praktikum

Iklan

ulumul qur’an

 

PENDAHULUAN

 

 

Allah telah memuliakan umat Muhammad, karenanya Dia telah menurunkan kepadanya kitab yang luar biasa, sebagai penutup dari kitab-kitab samawy, menjadi undang-undang kehidupan, pemecah persoalan, menjadi pengobat penyakit dan kanker masyarakat, tanda keagungan dan keluhuran sebagai umat pilihan untuk bisa mengemban risalah samawiyahyang paling mulia, yang Allah telah memuliakannya dengan bekal kitab yang luhur ini dan diturunkan khusus kepada seorang Rasul yang mulia Muhammad bin Abdillah.

Dengan turunnya Al-Quran ini sempurnalah ikatan risalah samawiyah, terpancarlah sinar cahaya ke seluruh penjuru dunia yang akhirnya sampailah petunjuk Allah itu kepada mahluk-Nya. Firman Allah s w t.:

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (Asy-Syu’ara:193-195)

Al-Quran juga diturunkan dengan beberapa tahap. Adayang sekaligus, yang diturunkan oleh Allah dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia, dan secara bertahap, yang diturunkan oleh Allah dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia dibawa oleh malaikat Jibril a s. lalu disampaikan ke Nabi Muhammad dalam periode tertentu selama dua puluh tahun lebih.

Banyak hikmah setelah diturunkannya Al-Quran ini, diantaranya ialah meneguhkan/ memantapkan hati Rasulullah s a w., dan relevan dengan peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

 

I.1. Turunnya Al-Quran

 

Allah menurunkan Al-Quran kepada Rasul kita Muhammad SAW untuk menunjuki umat manusia. Turunnya Al-Quran merupakan berita yang menakjubkan, dikumandangkan ditempatnya kepada penghuni bumi dan langit.[1] Turunnya Al-Quran pada pertama kali pada lailatul qadr merupakan pemberitahuan kepada alam samawi yang dihuni para malaikat tentang kemuliaan umat Muhammad. Umat ini telah dimuliakan oleh Allah dengan risalah barunya agar menjadi umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia. Turunnya Al-Quran yang kedua secara bertahap, berbeda dengan kitab-kitab yang turun sebelumnya, sangat mengejutkan orang dan menimbulkan keraguan terhadapnya sebelum jelas bagi mereka rahasia hikmah Ilahi yang ada di balik itu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menerima risalah besar ini dengan cara sekali jadi, dan kaumnya pun yang sombong dan keras kepala dapat takluk dengannya. Adalah wahyu turun berangsur-angsur demi menguatkan hati Rasul dan menghiburnya relevan dengan peristiwa dan kejadian-kejadian yang mengiringinya sampai Allah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat-Nya.[2]

 

I.1.1. Turunnya Al-Quran Sekaligus

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,

 

 

ãöky­ tb$ŸÒtBu‘ ü“Ï%©!$# tA̓Ré& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# ”W‰èd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3“y‰ßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 `yJsù y‰Íky­ ãNä3YÏB tök¤¶9$# çmôJÝÁuŠù=sù ( `tBur tb$Ÿ2 $³ÒƒÍsD ÷rr& 4’n?tã 9xÿy™ ×o£‰Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé& 3 ߉ƒÌãƒ ª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߉ƒÌãƒ ãNà6Î/ uŽô£ãèø9$# (#qè=ÏJò6çGÏ9ur no£‰Ïèø9$# (#rçŽÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4†n?tã $tB öNä31y‰yd öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±n@ ÇÊÑÎÈ  

“Bulan Ramadhan merupakan bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran yang menjadi petunjuk bagi manusia, dan mengandung penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu, juga sebagai pembeda antara hak dengan yang batil.” (Al-Baqarah: 185)

 

Dan firman-Nya,

 

 

!$¯RÎ) çm»oYø9t“Rr& ’Îû Ï’s#ø‹s9 ͑ô‰s)ø9$# ÇÊÈ  

 

