PENDIDIK SEBAGAI MOTIVATOR YANG MENCERAHKAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Jika diamati dari beberapa lembaga pendidikan yang ada sebenarnya sebuah lembaga pendidikan tidak kekurangan pendidik yang luar biasa cerdas, mereka menguasai materi pembelajaran dengan baik bahkan dengan sangat baik. Hanya saja mayoritas para pendidik tersebut kurang dalam memberikan motivasi kepada peserta didiknya. Terinspirasi dari film Laskar pelangi (Bu guru Muslimah yang selalu menyemangati para peserta didiknya untuk maju) maupun film Sang Pemimpi (Pak Ichsan Balia yang selalu memotivator dengan cara  menugaskan kepada para peserta didiknya untuk menyebutkan kalimat pembangkit semangat setiap sebelum dan setelah belajar) seharusnya semua pendidik seperti itu. Memotivasi agar peserta didiknya lebih bersemangat menyongsong masa depan mereka dan tertarik dengan apa yang diajarkan oleh guru. Karena motivasi bisa muncul dari dalam diri sendiri dan dari orang lain (terutama guru) dan logikanya segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang harus menjanjikan dan memberikan manfaat bagi dirinya jika tidak maka orang tersebut tidak akan termotivasi untuk melakukannya.

Sebagai seorang pendidik yang selalu memberikan motivasi yang mencerahkan, menciptakan semangat maju dan menciptakan minat peserta didik kepada materi pembelajaran. Berbagai cara dapat dilakukan, misalnya dengan menjadi pendidik yang baik.

Tidak mudah menjadi pendidik yang baik, dikagumi dan dihormati oleh anak didik, masyarakat sekitar dan rekan seprofesi.  Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh seorang pendidik untuk mendapat pengakuan sebagai pendidik yang baik dan berhasil.

Pertama, Berusahalah tampil di muka kelas dengan prima. Kuasai betul materi pelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik. Jika perlu, ketika berbicara di muka kelasa tidak membuka catatan atau buku pegangan sama sekali. Berbicaralah yang jelas dan lancar sehingga terkesan di hati peserta didik bahwa kita benar-benar tahu segala permasalahan dari materi yang disampaikan.

Kedua, Berlakulah bijaksana. Sadarilah bahwa peserta didik yang kita ajar, memiliki tingkat kepandaian yang berbeda-beda. Ada yang cepat mengerti, ada yang sedang, ada yang lambat dan ada yang sangat lambat bahkan ada yang sulit untuk bisa dimengerti. Jika kita memiliki kesadaran ini, maka sudah bisa dipastikan kita akan memiliki kesabaran yang tinggi untuk menampung pertanyaan-pertanyaan dari anak didik kita. Carilah cara sederhana untuk menjelaskan pada peserta didik yang memiliki tingkat kemampuan rendah dengan contoh-contoh sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari walaupun mungkin contoh-contoh itu agak konyol.

Ketiga, Berusahalah selalu ceria di muka kelas. Jangan membawa persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan dari rumah atau dari tempat lain ke dalam kelas sewaktu kita mulai dan sedang mengajar.

Keempat, Kendalikan emosi. Jangan mudah marah di kelas dan jangan mudah tersinggung karena perilaku peserta didik. Ingat peserta didik yang kita ajar adalah remaja yang masih sangat labil emosinya. Peserta didik yang kita ajar berasal dari daerah dan budaya yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya dan berbeda dengan kebiasaan kita, apalagi mungkin pendidikan di rumah dari orang tuanya memang kurang sesuai dengan tata cara dan kebiasaan kita. Marah di kelas akan membuat suasana menjadi tidak enak, peserta didik menjadi tegang. Hal ini akan berpengaruh pada daya nalar peserta didik untuk menerima materi pelajaran yang kita berikan.

