TIGA HAL PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN OLEH PENDIDIK

TIGA HAL PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN OLEH PENDIDIK

(Gaya Pribadi, Kecerdasan, dan Gaya Belajar Peserta Didik)

Tutut Handayani*

Abstract: A person who has knowledge to be shared is a useful person. We call him a teacher. S/he is really important and has great influence to the next generation. S/he will be a role model for his/ her students to be success. Therefore, there are three things to be considered. They are personal style, intelligence, and students’ learning style. By considering those three things, hopefully the learners can reach their success.

Keywords: teachers, learners, personal style, intelligence, learners’ learning style

Pendahuluan

Pilihan menjadi seorang pendidik profesional adalah untuk membedakan dari para pendidik lainnya yang tidak menjadikannya sebagai sebuah “kesenangan” hanya sekedar profesi. Karena pekerjaan mendidik adalah pekerjaan yang mulia dan dilakukan oleh semua orang. Bahkan Allah SWT Sang Pencipta adalah pendidik yang Agung. Dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman : “Bacalah! Dan Rabb Mu Yang Maha Mulya. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam (pena)” (Q.S.96:3-4).

Guru yang profesional harus mengenal semua siswanya secara pribadi. Dalam konsep pelatihan, seorang trainer/instruktur harus mampu mengintertain semua peserta, sehingga pelatih harus mengenal semua peserta didik dengan baik, apalagi dengan pendidik. Seorang  pendidik/guru yang profesional harus mengenal semua peserta didiknya dengan baik (Mengenal secara pribadi).

Mengenal secara pribadi maksudnya adalah mengenal gaya pribadi peserta didik, kecerdasan yang dimiliki dan gaya belajar peserta didik, maka sebagai pendidik kita dapat melakukan pendekatan secara pribadi.

Mengenal Gaya Pribadi Peserta Didik

Gaya pribadi setiap manusia adalah unik, bahkan sangat unik. Masing-masing orang berbeda dengan yang lainnya. Sehingga setiap orang harus dihadapi dengan cara yang khas, sesuai dengan gayanya masing-masing.

Secara umum para psikolog perilaku seperti Jung, membagi manusia atas beberapa tipe pribadi. Jung adalah orang yang pertama merumuskan tipe kepribadian dengan istilah extrovertion dan introvertion. Serta mengemukakan empat fungsi kepribadian manusia yang disebut sebagai fungsi thinking, feeling, sensing, dan intuiting. kemudian oleh para tokoh psikolog lainnya ditambahkan dengan fungsi judgment dan perception (Zulfiandri, 2007).

Berikut penjelasannya :