 

 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam lailatul qadr.” (Al-Qadar:1)

 

Ayat-ayat di atas tidak bertentangan, karena malam yang diberkahi dalam bulan Ramadhan itu adalah Lailatul qadr. Tetapi zhahir ayat-ayat itu yang bertentangan dengan realitas kehidupan Rasulullah, dimana Al-Quran turun kepadanya selama dua puluh tiga tahun. Dalam hal ini, para ulama terbagi pada dua madzhab pokok:

  1. Madzhab pertama; Pendapat Ibnu Abbas dan sejumlah ulama, kemudian dipegang oleh jumhur ulama, bahwa “Yang dimaksud dengan turunnya Al-Quran pada ayat-ayat di atas ialah turunnya Al-Quran sekaligus ke Baitul ‘Izzah di langit dunia untuk menunjukkan kepada malaikat-Nya bahwa betapa besar masalah ini. Selanjutnya Al-Quran diturunkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, secara bertahap selama dua puluh tiga tahun sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang mengiringinya sejak beliau diutus sampai wafatnya. Pendapat ini didasarkan pada riwayat-riwayat yang shahih dari dari Ibnu Abbas. Antara lain:
  1. Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata, “Al-Quran diturunkan sekaligus ke langit dunia pada lailatul qadr. Kemudian setelah itu, ia diturunkan selama dua puluh tahun. Lalu ia membacakan;

 

Ÿwur y7tRqè?ù’tƒ @@sVyJÎ/ žwÎ) y7»oY÷¥Å_ Èd,ysø9$$Î/ z`|¡ômr&ur #·ŽÅ¡øÿs? ÇÌÌÈ  

 

“Dan mereka itu tidak membawa kepadamu sesuatu kata-kata yang ganjil (untuk menentangmu) melainkan Kami bawakan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang sebaik-baiknya (untuk menangkis segala yang mereka katakana itu).” (Al-Furqan:33)

 

“Dan Al-Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Al-Isra’:106)

 

  1. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, iaberkata “Al-Quran itu dipisahkan dari Adz-Dzikr, lalu diletakkan di Baitul ‘Izzah di langit dunia. Maka Jibril mulai menurunkannya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
  2. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, iaberkata,

“Allah menurunkan Al-Quran sekaligus ke langit dunia, pusat turunnya Al-Quran secara gradual. Lalu, Allah menurunkannya kepada Rasul-Nya bagian demi bagian.”

  1. Menurut Ibnu Abbas, “Al-Quran diturunkan pada lailatul qadr pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus; lalu ia diturunkan secara berangsur-angsur.[3]

 

  1. Madzhab kedua, yaitu yang diriwayatkan Asy-Sya’bi bahwa yang dimaksud dengan turunnya Al-Quran dalam ayat-ayat di atas ialah permulaan turunnya Al-Quran itu dimulai pada Lailatul qadr di bulan Ramadhan, yang merupakan malam yang diberkahi. Kemudian sesudah itu turun secara bertahap sesuai dengan berbagai peristiwa yang mengiringinya selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Dengan demikian, Al-Quran hanya turun satu macam cara saja, yaitu turun secara bertahap kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebab yang demikian inilah yang dinyatakan oleh Al-Quran,

“Dan Al-Quran telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Al-Isra’:106)

  1. Madzhab ketiga; Al-Quran diturunkan ke langit dunia pada dua puluh tiga malam kemuliaan (Lailatul qadr), yang pada setiap malamnya selama malam-malam kemuliaan itu ada yang ditetukan Allah untuk diturunkan pada setiap tahunnya. Dan jumlah untuk masa satu tahun penuh itu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah sepanjang tahun. Madzhab ini adalah hasil ijtihad sebagian mufassir. Pendapat ini tidak mempunyai dalil.