Kelima, Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan peserta didik. Jangan memarahi peserta didik yang yang terlalu sering bertanya. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan peserta didik dengan baik. Jika suatu saat ada pertanyaan dari peserta didik yang tidak siap dijawab, berlakulah jujur. Berjanjilah untuk dapat menjawabnya dengan benar pada kesempatan lain sementara kita berusaha mencari jawaban tersebut. Janganlah merasa malu karena hal ini. Ingat sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tapi usahakan hal seperti ini jangan terlalu sering terjadi. Untuk menghindari kejadian seperti ini, berusahalah untuk banyak membaca dan belajar lagi. Jangan bosan belajar. Janganlah menutupi kelemahan kita dengan cara marah-marah bila ada anak yang bertanya sehingga menjadikan anak tidak berani bertanya lagi. Jika peserta didik sudah tidak berani bertanya, jangan harap pendidikan/pengajaran kita akan berhasil.

Keenam, Memiliki rasa malu dan rasa takut. Untuk menjadi pendidik yang baik, maka seorang pendidik harus memiliki sifat ini. Dalam hal ini yang dimaksud rasa malu adalah malu untuk melakukan perbuatan salah, sementara rasa takut adalah takut dari akibat perbuatan salah yang kita lakukan. Dengan memiliki kedua sifat ini maka setiap perbuatan yang akan kita lakukan akan lebih mudah kita kendalikan dan dipertimbangkan kembali apakah akan terus dilakukan atau tidak.

Ketujuh, Harus dapat menerima hidup ini sebagai mana adanya. Di negeri ini banyak semboyan-semboyan mengagungkan profesi pendidik tapi kenyataannya negeri ini belum mampu/mau menyejahterakan kehidupan pendidik. Kita harus bisa menerima kenyataan ini, jangan membandingkan penghasilan dari jerih payah kita dengan penghasilan orang lain/pegawai dari instansi lain. Berusaha untuk hidup sederhana dan jika masih belum mencukupi berusaha mencari sambilan lain yang halal, yang tidak merugikan orang lain dan tidak merugikan diri sendiri. Jangan pusingkan gunjingan orang lain, ingatlah pepatah “anjing menggonggong bajaj berlalu.”

Kedelapan, Tidak sombong.Tidak menyombongkan diri di hadapan murid/jangan membanggakan diri sendiri, baik ketika sedang mengajar ataupun berada di lingkungan lain. Jangan mencemoohkan peserta didik yang tidak pandai di kelas dan jangan mempermalukan peserta didik (yang salah sekalipun) di muka orang banyak. Namun pangillah peserta didik yang bersalah dan bicaralah dengan baik-baik, tidak berbicara dan berlaku kasar pada peserta didik.

Kesembilan, Berlakulah adil. Berusahalah berlaku adil dalam memberi penilaian kepada peserta didik. Jangan membeda-bedakan peserta didik yang pandai/mampu dan peserta didik yang kurang pandai/kurang mampu Serta tidak memuji secara berlebihan terhadap peserta didik yang pandai di hadapan peserta didik yang kurang pandai. (Tohir Zainuri. http//:zainuri.wordpress.com 23 Desember 2009).

Selain itu juga untuk menjadi seorang pendidik yang selalu memberikan motivasi yang mencerahkan, menciptakan minat peserta didik kepada materi pembelajaran, menurut Zulfiandri (2007) seorang pendidik dapat juga melakukan beberapa hal berikut ini, yaitu : melalui pemberian hadiah, hukuman, menciptakan minat dengan cara bermain, bercerita maupun dengan teknik-teknik pencairan suasana yang mengajak mereka untuk fokus kepada materi pembelajaran.