  1. a.                  Orientasi Ekstrover, ekstrover merupakan suatu kecenderungan yang mengarahkan kepribadian lebih banyak keluar daripada ke dalam diri sendiri. Seorang ekstrover memiliki sifat sosial, lebih banyak berbuat daripada berkontemplasi (merenung dan berfikir). Ia juga adalah orang yang penuh dengan motif-motif yang dikoordinasi oleh kejadian-kejadian eksternal. Standar dunia luar sangat berpengaruh bagi seorang ekstrover.
  2. b.                  Introver adalah suatu orientasi kedalam diri sendiri, maksudnya seorang introver adalah orang yang cenderung menarik diri dari kontak sosial, minat dan perhatiannya lebih terpokus pada fikiran dan pengalamannya pribadi.
  3. c.                   Fungsi Pengindra, setiap orang memiliki pikiran yang terang mengenai bagaimana pengindra berfungsi dan bekerja. Orang-orang yang menggunakan fungsi pengindra umumnya percaya, menghargai, dan mengarahkan energi pada saat sekarang dan di sini. Perhatian kepada saat sekarang, ketidaksabaran dengan penundaan, dan sensitifitasnya pada seluk beluk fakta, menjadikan orang pengindra sebagai orang yang meyakinkan. Ia siap berdebat untuk mempertahankan pokok pikirannya atau rencana kegiatan yang ia lakukan.
  4. d.                  Fungsi Intuitif adalah suatu jalan merasakan, cara membawakan informasi kepada budi dan jiwa. Fungsi ini merupakan suatu fungsi merasakan yang muncul dengan sendirinya secara alamiah seperti fungsi pengindera. Fungsi ini digerakkan dari alam bawah sadar manusia. Anak-anak berfungsi intuitif gampang untuk membaca. Pikiran mereka dikuasai oleh fantasi, cerita-cerita fiktif dan legenda. Para guru menemukan bahwa para murid yang berpreferensi intuitif sering cepat bosan, gampang gelisah, khususnya ketika melakukan tugas-tugas rutin, atau ketika belajar materi-materi yang menyangkut fakta.
  5. e.                   Fungsi berfikir, orang berfungsi berfikir umumnya bekerja atas dasar logika, objektivitas, dan bermental analitis. Orang yang berfungsi berpikir biasa impersonal, sangat menjunjung tinggi nilai logika, berusaha menemukan kriteria objektif sebelum memutuskan sesuatu.
  6. f.                    Fungsi Perasa, adalah proses rasional yang membuat keputusan atas dasar sistem nilai. Mereka memiliki kemampuan memahami perasaan-perasaan orang lain atau berempati. Mereka sering memutuskan berdasarkan keinginan orang lain. Ia tidak senang menyampaikan hal-hal yang kurang menyenangkan orang lain, umumnya tidak mengalami kesulitan dalam pergaulan, sangat simpatik.
  7. g.                  Fungsi Penilai, bagi seorang yang terkategori seorang penilai memiliki karakter yang sistematis, rapi, kurang luwes, berkesan maju, bertanggung jawab dan tegas. Ia mempunyai rencana yang jelas, punya pendirian yang keras, gemar membuat keputusan, senang kalau segala sesuatu berjalan lancar atau slesai pada waktunya.
  8. h.                  Fungsi Pengamat, karakter orang pengamat adalah toleran, terbuka, gampang menyesuaikan diri, sangat mengerti orang lain, spontan, luwes, dan punya semangat ingin tahu yanag tinggi. Ia memiliki spontanitas yang tidak terduga, sangat toleran dan memiliki hidup yang optimis ((Zulfiandri, 2007 : 60-62).

Pada suatu peristiwa ada seorang pendidik yang mendekati peserta didiknya, peserta didik tersebut selalu tampak diam dan malas untuk berkomunikasi, dia hanya akan berkata ‘YA’ atau ‘TIDAK’ dan ‘MENGERTI’ saja dalam setiap situasi termasuk dalam proses pembelajaran, pendidik ini kemudian mencoba berkomunikasi dengan peserta didik ini dengan cara mengawalinya dengan pertanyaan ‘hal-hal apa sajakah yang disukainya’, ternyata pertanyaan ini ampuh dengan adanya pertanyaan ini peserta didik tersebut mulai tertarik untuk berkomunikasi dengan gurunya, hingga seterusnya sampai peserta didik ini tidak lagi mengalami kemalasan dalam berkomunikasi.

Jadi sebenarnya semua peserta didik merupakan Sang Juara, keberhasilan peserta didik tersebut ditentukan oleh penanganan yang tepat oleh sekolah dan sesuai dengan kepribadian dan bakat peserta didik.

 

Mengenal Kecerdasan Peserta Didik

Ketika Binet mengusulkan tentang definisi kecerdasan, saat itu semua orang sepertinya bersepakat bahwa kecerdasan tersebut hanya semata-mata IQ. Ternyata Binet tidak bisa memuaskan banyak orang dalam definisi kecerdasan tadi. Karena kesuksesan dalam hidup seseorang tidak berkorelasi positif dengan kecerdasan (IQ) yang dimilikinya. Kemudian beberapa penelitian berikutnya menyempurnakan konsep kecerdasan Binet. Dr. Howard Gardner, seorang psikolog kognitif, menemukan beberapa jenis kecerdasan tidak hanya satu yang dapat diukur dan dijumlah sebagaimana kecerdasan IQ. Teorinya menawarkan pandangan yang lebih luas mengenai kecerdasan dan menyarankan bahwa kecerdasan adalah suatu kesinambunganyang dikembangkan seumur hidup. Jadi tidak dapat lagi dinyatakan bahwa kecerdasan hanya dapat diukur dari kecerdasan matematika dan logika semata. Dr. Howard Gardner (1983) mengenalkan dengan istilah kecerdasan berganda (Multiple Intelligence). Bahkan Danah Johar dan Ian Marshal sepakat menambahkan dengan satu lagi kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual.

