Di Balik Puing-puing Sampah pun Masih Ada Sebuah Harapan

Adzan subuh baru berkumdang,mata nya sudah lama terbuka lekas menunanikan kewajiban nya. Memakai pakaian lusuh yang setiap hari menemani mencari sebuah kehidupan. Karung kosong dan sebilah kail sudah siap ditangan. Dan tak lupa sepasang sandal jepit dan sebuah harapan pergi menuju ,kehidupan baru yang segera di mulai.

 

Ada harapan di setiap langkah, berharap ada kehidupan di balik setiap TONG yang akan dilewati. Mengais-gais di setiap tumpukan, bermandikan dengan aroma kehidupan. Berlumur dengan yang sebagian orang mengangap tak ada arti nya lagi dan menjadi sisa. Tapi tak berlaku untuk nya ada sebuah harapan dan kehidupan di setiap lembaran dan tumpukan nya.

 

 

Begitu banyak waktu yang telah bergulir, dan sebanyak itu juga dilewati nya dengan aktifitas seperti ini. Berlomba dengan hewan dan makhluk lain nya mengais sebuah harapan yang sama-sama ada kehidupan nya di situ. sama-sama Ada kebahagian di dalamnya.

 

 

Tak banyak hal yang bisa kita sadari,dibalik lembaran sampah yang menumpuk. Ada kehidupan di situ. Begitu banyak orang yang bisa makan dari aktifitas semacam ini. Lembaran nya memberikan kebahagian, memberi senyum memberi arti, di segenap bergulir nya waktu ia membuat kehidupan,memberi ruang untuk bernafas dan menikmati anugerah yang telah di gulirkan.

 

 

Tak sedikit pun kata – kata mengeluh terdengar yang keluar dari sela-sela bibir nya,meronta pada kehidupan yang ada. Karena ini lebih dari cukup apa yang telah Ia berikan kepada kita. Ini lah cerita di dalam kehidupan yang semuanya ada peran masing-masing, yang terlepas dari apapun peran kita di dunia ini. Apa yang layak dan pantas kita berikan untuk semua sendi kehidupan sebagai amalan terbaik nya kelak di kehidupan sesudah ini.

 

 

Lihat dirimu, lihat lah diri kita. Begitu banyak potensi yang seharus nya kita berikan pada kehidupan ini. Potensi itu kita pendam dan lebih memilih untuk ego memikirkan dan memperhatikan diri sendiri, tampa mau memberi dan berbagi. Terlalu sayang diri kita hanya bisa bermanfaat hanya untuk kita sendiri. Padahal begitu banyak yang orang lain harapkan  dari diri kita.

 

 

Sampah pun, dengan sisa kelebihan yang ia miliki, dirinya masih bisa memberi dan berbagi. Beribu-ribu bahkan berjuta-juta yang bisa hidup dari setiap lembaran yang ia miliki. Dan diri kita lebih dari itu. Pertanyaan nya kenapa terkadang kita tidak bisa berperan lebih dari apa yang di lakukan sampah tersebut.Keadaan kita lebih baik dari pada apa yang di rasakan sampah saat ini, tapi terkadang kenapa berbanding terbalik dengan sampah nya, kita begitu banyak mengeluh dan menuntut yang macam-macam dari kehidupan ini. Tampa bisa memberi arti lebih dari apa yang ada. Ini lah dinamika atas tidak mengertian kita terhadap hidup yang diberikan. Tak banyak yang dapat kita lakukan di hidup ini, tapi kalau soal mengkritisi dan mencari kesalahn orang lain kita berada di posisi depan untuk menjatuhkannya. Padahal kita sedikitpun tak bisa menyamai apa yang mereka perbuat.