Selain itu menurut Ramayulis (2005: 51) menjadi pendidik harus memiliki syarat-syarat tertentu, yang diantaranya adalah syarat psikis, yaitu seorang pendidik harus sehat rohani, dewasa dalam berpikir dan bertindak, mampu mengendalikan emosi, sabar, ramah dan sopan, memiliki jiwa kepemimpinan, konsekuensi dan berani bertanggung jawab, berani berkorban dan memiliki jiwa pengabdian, guru harus mematuhi norma dan nilai yang berlaku serta memiliki semangat membangun. Inilah pentingnya pendidik harus memiliki rasa keikhlasan yang tinggi terhadap pelaksanaan proses pembelajaran. Jadi pada dasarnya seorang pendidik memang harus kepribadian yang baik, yang dapat memotivasi dan memberikan pencerahan kepada peserta didiknya.

Pengertian Motivasi

Ada sepenggal kata bijak “Kerjakanlah sesuatu secara tulus dan wajar, dan segalanya akan baik. Kesempurnaan terletak pada motivasi kerja, bukan pada pekerjaan” (Guru Ching Hai). Demikian besarnya pengaruh motivasi dalam kehidupan manusia, karena dengan motivasi manusia dapat melakukan sesuatu.

Motivasi berpangkal dari kata “motif”, yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motiv dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan) (Pupuh, 2007 : 19). Adapun menurut Mc Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan muculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc Donald ini, maka terdapat tiga elemen atau ciri pokok dalam motivasi, yakni: motivasi mengawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan (Sardiman, 2004).

Namun pada intinya dapat disederhanakan bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi berfungsi sebagai berikut (Omar Hamalik, 2002) :

1.      Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan langkah penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

2.      Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

3.      Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Jadi motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan sekaligus sebagai penggerak perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Pendidik merupakan faktor yang penting untuk mengusahakan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dengan cara memenuhi kebutuhan peserta didik.

Peran Pendidik sebagai motivator dalam Pembelajaran

Hari Senin tanggal 07 Februari 2009 jam pelajaran kedua aku berada kelas 9 b. Hanya dua peserta didik yang tidak masuk, keduanya ada surat ijin karena sakit. Pelajaran aku mulai dengan apresepsi selama kurang lebih 5 menit. Pada waktu apresepsi sudah selesai peserta didik putra mulai gaduh saling berebut kertas warna putih. Kudekati salah satu peserta didik tersebut. Aku bertanya “Apakah yang diperebutkan ? Jawabnya “ Lembar tugas yang ibu berikan Minggu kemarin, saya meminjam kepunyaan Lina, Bu”. Dan ternyata ada delapan peserta didik putra yang tidak mengerjakan tugas, bahkan lembar kerjanya kesemuanya tertinggal dirumah. Sedangkan tiga puluh dua peserta didik lainnya mengerjakan tugas dengan baik.

Pendidik sebagai agen pembelajaran mempunyai peran yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini peran pendidik terkait dengan peran peserta didik dalam belajar. Pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah peran tersebut sangat tinggi, karena ada gejala pada diri peserta didik malas belajar, membolos sekolah, menjawab hanya asal kena (clometan), senda gurau, menggunakan HP bila pendidik menjelaskan bahan-bahan yang sekiranya perlu difahami hal ini merupakan ketidaksadaran peserta didik tentang belajar.

Peserta didik dalam belajar memiliki bermacam-macam motivasi. Menurut Biggs dan Telfer motivasi tersebut adalah sebagai berikut: (1) motivasi instrumental; (2) motivasi sosial; (3) motivasi instriksik. dan (4) motivasi berprestasi. Motivasi instrumental maksudnya bahwa peserta didik belajar karena didorong adalah hadiah atau menghidari dari hukuman. Motivasi sosial maksudnya adalah peserta didik belajar penyelenggaraan tugas, berarti keterlibatan pada tugas menonjol. Motivasi instriksik maksudnya belajar karena keinginan dari diri sendiri. Motivasi instrumental dan motivasi sosial termasuk kondisi eksternal sedang motivasi instriksik dan motivasi berprestasi termasuk kondisi internal. Motivasi berprestasi dibedakan motivasi berprestasi tinggi dan motivasi berprestasi rendah. Peserta didik memiliki motivasi berprestasi dan motivasi instriksik diduga peserta didik akan berusaha belajar segiat mungkin (http://pendidikpkn3smp.blogspot.com/2009/02/peran-pendidik-sebagai-motivator.html).