Adapun kesembilan kecerdasan tersebut adalah sebagai berikut :

1.   Kecerdasan Linguistik : Word Smart

Adalah kecerdasan menggunakan kata-kata secara efektif. Kecerdasan ini sangat berguna bagi para penulis, aktor, pelawak, selebriti, radio dan para pembicara hebat. Kecerdasan juga membantu kesuksesan kariernya di bidang pemasaran dan politik.

Coba anda periksa kepribadian di bawah ini, mana yang merupakan kepribadian Peserta Didik anda:

  1. Suka menulis kreatif di rumah.
  2. Senang menulis kisah khayal, lelucon dan cerpen.
  3. Menikmati membaca buku di waktu senggang.
  4. Menyukai pantun, puisi dan permainan kata.
  5. Suka mengisi teka-teki silang atau bermain scrable (www.bayumukti.com).

Yang manakah kemampuan linguistik Peserta Didik  anda ?

Jika peserta didik anda di sekolah, di kampus banyak bicara dan kurang memperhatikan pelajaran atau menikmati menulis puisi di rumah tapi tidak mengerjakan PR, senang bercerita. Peserta didik anda mepunyai kecerdasan linguistik. Kembangkanlah potensinya terus. Suatu saat peserta didik anda akan menjadi seseorang yang hebat.

2.   Kecerdasan Logis- Matematis : Number Smart

Kecerdasan yang satu ini adalah keterampilan mengolah angka dan kemahiran menggunakan logika dan akal sehat. Ini adalah kecerdasan yang digunakan ilmuwan untuk membuat hipotesa dan dengan tekun mengujinya dengan eksperimen. Ini juga kecerdasan yang digunakan oleh akuntan pajak, pemrogaman komputer dan ahli matematika.

Coba periksa keterampilan yang ada pada peserta didik anda saat ini :

  1. Menghitung problem aritmatika dengan cepat di luar kepala.
  2. Menikmati menggunakan bahasa komputer atau progam software logika
  3. Ahli bermain catur, dan permainan strategi lainnya
  4. Menjelaskan masalah secara logis
  5. Merancang Eksperimen
  6. Suka bermain teka-teki logika
  7. Mudah memahami sebab-akibat (www.bayumukti.com).

Menikmati pelajaran matematika dan IPA serta mendapatkan prestasi yang bagus Kemampuan logis yang manakah yang peserta didik anda miliki ? Inilah kecerdasan yang dikaitkan dengan kecerdasan dalam bersekolah. Jika peserta didik memiliki kecenderungan kutu buku, mendapat nilai tinggi IPA, menikmati dan berinteraksi dengan komputer, mencoba mencari jawaban yang sulit, maka peserta didik berbakat besar dalam kecerdasan ini. Kembangkan terus, suatu saat kamu akan menjadi seorang ilmuwan, akuntan, insinyur, ahli pemrogaman komputer atau bahkan mungkin menjadi seorang filosof.

3.   Kecerdasan Spasial : Picture Smart

Ini adalah kecerdasan gambar dan bervisualisasi. Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk menvisualisasikan gambar di dalam kepala seseorang atau menciptakannya dalam bentuk dua atau tiga dimensi. Seniman atau pemahat serta pelukis memiliki kecerdasan ini dalam tingkat tinggi. Coba periksa ketrampilan yang menurut kamu ada pada diri kamu:    

  1. Menonjol dalam kelas seni kelas.
  2. Mudah membaca peta, grafik dan diagram.
  3. Menggambar sosok orang atau benda persis aslinya.
  4. Mencoret-coret diatas kertas.
  5. Lebih mudah memahami lewat gambar daripada lewat kata-kata ketika sedang membaca (www.bayumukti.com).