Adapun madzhab kedua yang diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, dengan dalil-dalil yang shahih dan dapat diterima, tidaklah bertentangan dengan madzhab yang pertama yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas.

Pendapat yang kuat ialah; Al-Quran Al-Karim itu diturunkan dua kali:

Pertama; Diturunkan sekaligus pada Lailatul qadr ke Baitul ‘Izzah di langit dunia.

Kedua; Diturunkan dari langit dunia ke bumi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun.

  1. Madzhab keempat, ada juga sebagian ulama yang berpandangan bahwa Al-Quran turun pertama-tama secara berangsur-angsur ke Lauh Mahfuzh berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Tidak lain ia adalah Al-Quran yang mulia, di Lauh Mahfuzh.”… Kemudian setelah itu ia turun dari Lauh Mahfuzh turun secara serentak seperti itu ke Baitul Izzah. Selanjutnya, ia turun sedikit demi sedikit. Dengan demikian, ini berarti turun dalam tiga tahap.[4]

 

I.1.2. Turunnya Al-Quran Secara Bertahap

 

Al-Quran diturunkan dalam dua tahap:

  1. Dari Lauh Mahfuzh ke sama’(langit) dunia secara sekaligus pada lailatul qadr.

Pada malam mubarakah yaitu Lailatul qadr diturunkanlah Al-Quran secara sempurna ke Baitul ‘Izzah di langit pertama. Firman Allah s w t.:

 

 

üNm ÇÊÈ   É=»tGÅ6ø9$#ur ÈûüÎ7ßJø9$# ÇËÈ   !$¯RÎ) çm»oYø9t“Rr& ’Îû 7’s#ø‹s9 >px.t»t6•B 4 $¯RÎ) $¨Zä. z`ƒÍ‘É‹ZãB ÇÌÈ  

 

“Haa miim. Demi kitab (Al-Quran) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan.” (Ad-Dukhan:1-3)

 

 

 

 

 

!$¯RÎ) çm»oYø9t“Rr& ’Îû Ï’s#ø‹s9 ͑ô‰s)ø9$# ÇÊÈ   !$tBur y71u‘÷Šr& $tB ä’s#ø‹s9 ͑ô‰s)ø9$# ÇËÈ  

 

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malamkemuliaan itu?” (Al-Qadr:1-2)

 

 

 

ãöky­ tb$ŸÒtBu‘ ü“Ï%©!$# tA̓Ré& ÏmŠÏù ãb#uäöà)ø9$# ”W‰èd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3“y‰ßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4 `yJsù y‰Íky­ ãNä3YÏB tök¤¶9$# çmôJÝÁuŠù=sù ( `tBur tb$Ÿ2 $³ÒƒÍsD ÷rr& 4’n?tã 9xÿy™ ×o£‰Ïèsù ô`ÏiB BQ$­ƒr& tyzé& 3 ߉ƒÌãƒ ª!$# ãNà6Î/ tó¡ãŠø9$# Ÿwur ߉ƒÌãƒ ãNà6Î/ uŽô£ãèø9$# (#qè=ÏJò6çGÏ9ur no£‰Ïèø9$# (#rçŽÉi9x6çGÏ9ur ©!$# 4†n?tã $tB öNä31y‰yd öNà6¯=yès9ur šcrãä3ô±n@ ÇÊÑÎÈ  

 

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara hak dan yang batil.” (Al-Baqarah:185)

 

Tiga ayat di atas menyatakan bahwa Al-Quran diturunkan pada suatu malam yang dinyatakan dengan malam mubarakah serta dinamai dengan Lailatul qadr yaitu salah satu malam yang terdapat pada bulan Ramadhan. Hal ini menyatakan bahwa turunnya Al-Quran ialah turun tahap pertama ke Baitul ‘Izzah di langit pertama. Sebagai alasannya apabila yang dimaksud dalam penurunan ini adalah penurunan tahap kedua yaitu kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam maka tidaklah tepat bila dikatakan satu malam dan satu bulan yaitu bulan Ramadhan, karena Al-Quran diturunkan kepada Nabi dalam masa yang lama yaitu selama masa kerasulan 23 tahun serta diturunkan bukan saja pada bulan Ramadhan tetapi juga pada bulan lainnya. Dari itu nyatalah bahwa yang dimaksudkan adalah penurunan pada tahap pertama.