Pada motivasi instriksik maka ditemukan sifat perilaku sebagai berikut: (1) peserta didik kualitas keterlibatnya dalam belajar sangat tinggi berarti pendidik tinggal memelihara semangat, (2) Perasaan dan keterlibatan ranah afektif tinggi; dalam hal ini pendidik memelihara keterlibatan belajar peserta didik. (3) motivasi ini sifatnya memelihara sendiri. Dengan demikian pendidik harus memeliharan keterlibatan peserta didik dalam belajar (Dyah Purwati, 2009).

Pendidik harus benar-benar memahami motivasi belajar peserta didiknya dan kemudian memberi motivasi yang tepat. Apabila peserta didik motivasi berprestasi tinggi, lebih berkeinginan meraih keberhasilan, lebih terlibat dalam tugas-tugas dan tidak menyukai kegagalan, maka dalam hal ini tugas pendidik menyalurkan semangat kerja keras, dan apabila peserta didik memiliki motivasi berprestasi rendah, yang pada umumnya lebih suka menghindari dari tugas, maka pendidik sebaiknya memberi motivasi yang lebih agar peserta didik tersebut sadar akan belajar dan diharapkan pendidik mampu berkreasi dalam kegiatan-kegiatan pembelajaran.

Karena hal ini sejalan dengan pergeseran makna pembelajaran dari pembelajaran yang berorientasi kepada pendidik (teacher oriented) ke pembelajaran yang berorientasi kepada peserta didik (student oriented), maka peran pendidik dalam proses pembelajaran pun mengalami pergeseran, salah satunya adalah penguatan peran pendidik sebagai motivator.

Proses pembelajaran akan berhasil manakala peserta didik mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, pendidik perlu menumbuhkan motivasi belajar peserta didik. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal, pendidik dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar peserta didik, sehingga terbentuk perilaku belajar peserta didik yang efektif. Dalam perspektif manajemen maupun psikologi, kita dapat menjumpai beberapa teori tentang motivasi (motivation) dan pemotivasian (motivating) yang diharapkan dapat membantu para manajer (baca: pendidik) untuk mengembangkan keterampilannya dalam memotivasi para peserta didiknya agar menunjukkan prestasi belajar atau kinerjanya secara unggul. Kendati demikian, dalam praktiknya memang harus diakui bahwa upaya untuk menerapkan teori-teori tersebut atau dengan kata lain untuk dapat menjadi seorang motivator yang hebat bukanlah hal yang sederhana, mengingat begitu kompleksnya masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku individu (peserta didik), baik yang terkait dengan faktor-faktor internal dari individu itu sendiri maupun keadaan eksternal yang mempengaruhinya (http://www.psb-psma.org/content/blog/peran-pendidik-sebagai-motivator).

Terlepas dari kompleksitas dalam kegiatan pemotivasian tersebut, dengan merujuk pada pemikiran Wina Senjaya (2008), di bawah ini dikemukakan beberapa petunjuk umum bagi pendidik dalam rangka meningkatkan motivasi belajar peserta didik,

1. Memperjelas tujuan yang ingin dicapai.

Tujuan yang jelas dapat membuat peserta didik paham ke arah mana ia ingin dibawa. Pemahaman peserta didik tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat peserta didik untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Semakin jelas tujuan yang ingin dicapai, maka akan semakin kuat motivasi belajar peserta didik. Oleh sebab itu, sebelum proses pembelajaran dimulai hendaknya pendidik menjelaskan terlebih dulu tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini, para peserta didik pun seyogyanya dapat dilibatkan untuk bersama-sama merumuskan tujuan belajar beserta cara-cara untuk mencapainya.