Jadi yang manakah kemampuan spasial yang peserta didik anda miliki ? Seandaianya peserta didik anda menonjol dalam kecerdasan ini, kembangkanlah. Karena suatu saat peserta didik anda bisa jadi pelukis, pemahat, designer, dan perancang bangun.

4.   Kecerdasan Kinestetik- Jasmani : Body Smart

Kecerdasan jasmani adalah kecerdasan seluruh tubuh (atlet, penari, seniman, pantomim aktor) dan juga kecerdasan tangan (montir, penjahit, tukang kayu, ahli bedah) Coba anda pilih ketrampilan yang ada pada diri Peserta Didik anda:

  1. Bergerak-gerak ketika sedang duduk
  2. Terlibat dalam kegiatan fisik seperti renang, bersepeda, hiking atau bermain skate board.
  3. Perlu menyentuh sesuatu yang ingin dipelajari.
  4. Menikmati melompat, gulat dan lari.
  5. Memperlihatkan kerampilan dalam kerajinan tangan seperti kayu, menjahit, mengukir.
  6. Menikmati bekerja dengan tanah liat, melukis dengan jari, atau kegiatan “kotor” lainnya.
  7. Suka membongkar sebuah benda kemudian menyusunnya lagi (www.bayumukti.com).

Lalu kemampuan kinestetik jasmani apa yang peserta didik anda miliki sekarang ? Jika peserta didik anda tidak betah duduk lama-lama dan lebih suka bergerak, menyukai studi lapangan, maka peserta didik anda menonjol dalam kecerdasan ini. Maka kembangkanlah terus.

5.   Kecerdasan Musikal: Music Smart

Kecerdasan musical melibatkan kemampuan menyanyikan sebuah lagu, mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan irama atau sekedar menikmati musik. Dalam bentuknya yang lebih canggih, kecerdasan ini mencakup para diva dan virtuoso piano di dunia seni dan budaya (www.bayumukti.com). Bakat musik adalah sesuatu bakat yang selam ini dibiarkan atau ditelantarkan di sekolah. Jikalau kamu memiliki bakat ini maka ada baiknya mengembangkan di luar lingkungan sekolah.

6.   Kecerdasan Antar Pribadi: People Smart

Kecedasan ini melibatkan kemampuan untuk memahami dan bekerja untuk orang lain. Kecerdasan ini melibatkan banyak hal, mulai dari kemampuan berempati, kemampuan memimpin, dan kemampuan mengorganisir orang lain (www.bayumukti.com). Nah jika peserta didik anda sangat populer di kalangan teman-temanmu dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cepat. Maka peserta didik anda berbakat dalam kecerdasan ini. Kembangkanlah, suatu saat kamu akan menjadi seorang pemimpin, konselor, pengusaha atau organiser komunitas.

7.   Kecerdasan Intra Pribadi: Self Smart

Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk memahami diri sendiri, kecerdasan untuk mengetahui siapa sebenarnya diri kita sendiri. Kecerdasan ini sangat penting bagi para wirausahawan dan individu lain yang harus memiliki persyaratan disiplin diri, keyakinan, dan pengetahuan diri untuk mengetahui bidang atau bisnis baru (www.bayumukti.com). Jika peserta didik anda mampu mengetahui siapa dirinya sebenarnya, pandai menargetkan dan menentukan target untuk diri sendiri. Dia peserta didik yang percaya diri dan tidak pemalu, maka peserta didik anda berbakat dalam kecerdasan ini. Kembangkanlah terus kecerdasan ini karena sangat dibutuhkan dalam kehidupan untuk meraih kesuksesan.

8.   Kecerdasan Naturalis: Nature Smart

Kecerdasan naturalis melibatkan kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk alam di sekitar kita: Bunga, burung, pohon, hewan serta flora dan fauna lainnya. Kecerdasan ini dibutuhkan di banyak profesi seperti ahli biologi, penjaga hutan, dokter hewan dan holtikulturalis (www.bayumukti.com).