 

  1. Dari sama’ dunia ke bumi secara bertahap dalam masa dua puluh tiga tahun.

Penurunan tahap yang kedua adalah dari langit pertama ke dalam lubuk hati Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan cara berangsur-angsur yang memakan waktu selama 23 tahun yaitu sejak kebangkitannya sebagai Rasul sampai beliau wafat. Firman Allah s w t. dalamsurat Al-Isra’:

 

 

$ZR#uäöè%ur çm»oYø%tsù ¼çnr&tø)tGÏ9 ’n?tã Ĩ$¨Z9$# 4’n?tã ;]õ3ãB çm»oYø9¨“tRur WxƒÍ”\s? ÇÊÉÏÈ  

“Dan Al-Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (Al-Isra’:106)

 

Firman Allah dalamsuratAl-Furqan:

 

 

tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. Ÿwöqs9 tAÌh“çR Ïmø‹n=tã ãb#uäöà)ø9$# \’s#÷Häd Zoy‰Ïnºur 4 y7Ï9ºx‹Ÿ2 |MÎm7s[ãZÏ9 ¾ÏmÎ/ x8yŠ#xsèù ( çm»oYù=¨?u‘ur Wx‹Ï?ös? ÇÌËÈ  

 

“Berkatalah orang-orang kafir: “Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”. Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil.” (Al-Furqan:32)

 

Analisa dari kedua pengertian di atas adalah: (1). Allah membenarkan apa yang dikemukakan oleh mereka bahwa turunnya kitab-kitab samawy terdahulu adalah sekaligus. Allah mejawab pertanyaan mereka secara filosifis bahwa turunnya Al-Quran adalah berangsur-angsur dan andai kata turunnya kitab-kitab samawy sebelum Al-Quran secara berangsur-angsur pula sebagaimana halnya Al-Quran, niscaya Allah akan memberi bantahan terhadap mereka bahwa mereka tidak membenarkannya (mendustakannya); (2). Menyatakan bahwa penurunan secara berangsur-angsur adalah merupakan sunnatullah sebagaimana Dia menurunkan sekaligus kitab-kitab kepada Nabi terdahulu.[5]

 

II. Hikmah Turunnya Al-Quran Secara Bertahap

 

Turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur itu mengandung hikmah yang nyata serta rahasia yang cukup banyak. Kita dapat menyimpulkan hikmah turunnya Al-Quran secara bertahap dari nash-nash yang berkenaan dengan hal itu. Diantaranya adalah:

  1. Meneguhkan hati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Wahyu turun kepada Rasulullah dari waktu ke waktu sehingga dapat meneguhkan hatinya terhadap kebenaran dan memperkokoh azamnya untuk tetap melangkahkan kaki di jalan dakwahnya tanpa ambil peduli akan perlakuan jahil yang ia hadapi dari masyarakatnya sendiri, karena yang demikian itu hanyalah kabut di musim panas yang segera lenyap.[6]

Ketika penderitaan dan cobaan begitu dahsyat maka turunlah ayat sebagai penenang baginya dan sebagai obat peringan beban yang dipikulnya. Ayat yang bersifat tasliah (penenang) tersebut kadang-kadang berupa sejarah para Nabi terdahulu agar ia bisa mencontoh mereka dalam ketabahan serta kesungguhannya.[7]

 

“Sesungguhnya Kami telah mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu. Janganlah bersedih hati, karena sebenarnya mereka bukanmendustakan kamu, tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Rasul-rasul sebelum kamu juga telah didustakan, tetapi mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.” (Al-An’am:33-34)