 

 

Hari ini kita belajar dari lembaran sampah-sampah ini. Sampah yang membelajarkan dan mendewasakan bagi pribadi kita. Ternyata lembaran sampah yang ada di tempat kost, kantor tempat kuliah, dan sebagai nya yang selalu  kita anggap sebagai biang kekotoran ternyata ia bisa memberikan kata lebih dari apa yang telah kita gelarkan tadi pada dirinya. Dan bagai mana dengan diri kita sendiri yang katanya bersih, yang pintar yang hebat dan semua yang bagus yang sempat kita semat kan kepada diri kita atau pun yang kita semat kan kepada orang-orang yang selalu kita junjung tinggi karena prestasi nya yang membanggakan. Apa yang bisa kita perbuat dan kita lakukan dengan makna yang lebih dari apa yang di lakukan sampah ? biarkan hati kecil mu berkata jujur untuk mengungkapkan nya ! terkadang kita pun tak lebih dari sampah ataupun rendah dari itu, dengan sikap diam kita yang tak selalu ingin memberi arti terhadap sebuah kehidupan. Terkadang juga kita merasa tak layak berada pada saat ini dengan peran seperti ini juga. Karena tak banyak yang kita lakukan untuk memberi  yang terbaik dari apa yang kita miliki.

 

 

Tuhan menciptakan semua nya tampa kesia-siaan hanya diri kita terkadang yang banyak membuat nya menjadi sia-sia dan tak bearti. Bukan perbaikan dan perbuatan yang kita lakukan hanya kecarut marutan yang ada. Ini kita belajar dari pencari sampah dan sampah itu sendiri. Begitu sunguh-sunguh nya mereka berbuat dengan apa adanya mereka lakukan. Demi tercipta kebersihan, keramahan dan kehidupan untuk senyum di esok hari..

 

 

Waktu telah membuka kembali mata kita hari ini dari tidur panjang yang kita lakukan semalam, bertanda ada sebuah kesempatan kembali untuk berbenah dan berbuat lebih baik lagi. Tak kita sadari hati kecil kita selalu berkata jujur atas perbuatan kita yang sering kita lakukan dengan kesalahan. Sekarang jangan kita tutupi lagi hati kecil kita untuk mengungkapkan kebaikan dan kebenaran untuk diri kita, biarkan ia teriak sekuat mungkin untuk diri kita. Sehingga kelak apa yang kita lakukan dan perbuat dapat bearti selayak sampah yang ia lakukan.

 

 

Dan yang merasa diri nya berbuat selama ini, mari kita pertanyakan ke dalam diri kita lagi apa memang benar-benar ada yang kita perbuat selama ini. Apakah ia benar menjadi kehidupan untuk orang lain ? jangan-jangan kita melakukan nya hanya untuk kepentingan diri kita sendiri juga. Untuk saat ini mari kita berbuat lebih dan membuat makna baru tentang kehidupan ini. Kita berjanji atas segenap kehidupan untuk memberikan yang terbaik terhadap yang kita miliki. Dan selalu berbagi terhadap siapa yang membutuhkan nya . karena sekecil apapun yang kita perbuat ada hal yang membesar yang akan kita dapat kan di kehidupan yang akan mendatang. Berbahagialah terhadap apa yang kita rasakan saat ini karena itu bukan suatu hal yang buruk untuk mu. Dan bersyukurlah apa yang engkau rasakan saat ini karena belum tentu terbaik untuk mu.

 

 

Waktu tak pernah menjamin kita akan menjadi seperti malaikat terus menerus, dan samaph pun tak kan pernah juga menjadi kotoran terus menerus, semua nya bisa berubah. Tapi dengan berubah nya kita nanti jangan lupa berikan semua nya untuk kehidupan. Karena kita di utus untuk berbuat dan melakukan yang terbaik atas semua anugerah yang di titipkan kepada diri kita.

 

 

Siang pun mengantikan pagi yang lirih, sambil membawa sebungkus nasi di tangan, lekas pergi untuk pulang dan berkumpul dengan keluarga, anak-anak dan istri telah menungguh kehangatan kehadiran nya. Untuk makan bersama-sama dan menikmati anugerah tuhan yang begitu besar mereka rasakan. Dengan tertunduk aku sadar Di balik puing-puing  sampah pun masih adasebuah harapan.