9.   Kecerdasan Spiritual: Spiritual Smart

Pembicaraan mengenai kecerdasan spiritual tidak lepas dari konsep filosofis yang menjadi latar belakangnya. Kecerdasan spiritual banyak mengembangkan konsep-konsepnya dari aliran humanistis. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang membangun dirinya secara utuh, kecerdasan spiritual tidak bergantung pada budaya atau nilai. Tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri. Kecerdasan spiritual adalah fasilitas yang berkembang selama jutaan tahun yang memungkinan otak untuk menemukan dan menggunakan makna dalam memecahkan persoalan. Terutama persoalan yang menyangkut masalah eksistensial, yaitu saat seseorang secara pribadi terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran dan masalah masa lalu akibat penyakit dan kesedihan. Dengan kecerdasan spiritual seseorang mampu mengatasi masalah hidupnya dan berdamai dengan masalah tersebut. Kecerdasan spiritual memberi rasa aman pada diri seseorang menyangkut perjuangan hidup (www.untag-sby.ac.id/index.php).

Kita harus ingat bahwa setiap orang memiliki sembilan kecerdasan di atas dan setiap harinya digunakan dan dikombinasikannya. Contohnya saja bila pemain sepak bola menggiring bola maka mereka menggunakan kecerdasan kinestetik-jasmani untuk menggiring bola, kecerdasan spasial untuk memvisualisasikan posisi bola setelah lawan menendangnya, dan kecerdasan antar pribadi untuk kerja sama dengan anggota tim lainnya. Akan tetapi mereka memiliki salah satu kecerdasan yang paling dominan yaitu kinestik-jasmani.

Nah sekali lagi untuk menjadikan peserta didik anda menjadi orang yang sukses anda harus bisa membantunya mencari dan menemukan kecerdasan yang paling dominan pada diri peserta didik anda dan terus mengasahnya agar menjadi talenta dan orang yang sukses dan hebat.

Memanfaatkan Gaya Belajar Peserta Didik

Lain lubuk, lain ikannya. Lain orang, lain pula gaya belajarnya. Pepatah di atas memang pas untuk menjelaskan fenomena bahwa tidak semua orang punya gaya belajar yang sama, walaupun bila mereka bersekolah di sekolah atau bahkan duduk di kelas yang sama.

Kemampuan seseorang untuk memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang dan ada pula yang sangat lambat. Karenanya, mereka seringkali harus menempuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajaran yang sama.

Sebagian peserta didik lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menuliskan segalanya di papan tulis. Dengan begitu mereka bisa membaca untuk kemudian mencoba memahaminya. Tapi, sebagian peserta didik lain lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menyampaikannya secara lisan dan mereka mendengarkan untuk bisa memahaminya. Sementara itu, ada peserta didik yang lebih suka membentuk kelompok kecil untuk mendiskusikan pertanyaan yang menyangkut pelajaran tersebut.

Cara lain yang juga kerap disukai banyak peserta didik adalah model belajar yang menempatkan pendidik tak ubahnya seorang penceramah. Pendidik diharapkan bercerita panjang lebar tentang beragam teori dengan segudang ilustrasinya, sementara para peserta didik mendengarkan sambil menggambarkan isi ceramah itu dalam bentuk yang hanya mereka pahami sendiri.

Apa pun cara yang dipilih, perbedaaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Karenanya, jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajar setiap orang itu, mungkin akan lebih mudah bagi kita jika suatu ketika, misalnya, kita harus memandu seseorang untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.

Tentu saja, sebelum kita sendiri mengajarkannya pada orang lain, langkah terbaik adalah mengenali gaya belajar kita sendiri. Pertimbangan ini yang seringkali kita lupakan. Dengan kata lain, kita sendiri harus merasakan pengalaman mendapatkan gaya belajar yang tepat bagi diri sendiri, sebelum menularkannya pada orang lain. Ada banyak alasan dan keuntungan yang bisa didapatkan bila pendidik mampu memahami ragam gaya belajar, termasuk gaya kita sendiri.

Kalangan tua, biasanya menyerap banyak pengetahuan tentang gaya belajar, berdasarkan pengalaman yang telah mereka lewati. Misalnya, mereka pernah bekerja, menjalani latihan militer, mendidik dan membimbing anak, dan sebagainya. Rangkaian pengalaman yang mereka lewati itu, sesungguhnya, adalah bagian dari cara mereka mendapatkan pelajaran berarti yang mungkin bisa kita serap untuk melihat seperti apa sebetulnya gaya belajar yang tepat bagi kita. Apa pun gaya yang akan kita pilih dan ikuti, hal terpenting yang tak boleh dilupakan: lakukan apa yang memang akan bermanfaat bagi Anda!