 

“Jika mereka mendustakan kamu, maka sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan, mereka membawa keterangan-keterangan yang nyata, Zabur dan kitab yang membawa penjelasan yang sempurna.” (Ali Imran:184)

 

“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam suratan ini telah datang kepadamu kebenaran serta kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (Hud:120)

 

Demikian pula Allah menghiburnya dengan ayat-ayat perlindungan, kemenangan, dan pertolongan,

 

“Allah akan melindungi kamu dari gangguan mereka.” (Al-Ma’idah:67)

 

“Dan Allah akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat.” (Al-Fath:3)

 

“Allah telah menetapkan; Aku dan Rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Al-Mujadilah:21)

 

Demikianlah ayat-ayat Al-Quran itu diturunkan kepada Rasulullah secara berkesinambungan sebagai penghibur dan pendukung sehingga ia tidak dirundung kesedihan dan dihinggapi rasa putus asa.[8]

  1. Tantangan dan Mukjizat

Orang-orang musyrik senantiasa dalam kesesatan. Mereka sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud melemahkan dan menentang, untuk menguji kenabian Rasulullah, mengajukan hal-hal yang batil dan tidak masuk akal, seperti menanyakan tentang Hari Kiamat, “Mereka menanyakan kepadamu tentang Kiamat.” (Al-A’raf:187); minta disegerakannya adzab, “Dan mereka meminta kepadamu agar adzab itu disegerakan.” (Al-Hajj:47) maka turunlah Al-Quran untuk menjelaskan kepada mereka suatu kebenaran dan jawaban yang amat tegas atas pertanyaan-pertanyaan mereka itu, misalnya firman Allah,

 

 

 

 

“Dan orang-orang kafir itu tidak dating kepadamu dengan membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.” (Al-Furqan:33)

 

Maksudnya, setiap kali mereka datang kepadamu dengan pertanyaan-pertanyaan yang aneh-aneh, Kami datangkan kepadamu jawaban yang benar dan lebih berbobot daripada  pertanyaan-pertanyaan yang merupakan contoh daripada kebatilan.[9]

 

  1. Tadarruj (berangsur-angsur) Dalam Menetapkan Hukum

Dalam hal ini amat nyata dan jelas, dimana metode Al-Quran terhadap manusia, khususnya orang-orang Arab ada suatu metode yang filosofis dalam melepaskan mereka dari dunia kemusyrikan untuk hidup dengan penuh pancaran iman serta membudaya dalam pribadinya untuk cinta kepada Allah dan Rasul-Nya,iman dengan hari kebangkitan dan pembalasan.

Sebagai contoh yang berhubungan dengan ketentuan hukum yang Maha Bijaksana tersebut adalah telah berhasil ditempuh oleh Al-Quran dalam mengobati kanker masyarakat yaitu dalam pengharaman khamar yang sudah menjadi penyakit yang meradang dan menjalar di kalangan orang Arab. Dalam hal ini Al-Quran menetapkan pengharamannya melalui empat tahap; pertama dengan ungkapan secara tegas (memberi pengertian) sebagaimana firman Allah s w t.:

 

 

 

“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rizki yang baik.” (An-Nahl:67)

 

Dengan ayat di atas Allah menjelaskan bahwasanya Dia telah memberi karunia kepada manusia dua jenis pohon yaitu pohon kurma dan anggur. Dari keduanya bisa didapatkan: (1) Minuman keras yaitu khamar yang memabukkan dan (2) Rizki yang baik yang bermanfaat untuk manusia berupa makanan dan minuman.