Iklan

Pemuda dan Peradaban Itu

Suatu Negara itu masih memiliki harapan,

Ketika kita melihat hari sabtu malam,

 pemuda nya masih ada yang shalat subuh di masjid

atau setidak nya shalat nya tepat waktu.

asep syapa’at (aktivis dompet duafa)

 

steteamen di atas membuat terhenyak di forum diskusi siang ini, membuat diriku diam sejenak mencari maksud dari pengalan kata-kata di atas. Tapi tak satu pun dari peserta dan termasuk diriku yang hadir mengetahui maksud dari apa yang di sampai kan itu. Dengan tempo rendah beliau mengungkapkan maksud dari apa  yang ia sampai kan tadi. Kenapa harus di lihat dari hari sabtu malam ? karena biasa nya pemuda pada malam itu kebanyakan yang hura-hura. Sehingga shalat subuh pun telat bahkan tidak sama sekali. Terus apa hubungan nya dengan harapan yang ada untuk negeri ini ?  karena perwajahan suatu negeri bisa dilihat dari kondisi dan karakter pemuda yang hidup di negeri tersebut. Terus apa jadi nya kalau pemuda nya kebanyakan yang hura-hura membuang waktu dengan penuh kesia-siaan. Tampa mau berbuat untuk berhubungan dengan langit, bahkan cuek memutuskan hubungan tersebut. Hati kecil ku membenarkan apa yang beliau utarakan. Di sisi lain aku pun bertanya-tanya ? apakah pemuda yang ia maksud aku, dan orang yang ada di ruangan ini? Atau kah harapan itu ada di pundak ku dan pundak-pundak orang yang ada di ruangan ini ? mungkin hati kecil ini bisa dengan jujur menjawab pertanyaan itu.

 

 

Benarkah perwajahan negeri kita saat ini ? wujud dari perwajahan pemuda nya ? mari kita urai lagi tali sejarah kepemudaan itu. Sultan Mahmud II pada usia 22 tahun sudah bisa mengantikan ayahandanya M.ali ash-shalabi. Dan pada usia 24 tahun berhasil menaklukan konstantinopel. Yang memimpin pasukan sekitar 250000 ribu lebih pasukan. Bagaimana dengan Khalid bin walid sejak usia muda nya sudah kelihatan menonjol kepemimpinan nya dari kawan-kawan sepermainan nya. Yang bisa mematahkan kaki umar dan bisa menyusun strategi perang tampa ada yang bisa menandingi nya ?. kita beralih ke salman al-farisi bangsawan persia ini usia 17 tahun nya sudah mampu memimpin para sahabat yang jauh lebih senior dari pada dirinya ? dan motivasi mencari kebenaran dan menegak kebenaran patut di jadikan referensi kita saat ini. Dan masih ada umar bin khatab dan umar bin abdul aziz saking tenar mereka ini organisasi eksternal KAMMI di jadikan sebagai materi daurah marhala II nya sebagai rujukan kepemimpinan saat ini ? memberikan andil yang besar terhadap perkembangan dan kejayaan islam. Selama sepuluh tahun menjabat sebagai khalifa beliau bisa menduduki syiriah, palestina, irak dan mesir yang pada saat itu di pegang oleh Byzantium. Siapa kah sebenar nya mereka ? mereka orang-orang muda yang banyak kontribusi nya untuk islam di masa nya. Hanya cukup sebatas itu, tidak ! masih banyak dan bahkan lebih menggugah. Dan yang paling fenomenal, junjungan kita nabi agung Muhammad saw yang masa keemasan beliau banyak ia lakukan di waktu muda. 12,25 dan 40 tahun. Dari rentang waktu tersebut beliau berhasil membawa peradaban itu hingga detik ini masih bisa kita rasakan kecermelangan islam itu.

 

 

Masih ingat dengan bung hatta ? ya benar, proklamator kita satu ini ternyata di usia 26 tahun di tangkap dan di siding di den hag. Saat itu beliau membacakan pleidoi. Kira-kira isi nya seperti ini. Hanya satu tanah air yang dapat di sebut tanah air ku. Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku. Sebuah pleidoi yang mencerminkan  prinsip dan kematangan jiwa. Beliau tidak sendiri, yang mengisi masa muda dengan kebaikan. Ada bung tomo yang menyemangati pejuang republic ini. Soekarno sejak 21 tahun telah aktif keorganisasian dan pada usia 41 tahun telah berhasil menjadi orang nomor satu di negeri ini. Siapakah mereka ? mereka adalah orang yang banyak berbuat dan menorehkan cerita manis untuk republic ini.

 

 

Sejak generasi pertama umat ini, sampai ke generasi proses terbentuk nya negara kita ini. Pemuda lah satu-satu nya solusi yang mewujudkan semua itu. Dan semoga kita bisa memetik dari apa yang pernah mereka torehkan di atas, bahkan lebih baik lagi dari mereka perbuat.

