap hadits yang diriwayatkan melalui sanad di dalamnya tidak terdapat rawi yang dicurigai berdusta, matan haditsnya, tidak janggal diriwayatkan melalui sanad yang lain pula yang sederajat. Hadits yang demikian kami sebut hadits hasan.

Syarat hadits hasan adalah:  Para perawinya adil. Kedhabitan perawinya dibawah perawi hadits sahih.Sanadnya bersambung. Tidak mengandung kejanggalan pada matannya. Tidak ada cacat atau illat.

3. Hadits Daif

Hadits daif menurut bahasa berarti hadits yang lemah, yakni para ulama memiliki dugaan
yang lemah (keci atau rendah) tentang benarnya hadits itu berasal dari Rasulullah SAW.
Para ulama memberi batasan bagi hadits daif :

Artinya : “Hadits daif adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat hadits sahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan.”

Jadi hadits daif itu bukan saja tidak memenuhi syarat-syarat hadits sahih, melainkan juga
tidak memenuhi syarat-syarat hadits hasan. Pada hadits daif itu terdapat hal-hal yang
menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal
dari Rasulullah SAW.

BAB III

PENUTUP

III.1. Kesimpulan

Hadits bila ditinjau dari pembagiannya dapat dilihat dari segi kuantitas dan kualitas hadits. Dari segi kuantitas, hadits dibagi menjadi hadits mutawatir dan hadis ahad. Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi 3 (tiga) macam : Hadits Mutawatir Lafzi, Hadits mutawatir maknawi, dan Hadis Mutawatir Amali. Bila dilihat jumlah rawi dalam hadits Ahad, maka hadits Ahad terbagi ke dalam tiga bagian, yaitu hadits mansyhur, hadits aziz, dan hadits gharib.

Dari segi kualitas, hadits dibagi menjadi hadits shahih, hadits hasan, dan hadits dhaif. Suatu hadits dapat dikatakan shahih jika hadits tersebut telah memenuhi beberapa syarat berikut:

–         Sanadnya bersambung (ittishal al-sanad)

–         Perawinya Adil,

–         Perawinya Dhabit

–         Tidak Syadz (Janggal),

–         Tidak ber-illat (Ghair Mu’ allal)

DAFTAR PUSTAKA

Endang Soetari AD, Ilmu Hadits, Bandung: Amal Bakti Press 1997
Mahmud Tohan dalam Taisir Mustalah Hadits
Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, terj: Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Ushulul Hadits: Pokok-Pokok Ilmu Hadits, Jakarta: Gaya Media Pratama 1998
————-, Ushul al-Hadits: ‘Ulumuhu wa Musthalahuhu, Beirut: Dar al-‘Ilmu li al-Malayin 1977
————-, Al-Sunnah Qabl al-Tadwin, Beirut: Dar al-Fikr 1981
Nuruddin Itr ter: Mujiyo, Ulum Hadits, Bandung: Remaja Rosdakarya 1997
————, Manhaj fi Ulum al-Hadits, Damaskus: Dar al-Fikr 1998
Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Semarang: Pustaka Rizki Putra 1999

SUMBER http://qyonglee.multiply.com/journal/item/15 http://www.cybermq.com/pustaka/detail//99/pembagian-hadits-secara-umum

http://www.cybermq.com/gambarpustaka/1-2.gif

Al-Quran tidak ada keraguan di dalamnya

As.saudaraku yang seiman kebanyakan kita umat islam mengaku cinta dengan kitab Al-Qur’an, akan tetapi ketikan kita ditanya tentang isi kandungannya kebanyakan kita tidak bisa menjawab. yuk kita baca,pelajari,pahami,amalkan dan kita syiarkan ayat2 Allah agar kita menjadi orang yang memang benar-benar meyakini ayat2 Allah..

KIRA-KIRA APA PEDOMAN HIDUP KITA???

Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. QS. al-Jatsiyah (45) : 20

BOLEH TIDAK KITA RAGU-RAGU DENGAN AL-QUR’AN????

Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. QS. al-Baqarah (2) : 2

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang memang benar. QS. al-Baqarah (2) : 23

KIRA-KIRA BANYAK TIDAK YANG BERIMAN TERHADAP AL-QUR’AN????

Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya). QS. ar-Ra’d (13) : 1

KIRA-KIRA APAKAH AL-QUR’AN MASIH BERSIFAT GLOBAL ATAU TIDAK TERPRINCI???

Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta di jelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu. QS. Hud (11) : 1

KIRA-KIRA MUDAH TIDAK BELAJAR AL-QUR’AN????

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? QS. al-Qamar (54) : 17

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? QS. al-Qamar (54) : 22

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? QS. al-Qamar (54) : 32

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adalah orang yang mengambil pelajaran? QS. al-Qamar (54) : 40

KENAPA KITA TIDAK BOLEH RAGU DENGAN AL-QUR’AN???

Dan Kami turunkan (Al Qur’an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. QS. al-Isra’ (17) : 105

BAGAIMANA JIKA KITA TIDAK BERIMAN DENGAN AL-QUR’AN?????

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. QS. al-A’raf (7) : 182

Sesungguhnya orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. QS. an-Nisa’ (4) : 56
—————————————————————————————–SEMOGA BERMANFAAT UNTUK KITA SEMUA AMIN,…..!!!

Hysteria – Muse

(intro) Am Em Dm Am

Verse 1
Am Em
It’s bugging me, grating me
G F#
Twisting me around
Am
Yeah I’m endlessly
Em
Caving in
G F#
And turning inside out

Chorus

C
‘Cos I want it now____
G
I want it know____
Dm Am
Give me your heart and your soul
C
And I’m breaking out____
G
I’m breaking out____
Dm Am
Give me your complete control

(little solo)

Verse 2
Am Em
It’s holding me, morphing me
G F#
And forcing me to strive
Am Em
To be endlessly cold within
G F#
And dreaming I’m alive

Chorus

C
‘Cos I want it now____
G
I want it know____
Dm Am
Give me your heart and your soul
C
And I’m breaking out____
G
I’m breaking out____
Dm Am
Give me your complete control

(long solo)

Chorus
C
And want you now____
G
I want you now____
Dm Am
I’ll feel my heart implode
C
And I’m breaking out____
G
Escaping now____
Dm Am
Feeling my faith erode

Tentang Dakwah

Memang seperti itu dakwah.
Dakwah adalah cinta.
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu.
Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.

Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang…

“ Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”
(alm. Ust Rahmat Abdullah)

Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya harus mengalah. : In memoriam Ust. Rahmat Abdullah La’allanaa fii barokatillah…. Ya Alloh, karuniakanlah kami panasnya iman yang mampu membakar ruh HAMASAH untuk terus bermujahadah dengan penuh kesabaran….aamiin.