Tahap kedua, dengan ungkapan yang akan dapat diketahui dengan mengadakan perbandingan praktis antara dua persoalan; pertama mendatangkan manfaat yang sedikit dan yang kedua mengandung bahaya dari segi fisik, kesehatan dan mental. Sebagaimana firman Allah s w t. berikut:

 

 

 

 

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat kepada manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.” (Al-Baqarah:219)

 

Dalam tahap ketiga bersifat larangan secara tegas(haram) tetapi pengharamannya secara juz`iy (dalam waktu tertentu), sebagaimana firman Allah:

 

 

 

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan……” (An-Nisa’:43)

 

Dalam tahap terakhir ini pengharaman bersifat kully (setiap saat) yaitu haram secara tegas, sebagaimana firman Allah s w t.:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya meminum khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan maka jauhilah perbuatan-perbuatan syaitan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran meminum khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang: maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu.” (Al-Maidah:90-91)[10]

 

  1. Memudahkan Hafalan dan Pemahamannya

Al-Quran Karim turun di tengah-tengah umat yang ummi, yang tidak pandai membaca dan menulis. Yang menjadi catatan mereka adalah hafalan dan daya ingat mereka. Mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang tata cara penulisan dan pembukuan yang dapat memungkinkan mereka menuliskan dan membukukannya, kemudian menghafal dan memahaminya.

 

 

 

 

 

 

 

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul yang berasal dari antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jumu’ah: 2)[11]

 

Demikian pula halnya Nabi sendiri, dimana ia adalah seorang yang ummi pula, sebagaimana dikemukakan dalam ayat:[12]

 

 

 

 

“Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi…” (Al-A’raf: 157)

 

  1. Tanpa Diragukan Bahwa Al-Quran Al-Karim Diturunkan Dari Sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji

Al-Quran yang turun secara berangsur-angsur kepada Rasulullah dalam waktu lebih dari dua puluh tahun ini, ayat-ayatnya turun dalam waktu-waktu tertentu, orang-orang membacanya dan mengkajinyasuratdemisurat. Ketika itu mereka mendapati rangkaiannya yang tersusun cermat sekali dengan makna yang saling bertaut, dengangayaredaksi yang begitu teliti, ayat demi ayat,suratdemisuratyang saling terjalin bagaikan ontaian mutiara yang indah yang belum pernah ada bandingannya dalam perkataan manusia,

 

 

 

 

“Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Mahatahu.” (Hud: 1)

“Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatinya saling bertentangan di dalamnya.” (An-Nisa`:82)[13]

 

 

 

 

III. BAGAIMANA CARA NABI MENERIMA AL-QURAN

Nabi menerima Al-Quran dengan perantaraan malaikat Jibril a.s. Jibril menerimanya dari (Allah) Tuhan yang Maha Agung. Jibril Al-Amin tugasnya hanyalah sekedar menyampaikan kalam Allah dan menyampaikan wahyu kepada Rasul s a w. Allah yang Maha Bijaksanalah yang menurunkan kitab suci-Nya  kepada seorang Nabi terakhir dengan perantaraan pembawa wahyu yaitu Jibril a.s. Jibril mengajarkan kepada Rasul dan Rasul menyampaikan kepada umatnya. Allah memberi julukan kepada Jibril dengan Al-Amin a s.(yang terpecaya) dalam menyampaikan wahyu, karena menyampaikannya sebagaimana yang telah ia terima dari Allah. (firman Allah):

 

 

 

 

“Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arasy yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (At-Takwir:19-21)

 

Allah menandaskan lagi sebagai julukan terhadap Jibril dengan firman-Nya:

 

 

 

 

“Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan.” (Asy-Syu’ara: 193-194)

 

Sesungguhnya dengan diturunkannya Al-Quran, Rasul merasa berat (mengalami kesulitan). Beliau begitu mengkonsentrasikan untuk menghafalnya. Beliau sering mengulang membacanya bersama Jibril dalam mempelajari Al-Quran karena merasa khawatir jika ada yang hilang (lupa), Allah s w t. memrintahkan kepada Nabi agar mendengarkan baik-baik bila jibril membacakannya. Ia menentramkan hatinya bahwa Allah s w t. akan menjamin Al-Quran tersebut untuk tetap terpelihara dalam hatinya. Karena Nabi tidak tergesa-gesa dalam membaca dan ia tidak memaksakan diri dalam menerimanya.(firman Allah s w t.):