 

 

Seseorang yang dalam usia nya yang masih sangat belia,memilikih kematangan dan jiwa kepemimpinan yang luar biasa. Mampu kah untuk kita samai ????seiring dengan kematangan fisik, selayak nya ada kerja-kerja pendewasaan diri yang mulai di kerjakan.

 

 

Bagaimana kah dengan kinerja usia kita sekarang ? apa yang menjadi cerita manis di generasi berikut nya tentang kita ?  sebuah torehan yang di kehidupan sesungguh nya menjadi pemberat amalan kita ? apa-apa saja yang telah kita lakukan untuk agama dan bangsa saat ini ? atau kah kita sudah puas dengan peradabaan saat ini ? sehinggah kita banyak yang tidak bermanfaat yang kita perbuat dari pada manfaat itu sendiri.

 

 

Siklus usia akan menjadi saksi apa yang selama kita perbuat di dunia ini ! termasuk usia muda kita. Tentu nya kita tidak ingin berada di masa tua dengan tidak membawa warisan apa-apa. Tentu juga kita tidak ingin membiarkan rambut hitam kita berubah begitu saja menjadi putih tampa ada bekalan yang banyak. Sungguh ini lah pemuda dan peradabaan itu. Yang tak terpisahkan. Seperti dongeng sebelum tidur kita semasa kecil yang tidak bisa di pisah antara dongeng dengan tidur itu sendiri. Yang kalau kita tidak di dongengan kan kita merajuk dan memilih untuk tidak tidur.

 

 

Usia merupakan pemberian dari allah sesuai permintaan kita,untuk mengisi kehidupan ini. Sepanjang batas waktu itu kita di tuntut untuk mengisi dengan hal-hal yang prosuktif. Batas waktu itu pun juga rahasia untuk kita ketahui.alangkah baik nya sebelum ia tiba kita telah banyak menorehkan sesuatu untuk kehidupan ini.

 

 

Ini lah peran pemuda dalam mewujudkan peradaban itu, yang sering kita menanyakan pada waktu seminar tentang kepemudaan. Yang biasa nya kita pura-pura tidak tahu dengan peran tersebut. Mari kita banyak berbuat kebaikan dengan usia muda yang kita mulai sekarang, karena pemuda adalah sebuah penentuan peradabaan.

 

 

Masa yang akan datang, kewajiban mu lah

Menjadi tangungan mu terhadap nusa……..

Ilmu dan Karakterististik Muslim Itu

Tidak kutemui orang alim, diantara orang alim

kecuali tiga orang. Atha,thawus dan mujahid

#Imam al-Haramain

 

Seorang budak dari habasyah,yang di kuasai oleh perempuan mekkah ini patut di jadikan referensi oleh generasi muslim saat ini. Kesungguhan nya dalam menuntut ilmu membawa diri nya dari seorang budak menjadi seorang yang melebihi raja. Ya….atha bin abi rabah orang nya, semoga kita di pertemukan di surga nya kelak.

 

 

Kesungguhan nya menuntut ilmu lah yang membuat nya terbebaskan dari seorang budak menjadi pribadi yang merdeka. Budak Habibah binti Maisarah bin Abi Hutsaim ini menunjukkan semangat yang mengebu-gebu dalam memdalami dan mencari ilmu. Yang membuat derajat diri nya menjadi tinggi dan di segani.

 

 

Imam Ibnu Abi Laila mengatakan, “Aku pernah berjumpa dengan Atha. Lalu ia menanyakan beberapa hal kepadaku. Maka sahabat-sahabat Atha tercengang keheranan seraya mengatakan, ‘bagaimana mungkin engkau yang bertanya kepadanya?’ Ia menjawab, ‘apa yang kalian herankan? Dia orang yang lebih berilmu daripada saya.”

 

 

Perkataan yang senada pun diucapkan oleh Ibnu Abbas, tatkala ada seseorang yang diutus untuk mengajukan pertanyaan kepadanya, lalu sepupu nabi ini menjawab, “Wahai penduduk Mekah, kalian berkumpul dan meminta fatwa kepadaku padahal di tengah-tengah kalian ada Atha bin Abi Robah.”