2. Membangkitkan minat peserta didik.

Peserta didik akan terdorong untuk belajar manakala mereka memiliki minat untuk belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar peserta didik merupakan salah satu teknik dalam mengembangkan motivasi belajar. Beberapa cara dapat dilakukan untuk membangkitkan minat belajar peserta didik, diantaranya :

  • Hubungkan bahan pelajaran yang akan diajarkan dengan kebutuhan peserta didik. Minat peserta didik akan tumbuh manakala ia dapat menangkap bahwa materi pelajaran itu berguna untuk kehidupannya. Dengan demikian pendidik perlu menjelaskan keterkaitan materi pelajaran dengan kebutuhan peserta didik.
  • Sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan peserta didik. Materi pelajaran yang terlalu sulit untuk dipelajari atau materi pelajaran yang jauh dari pengalaman peserta didik, akan tidak diminati oleh peserta didik. Materi pelajaran yang terlalu sulit tidak akan dapat diikuti dengan baik, yang dapat menimbulkan peserta didik akan gagal mencapai hasil yang optimal; dan kegagalan itu dapat membunuh minat peserta didik untuk belajar. Biasanya minat peserta didik akan tumbuh kalau ia mendapatkan kesuksesan dalam belajar.
  • Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi, misalnya diskusi, kerja kelompok, eksperimen, demonstrasi, dan lain-lain.

3. Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.

Peserta didik hanya mungkin dapat belajar dengan baik manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman, bebas dari rasa takut. Usahakan agar kelas selamanya dalam suasana hidup dan segar, terbebas dari rasa tegang. Untuk itu pendidik sekali-sekali dapat melakukan hal-hal yang lucu.

4. Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan peserta didik.

Motivasi akan tumbuh manakala peserta didik merasa dihargai. Memberikan pujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan. Pujian tidak selamanya harus dengan kata-kata. Pujian sebagain penghargaan dapat dilakukan dengan isyarat, misalnya senyuman dan anggukan yang wajar, atau mungkin dengan tatapan mata yang meyakinkan.

5. Berikan penilaian.

Banyak peserta didik yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian peserta didik nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar. Oleh karena itu, penilaian harus dilakukan dengan segera agar peserta didik secepat mungkin mengetahui hasil kerjanya. Penilaian harus dilakukan secara objektif sesuai dengan kemampuan peserta didik masing-masing.

6. Berilah komentar terhadap hasil pekerjaan peserta didik.

Peserta didik butuh penghargaan. Penghargaan bisa dilakukan dengan memberikan komentar positif. Setelah peserta didik selesai mengerjakan suatu tugas, sebaiknya berikan komentar secepatnya, misalnya dengan memberikan tulisan “bagus” atau “teruskan pekerjaanmu” dan lain sebagainya. Komentar yang positif dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik.

7. Ciptakan persaingan dan kerja sama.

Persaingan yang sehat dapat memberikan pengaruh yang baik untuk keberhasilan proses pembelajaran peserta didik. Melalui persaingan peserta didik dimungkinkan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh hasil yang terbaik. Oleh sebab itu, pendidik harus mendesain pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk bersaing baik antara kelompok maupun antar-individu. Namun demikian, diakui persaingan tidak selamanya menguntungkan, terutama untuk peserta didik yang memang dirasakan tidak mampu untuk bersaing, oleh sebab itu pendekatan cooperative learning dapat dipertimbangkan untuk menciptakan persaingan antar kelompok (Anita Lie, 2002).

Di samping beberapa petunjuk cara membangkitkan motivasi belajar peserta didik di atas, adakalanya motivasi itu juga dapat dibangkitkan dengan cara-cara lain yang sifatnya negatif seperti memberikan hukuman, teguran, dan kecaman, memberikan tugas yang sedikit berat (menantang). Namun, teknik-teknik semacam itu hanya bisa digunakan dalam kasus-kasus tertentu. Beberapa ahli mengatakan dengan membangkitkan motivasi dengan cara-cara semacam itu lebih banyak merugikan peserta didik. Untuk itulah seandainya masih bisa dengan cara-cara yang positif, sebaiknya membangkitkan motivasi dengan cara negatif dihindari.