 

 

 

 

“Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhan tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thaha:114)

 

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Quran karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (Al-Qiyamah:16-19)

 

PENUTUP

 

Kesimpulan

 

Allah telah memuliakan umat Muhammad, karenanya Dia telah menurunkan kepadanya kitab yang luar biasa, sebagai penutup dari kitab-kitab samawy, menjadi undang-undang kehidupan, pemecah persoalan, menjadi pengobat penyakit dan kanker masyarakat, tanda keagungan dan keluhuran sebagai umat pilihan untuk bisa mengemban risalah samawiyahyang paling mulia, yang Allah telah memuliakannya dengan bekal kitab yang luhur ini dan diturunkan khusus kepada seorang Rasul yang mulia Muhammad bin Abdillah.

Al-Quran juga diturunkan dengan beberapa tahap. Adayang sekaligus, yang diturunkan oleh Allah dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia, dan secara bertahap, yang diturunkan oleh Allah dari Lauh Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia dibawa oleh malaikat Jibril a s. lalu disampaikan ke Nabi Muhammad dalam periode tertentu selama dua puluh tahun lebih.

Banyak hikmah setelah diturunkannya Al-Quran ini, diantaranya ialah meneguhkan/ memantapkan hati Rasulullah s a w., dan relevan dengan peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum, tantangan dan mukjizat, tadarruj (berangsur-angsur) dalam menetapkan hokum, memudahkan hafalan dan pemahamannya, tanpa diragukan bahwa Al-Quran Al-Karim diturunkan dari sisi Yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji.

Serta beberapa cara yang ditempuh Nabi dalam menerima Al-Quran melalui perantaraan malaikat Jibril a s. yang diterima dari Allah untuk disampaikan kepada Nabi dengan cara mengulang wahyu (bacaan) yang diturunkan. Dengan tidak tergesa-gesa dalam membacanya dan Allah s w t. akan menjamin Al-Quran tersebut untuk tetap terpelihara dalam hati Nabi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qaththan, Syaikh Manna’. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. Pustaka Alkautsar. Jakarta.2007

Ash Shabuny, Mohammad Aly. Pengantar Study Al-Quran (At-Tibyan). PT. Alma’arif. Bandung.1984

Quthan, Mana’ul. Pembahasan Ilmu Al-Quran jilid I. PT. Rineka Cipta.Jakarta. 1993


[1] Mana’ul Quth’an. Pembahasan Ilmu Al-Quran. PT. Rineka Cipta (1993). hal.112

[2] Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran.Pustaka Al-Kautsar (2007). hal.124

[3] Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran.Pustaka Al-Kautsar (2007). hal.125-126

[4] Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran.Pustaka Al-Kautsar (2007). hal.125-130

[5] Mohammad Aly Ash Shabuny. Pengantar Study Al-Quran (At-Tibyan). PT. Alma’arif (1984). hal.55-60

[6] Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran.Pustaka Al-Kautsar (2007). hal.134

[7] Mohammad Aly Ash Shabuny. Pengantar Study Al-Quran (At-Tibyan). PT. Alma’arif (1984). hal.61

[8] Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran.Pustaka Al-Kautsar (2007). hal. 136

[9] Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran.Pustaka Al-Kautsar (2007). hal.137-138

[10] Mohammad Aly Ash Shabuny. Pengantar Study Al-Quran (At-Tibyan). PT. Alma’arif (1984).hal.65-68

[11] Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran.Pustaka Al-Kautsar (2007). hal.139

[12] Mohammad Aly Ash Shabuny. Pengantar Study Al-Quran (At-Tibyan). PT. Alma’arif (1984).hal:70

[13] Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran.Pustaka Al-Kautsar (2007). hal.147