 

 

Abu Ja’far Al-Baqir mengatakan “Bertanyalah kalian kepada Atha, dia itu orang yang paling baik di antara kita.” Ia juga menuturkan, “Ambillah (ilmu) dari Atha semampu kalian, karena tidaklah tersisa di muka bumi ini seorang yang lebih mengetahui tentang manasik haji selain Atha.”

 

 

Ini lah pribadi yang di angkat derajat nya oleh ilmu sendiri yang ia kuasai !!!!!!!!!!!!!!. betapa penting dan besar nya peranan ilmu itu untuk seseorang.

 

Ini lah sesungguh nya karakter seorang muslim itu, patut kita teladani dan di jadikan referensi bagi kaum muslim saat ini.

Dalam kondisi zaman saat ini, yang semua nya bisa di kerjakan dengan sekejap mata. Oleh perkembangan ilmu teknologi yang semakin hari semakin cangih. Kian hari kian menantang dan menuntut pribadi kita untuk mengimbangi semua itu, supaya tidak ketinggalan oleh yang ada saat ini.

 

 

Bagi aktivis dakwah saat ini, ini menjadi catatan penting dalam perjalanan dakwa itu sendiri. Oknum ataupun pribadi orang yang mengusung gerakan dakwa itu harus cepat ber penetrasi dengan kondisi zaman saat ini. Supaya dakwa yang di usung bisa di cepat berkembang.

 

 

Semua itu berawal dari ilmu, seberapa besar ilmu yang kita miliki oleh aktivis dakwa saat ini. Seberapa cepat situ juga dakwa kita berkembang.

 

Belajar dari nabi sulaiman, saat proses ratu balqis masuk dan menyatakan diri sebagai bagian dari islam. Itu semua berawal dari kejeniusan nabi sulaiman dengan pesona ilmu dan kecerdasan yang ia miliki yang bisa membuat ratu balqis tunduk dan masuk islam.

 

 

Atha seorang budak masih bisa menyempatkan diri untuk menuntut ilmu. Selepas ia sudah menjadi budak,hidup nya di ngabdikan hanya untuk mencari ilmu, dan dengan ilmu itu ia banyak mennyebarkan agama allah.

 

Dan kita sekarang adalah pribadi yang mardeka tanpa ada satu pun hal yang mengikat untuk menghalangi kita mencari ilmu itu. Belajar dari sulaiman dan atha dan yang lain nya yang mampu berbuat banyak dalam hal kebaikan dengan ilmu yang mereka miliki. Sebagai bekal kita untuk di kehidupan yang akan datang.

 

 

Mari kita sempurnakan karakter kemusliman kita, mulai saat ini untuk bersungguh-sungguh menuntut ilmu. Dan semoga dengan ilmu yang kita miliki kita bisa member kebaikan terhadap kondisi bangsa, agama dan diri kita sendiri. Berbanggalah menjadi pribadi berilmu karena ilmu merupakan karakter dari seorang muslim.

MESIN PENCETAK GENERASI BANGSA ITU BERNAMA GURU

Sadarkah kita, tetatangga kita yang dulunya pendiam sekarang berubah menjadi nakal, yang dulunya pemalu sekarang berubah menjadi benalu, yang dulunya suka membantu sekarang suka mengganggu? Padahal mereka baru saja tamat dari sekolah mereka. Mengapa mereka tidak menjadi lebih baik? Kitapun tak sedikit melihat anak kecil yang dimasa kecilnya dengan lantang mengucapkan “Aku ingin menjadi dokter!”, “aku ingin menjadi presiden!”, “aku ingin menjadi Astronot!” dan lain sebagai sebagainya.

Ternyata ketika dewasa, mereka mengubah cita-cita mereka. Si calon presiden tadi bahkan menghapus cita-citanya. Boro-boro menjadi presiden, mau cari kerja saja susah katanya. Sang astronotpun tidak lagi mempertahankan cita-citanya. Bahkan berbicara tentang angkasa luarpun tidak pernah ia lakukan, sekarang ia hanya perpikir bagaimana sekripsinya cepat selesai.

Belasan tahun sekolah benar-benar telah merubah mereka. Tapi perubahan apa? Sekolah seharusnya merubah si calon presiden benar-benar menjadi calon presiden yang siap, yang mampu mengenal masalah bangsanya, yang percaya diri, yang mahir berbagai bahasa asing sebagai bekal seorang presiden, yang mampu berkomunikasi dengan baik, dan yang mampu memimpin. Begitu juga dengan calon dokter, astronot dan lain sebagainya, seharusnya sekolah mampu mempersiapkan mereka dan membantu mereka dalam mewujudkan cita-cita mulia mereka. Atau setidaknya sekolah mampu terus menjaga mimpi-mimpi mereka, membakar terus motivasinya, bukan sebaliknya.