Sementara itu Zulfiandri (2007) berpendapat bahwa beberapa prinsip dasar motivasi dalam rangka pembelajaran agar peserta didik memiliki arah motivasi mendekat adalah :

1. Gunakan lingkungan sekeliling untuk memfokuskan perhatian peserta didik pada pembelajaran

Para pendidik yang mencerahkan mampu menghangatkan suasana kelas dan atmosfer pembelajaran dengan menggunakan lingkungan sekitar. Gunakan bantuan visual, seperti boklet, poster, peralatan praktik untuk mengarahkan perhatian peserta belajar.

2.   Berikan pujian

Sependapat dengan Wina Sanjaya, bahwa peserta didik perlu diberi pujian. Pada situasi pembelajaran secara umum, motivasi diri tanpa penghargaan tidak akan berhasil. Salah satu bentuk penghargaan adalah pujian. Pujian merupakan bentuk motivasi dengan arah mendekat. Anak-anak yang terbiasa diberikan motivasi menjauh, misalnya dengan cacian atau hinaan, cenderung memiliki kepercayaan diri dan inisiatif yang rendah

3.  Motivasi internal adalah kekal lebih panjang dan lebih kuat dibanding motivasi eksternal.

Motivasi yang berasal dari dalam diri seseorang jauh lebih kuat dari motivasi yang diberikan dari luar. Motivasi dari luar misalnya pujian dan reward. Motivasi luar ibarat balon yang dipompa dengan alat pompa. Sedangkan motivasi dari dalam diri sendiri ibarat orang memiliki pompa yang siap untuk memompa balon setiap saat ketika dia melihat kecenderungan semangatnya mengempis.

4.   Pembelajaran akan berjalan efektif ketika peserta didik siap untuk belajar

Ketika peserta didik membuat pertanyaan, hal ini berarti ada minat dalam pembelajaran. Atau ketika peserta didik mempersiapkan dirinya dan memiliki minat terhadap pembelajaran maka secara otomatis gelombang otaknya focus dan siap untuk belajar. Fokus dapat diperoleh dengan metode pencairan suasana (ice breaking).

Disamping itu Pupuh Fathurrohman dan M. Sobry Sutikno (2007: 20-21) berpendapat bahwa ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, yaitu :

1.   Menjelaskan tujuan belajar kepada peserta didik

Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang pendidik menjelaskan mengenai tujuan yang akan dicapainya kepada peserta didik. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajat.

2.   Hadiah

Berikan hadian untuk semua peserta didik yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Disamping itu, peserta didik yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bias mengejar peserta didik yang berprestasi.

3.   Saingan/kompetisi

Guru berusaha mengadakan persaingan diantara peserta didiknya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan berusaha memperbaiki hasil prestasi yang dicapai sebelumnya.

4.   Pujian

Sudah sepantasnya peserta didik yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yanag bersifat memotivasi.

5.   Hukuman

Hukuman diberikan kepada peserta didik yang berbuat kesalahan saat proses pembelajaran. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar peserta didik tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

6.   Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar

Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik.

7.   Membentuk kebiasaan belajar yang baik.

8.   Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun komunal

(kelompok).

9.   Menggunakan metode yang bervariasi dalam setiap proses pembelajaran.

10. Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Tiap peserta didik memiliki kemampuan indera yang tidak sama, baik pendengaran maupun pengelihatannya, demikian juga kemampuan berbicara. Ada yang lebih senang membaca ada yang lebih senang mendengar (karena gaya belajar peserta didik bervariasi ada yang auditorial, visual dan kinestetik (Bobbi DePorter, 2000 : 84)) dengan variasi penggunaan media, kelemahan indera yang dimiliki tiap peserta didik dapat dikurangi. Untuk menarik perhatian anak misalnya, pendidik dapat memulai dengan berbicara terlebih dahulu, kemudian menulis di papan tulis, dilanjutkan dengan melihat contoh konkret. Dengan variasi seperti ini, maka diharapkan dapat memberi stimulus terhadap indera peserta didik.