Sebagai seorang pendidik yang profesional pendidik harus mengetahui betapa pentingnya mengenali gaya belajar peserta didik. Dalam buku Quantum Learning Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (1992) memaparkan tiga modalitas belajar seseorang yaitu : “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modalitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya”.

1. Visual (belajar dengan cara melihat)

Modalitas ini mengakses citra visual, yang diciptakan maupun diingat, lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi peserta didik yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada peserta didik atau menggambarkannya di papan tulis. Peserta didik yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, peserta didik visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Sehingga ciri-ciri gaya belajar visual dapat digambarkan sebagai berikut :

  1. Bicara agak cepat
  2. Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
  3. Tidak mudah terganggu oleh keributan
  4. Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
  5. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
  6. Pembaca cepat dan tekun
  7. Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
  8. Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
  9. Lebih suka musik dari pada seni
  10. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya (http://www.tempo.co.id/edunet/).

Untuk mengatasi ragam masalah di atas, ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan, sehingga belajar tetap bisa dilakukan dengan memberikan hasil yang menggembirakan. Pertama adalah menggunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran. Perangkat grafis itu bisa berupa film, slide, gambar ilustrasi, coretan-coretan, kartu bergambar, catatan dan kartu-kartu gambar berseri yang bisa digunakan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan. Atau dapat juga dengan cara :

  1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.
  2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.
  3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
  4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).
  5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar (http://www.tempo.co.id/edunet/).

2.  Auditori (belajar dengan cara mendengar)

Gaya belajar kedua disebut Auditory Learners atau gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca.

Modalitas ini mengakses segala segala jenis bunyi dan kata, lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang-sedang saja. Peserta didik yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya), untuk itu maka pendidik sebaiknya harus memperhatikan peserta didiknya hingga ke alat pendengarannya. Peserta didik yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang pendidik katakan. Peserta didik auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperti ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Dapat disimpulkan bahwa Ciri-ciri gaya belajar auditori adalah sebagai berikut (http://www.tempo.co.id/edunet/):

  1. Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
  2. Penampilan rapi
  3. Mudah terganggu oleh keributan
  4. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
  5. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  6. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
  7. Biasanya ia pembicara yang fasih
  8. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
  9. Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
  10. Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
  11. Berbicara dalam irama yang terpola
  12. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk belajar bila peserta didik termasuk orang yang memiliki kesulitan-kesulitan belajar seperti di atas. Pertama adalah menggunakan tape perekam sebagai alat bantu. Alat ini digunakan untuk merekam bacaan atau catatan yang dibacakan atau ceramah pengajar di depan kelas untuk kemudian didengarkan kembali. Strategi kedua yang bisa dilakukan adalah dengan wawancara atau terlibat dalam kelompok diskusi. Sedang strategi ketiga adalah dengan mencoba membaca informasi, kemudian diringkas dalam bentuk lisan dan direkam untuk kemudian didengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah dengan melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar.

Atau dapat juga dilakukan dengan cara-cara berikut ini :

  1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
  2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
  3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.
  4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.
  5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur (http://www.tempo.co.id/edunet/).

3. Kinestetik/Tactual learner (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Gaya belajar lain yang juga unik adalah yang disebut kinestetik/Tactual Learners atau kita harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar kita bisa mengingatnya. Tentu saja, ada beberapa karekteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar kita bisa terus mengingatnya. Kedua, hanya dengan memegang kita bisa menyerap informasinya tanpa harus membaca penjelasannya. Karakter ketiga adalah kita termasuk orang yang tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran. Keempat, kita merasa bisa belajar lebih baik bila disertai dengan kegiatan fisik. Karakter terakhir, orang-orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability).

Modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi (diciptakan maupun diingat), lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Peserta didik yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Peserta didik seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Peserta didik yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Adapun Ciri-ciri gaya belajar kinestetik/tactual learner :

  1. Berbicara perlahan
  2. Penampilan rapi
  3. Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
  4. Belajar melalui memanipulasi dan praktik
  5. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
  6. Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
  7. Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
  8. Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
  9. Menyukai permainan yang menyibukkan
  10. Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
  11. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka.
  12. Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi (http://www.tempo.co.id/edunet/).

Sedangkan Strategi untuk mempermudah proses belajar peserta didik kinestetik: pendekatan belajar yang mungkin bisa dilakukan adalah belajar berdasarkan atau melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model atau peraga, bekerja di laboratorium atau bermain sambil belajar. Cara lain yang juga bisa digunakan adalah secara tetap membuat jeda di tengah waktu belajar. Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter kinestetik/Tactual Learner juga akan lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk belajar mengucapkannya atau memahami fakta.

Penggunaan komputer bagi orang-orang yang memiliki karakter kinestetik/Tactual Learner akan sangat membantu. Karena, dengan komputer ia bisa terlibat aktif dalam melakukan touch, sekaligus menyerap informasi dalam bentuk gambar dan tulisan. Selain itu, agar belajar menjadi efektif dan berarti, orang-orang dengan karakter di atas disarankan untuk menguji memori ingatan dengan cara melihat langsung fakta di lapangan. (http://www.tempo.co.id/edunet/).

Selain itu dapat juga dengan cara :

  1. Jangan paksakan peserta didik untuk belajar sampai berjam-jam.
  2. Ajak peserta didik untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru). Izinkan peserta didik untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
  3. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.
  4. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.

Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Bagaimana dengan gaya belajar Anda?

Penutup

Jika ada yang berpendapat bahwa untuk membuat peserta didik sukses harus didukung oleh pendidik yang profesional (yaitu pendidik yang berkompetensi secara akademik, profesional, sosial, dan kepribadian) itu juga benar tapi belum cukup, pendidik harus mengajar dengan cara yang mencerahkan, dia harus memperhatikan tiga hal penting dari peserta didik, yaitu : pertama, gaya pribadi (Gaya pribadi setiap manusia adalah unik, bahkan sangat unik. Masing-masing orang berbeda dengan yang lainnya. Sehingga setiap orang harus dihadapi dengan cara yang khas, sesuai dengan gayanya masing-masing). Jung adalah orang yang pertama merumuskan tipe kepribadian dengan istilah extrovertion dan introvertion. Serta mengemukakan empat fungsi kepribadian manusia yang disebut sebagai fungsi thinking, feeling, sensing, dan intuiting. kemudian oleh para tokoh psikolog lainnya ditambahkan dengan fungsi judgment dan perception (Zulfiandri, 2007). Kedua, jenis kecerdasan (Dr. Howard Gardner (1983) mengenalkan dengan istilah kecerdasan berganda (Multiple Intelligence). Bahkan Danah Johar dan Ian Marshal sepakat menambahkan dengan satu lagi kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual) dan Ketiga, gaya belajar (Dalam buku Quantum Learning Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (1992) memaparkan tiga modalitas belajar seseorang yaitu : “modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K)).

Daftar Pustaka

DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki. 1999. Quantum Learning : Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung : Kaifa.

DePorter, Bobbi dkk. 2001. Quantum Teaching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruanag Kelas. Bandung : Kaifa.

Djamarah Syaiful Bahri & Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Fathurrahman, Pupuh (ed). 2002, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: Tunas Nusantara.

Gardner, Howard. 1983. Frames of  Mind, Basic Book. New York.

Ramayulis. 2005. Metodologi PAI. Jakarta : Kalam Mulia.