Sebagai seorang pendidik yang selalu memotivasi dan mencerahkan, maka konsep diri positif dan meyakini apapun yang terjadi dalam diri kita adalah positif maknanya, dengan memiliki konsep diri positif, seorang pendidik akan mampu mempengaruhi lingkungan sekitar dengan aura positif yang dimiliki.

Kisah di bawah ini yang mungkin terjadi pada diri kita, sebagai seorang pendidik di depan para peserta didik di depan kelas pada sebuah lembaga pendidikan :

“baik anak-anak sekalian, kalian telah melihat hasil uji coba Ujian Akhir Nasional. Tenyata hasil mengecewakan kita semua. Saya tidak mengerti kenapa kalian bias dapat nilai yang mengecewakan tersebut. Padahal sebagai pendidik saya sudah memberikan semuanya kepada kalian. Kenapa membalas kebaikan kami dengan cara yang demikian. Kalau sudah seperti ini, saya sudah tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan. Masa depan kalian sudah bias digambarkan sekarang. Suram !!!”

Atau kita dapat melihat sebuah kejadian pada tempat yang berbeda, dengan tema yang hampir sama

“baik anak-anak semuanya. Kalian tentu telah melihat hasil uji coba Ujian Akhir Nasional? Hasilnya memang agak sedikit mengecewakan kita semua, namun saya yakin ini belumlah hasil terbaik yang kalian bias tampilkan. Ini baru uji coba, baru pemanasan. Kami pihak guru yakin bahwa, jika bias memperbaiki cara belajar dan keseriusan kita maka kita akan bias menuai sukses. Kita semua akan benar-benar diuji pada saat Ujian Akhir Nasional. Jika kalian mempersiapkan diri sebaik mungkin, dan kami para pendidik, dengan senang hati membantu kalian agar bias sukses pada Ujian Akhir Nasional. Oke! Sekarang kita bersama bersepakat untuk meraih kesuksesan pada saat Ujian Akhir Nasional, mempersiapkan diri sebaik  mungkin, dan kami para pendidik, dengan senang hati membantu kalian agar bias suksses pada ujian akhir ”.

Kejadian pertama adalah contoh para pendidik yang tidak memiliki kemampuan memberikan motivasi dan pencerahan. Dia tidak memiliki konsep positif pada dirinya. Sedangkan pada kejadian yang kedua merupakan gambaran pendidik yang mencerahkan dan  selalu memberikan motivasi. Maka untuk semua pendidik jadilah para pendidik yang selalu memberikan motivasi yang mencerahkan.

Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya letupan kesuksesan para generasi penerus bangsa ini  jika memiliki para pendidik yang selalu memotivasi dan memberikan pencerahan, bukan para pendidik killer (pembunuh semangat dan kreativitas peserta didik). Seperti halnya mimpi yang dimiliki anak-anak di film Sang Pemimpi (Ikal, Arai dan Jimron) mimpi yang akhirnya dapat mereka raih, mimpi yang mereka dapat karena terinspirasi dari motivasi dan pencerahan dari pendidiknya sehingga mereka menjadi anak-anak yang selalu bersemangat belajar dan bersemangat mengejar cita-cita. Jadi wahai para pendidik jadilah pendidik yang selalu memotivasi dan memberikan pencerahan kepada para peserta didikmu, jangan menjadi pendidik yang killer, demi tercapainya Indonesia maju dengan memiliki generasi-generasi penerus bangsa yang bersemangat, cerdas dan kreatif .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s