Zulfiandri. 2007. Qualitan Teaching : Cara Cerdas Menjadi Guru Mencerahkan. Bogor : Qualitama Tunas Mandiri.

http://www.tempo.co.id/edunet/, didownload pada tanggal 15 Oktober 2009

Depdiknas.go.id  didownload pada tanggal 15 Oktober 2009

www.bayumukti.com didownload pada tanggal 15 Oktober 2009

www.untag-sby.ac.id/index.php.  didownload pada tanggal 25 Oktober 2009

www.endonesia.com/mod.php. didownload pada tanggal 25 Oktober 2009

 

 

 

 

* Penulis Adalah Dosen Tetap pada Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang

Iklan

TATAKRAMA MEMBACA AL QUR’AN BERDASARKAN AL QUR’AN DAN HADITS

TATAKRAMA MEMBACA AL QUR’AN
BERDASARKAN AL QUR’AN

01. Berniat Ingin Mendapatkan Ridho Allah (QS. 2:207; 17:36; 41:19-22)

02. Menggunakan Al Qur’an yang bahasanya mudah dimengerti oleh Sipembaca (QS. 20:2; 14:4; 44:58; 19:97)

03. Sebelum membaca Al Qur’an harus mohon perlindungan kepada Allah dari godaan iblis dan syaitan yang terkutuk (QS. 16:98)

04. Membaca Basmalah karena Allah (QS. 96:1)

05. Selama membaca Al Qur’an di dalam hati sanubari dan pikiran, harus selalu menggunakan akal agar selalu mendapatkan ridho Allah
(QS. 10:100)

06. Selama membaca Al Qur’an tidak mengeraskan suara dalam membacanya, tidak boleh tergesa-gesa dan cepat-cepat membacanya
(QS. 73:4; 7:205; 75:16)

07. Selama membaca Al Qur’an hati dan pikiran kita harus selalu memohon Petunjuk dan Bimbingan kepada Allah agar selalu diberikan ilmuNya (QS. 2:186; 20:114; 2:32)

08. Selama membaca Al Qur’an tidak boleh tergesa-gesa dan ingin cepat-cepat menguasai maksud yang sedang dibacanya, karena Allah akan membimbingnya di dalam hati (QS. 75:16)

09. Atas tanggungan Allah, mengumpulkan di dada yang membaca Al Qur’an dan Allah akan menjadikan Sipembaca itu pandai membacanya (QS. 75:17; 29:49)

10. Setelah Allah membacakannya di dada yang membaca, maka ikutilah bacaannya (ayat-ayat Allah harus dilaksanakan). Setelah ayat-ayat Allah itu dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari, maka atas tanggungan Allah-lah penjelasannya di dalam dada yang membaca dan yang melaksanakannya (QS. 75:18-19; 61:2-3; 12:22; 31:1-3)

TATAKRAMA MEMBACA AL QUR’AN
BERDASARKAN HADITS NABI

01. Sesungguhnnya amal-amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang itu (hasilnya) sesuai dengan apa yang diniatinya. (HR. Bukhari dan Muslim)

02. Setiap Nabi diutus khusus kepada bangsanya, tetapi saya (Muhammad dikirim baik kepada bangsa kulit merah maupun berkulit hitam. (H.R Bukhari)

03. Barangsiapa membaca Al Qur’an maka hendaklah ia memohon kepada Allah dengannya (H.R. Turmudzi)

04. Setiap pekerjaan yang tidak dimulai Bismillahirrahmanirrahiim maka terputuslah berkatnya (H.R. Daud)

05. Pikirkanlah olehmu apa yang dijadikan Allah dan janganlah kamu pikirkan dzat Allah, maka celakalah kamu (H.R. Abu Syeikh)

06. Abdullah bin Mughoffal melihat Nabi sedang membaca surat Al Fath dengan bacaannya yang lembut dan beliau membaca berulang-ulang (H.R. Bukhari)

07. Nabi pernah mengajarkan Al Qur’an kepada-ku, lalu ia berdo’a : “Ya Allah ajarilah ia Al Qur’an’ (H.R. Bukhari)

08. Bacalah sekurang-kurangnya satu ayat dari Al Qur’an setiap hari (H.R. Muslim)

09. Dan tiada berkumpul kaum di dalam suatu rumah Allah, mereka baca kitab dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan diturunkan kepada mereka ketenangan hati dan diselubungi mereka dengan rahmat. (H.R. Muslim)

10. Siapa saja yang membaca Al Qur’an dan mengamalkan isinya maka Allah akan memberikan pahala pada kedua orang tuanya mahkota pada hari kiamat yang bercahaya lebih terang dari cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah di dunia (H.R. Ahmad)