Tapi, mengapa sekolah justru memadamkan bara dalam diri setiap anak? Bahkan melahirkan banyak pengangguran, banyak anak nakal, banyak pemuda pesimis, banyak orang pintar yang culas, yang seharusnya memintarkan orang lain tetapi malah membodohi orang lain? Bahkan pemimpin-pemimpin yang korup pun dilahirkan dari sekolah.

Bukankah si anak sebelumnya tidak mengenal kata mencotek? Namun, sekolahlah yang mengajarkannya, sekolah secara tidak sengaja telah mendidik mereka untuk itu. Sehingga lahirlah budaya mencontek berjamaah. Atau setidaknya, pada sekolah kebanyakan tidak ada keseriusan untuk menghapus kebiasaan ini.

Bukankah sebelumnya anak-anak tidak mengenal kata nilai atau skor? Sehingga ketika mereka dulu belajar berjalan, karena mereka betul-betul butuh berjalan. Mereka tak butuh skor berjalan untuk bisa berjalan, bukan? Bukankah merekapun dulu ikhlas dan semangat belajar bersepeda. Karena mereka sadar itu keharusan untuk meraih kesuksesan hidup. Sehingga mereka sangat bersemangat  mempelajarinya. Mereka tak peduli jatuh bangun, tertimpa sepeda, bangun lagi, menabrak pohon, bahkan masuk parit sekalipun. Sebelum sekolah mereka telah diajarkan makna kerja keras, sungguh-sungguh dan arti sebuah mimpi, bukan arti mengejar nilai.

Tapi setelah sang ibu memasukkan mereka ke sekolah. Apa yang terjadi? Perlahan-lahan semangat belajar mandiri mereka padam seiring berjalannya waktu. Kesungguh-sungguhan mereka lenyap karena mereka dipaksa mengejar target kurikulum dan angka. Keceriaan dan kesukarelaan mereka dalam belajar tak membekas karena sekarang sang guru siap menuliskan angka merah, remedial, atau ancaman tidak naik kelas.

Para siswa sekarang duduk manis dikelas dengan penuh kepura-puraan. Mereka bergembira saat loceng berbunyi, seolah-olah terbebas dari belenggu yang berat. Lihat juga ketika perpisahan sekolah terjadi. Itulah saat-saat yang paling membahagiakan mereka. Mereka seakan-akan berkata selamat tinggal ‘penjara’, kami berjanji tidak akan kembali lagi. Bukankah tanda cinta itu tak ingin berpisah? Mengapa mereka malahan sangat gembira ketika perpisahan itu terjadi.

Bukankah seharusnya yang terjadi adalah anak-anak sangat antusias ketika bersekolah, murid bahagia didalam kelas dan ketika ditugasi oleh sang guru. Seharusnya siswa lebih suka membaca daripada jajan, atau seharusnya mereka sedih ketika perpisahan sekolah atau wisuda. Bukannya malah bergembira. Kenapa itu terjadi?

Saat masih kecil, mereka begitu riang gembira ketika masuk sekolah dan bertemu guru-gurunya. Namun seiring meningkatnya level kelas dan pelajaran serta makin bertambahnya usia, belajar semakin menjadi momok yang tidak mengenakkan. Ini semua terjadi karena sistem belajar dan mengajar yang diterapkan selama ini, sistem yang akhirnya mematahkan motivasi siswa.

Ibaratkan sebuah produk, sekolah adalah sebuah pabrik yang akan memproduksi barang-barang yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi yang nantinya produk ini bisa bermanfaat dan bisa digunakan oleh orang banyak. Dan mesin canggih pencetak produk-produk itu berama GURU, mesin inilah yang nantinya akan mencetak generasi-genarasi yang luar biasa, yang mampu memperbaiki kondisi negeri ini, yang mampu mensejahterakan bangsa ini. Jika mesin ini tidak mampu berkerja dengan baik, maka produk yang dihasilkanpun akan buruk dan tidak berkualitas. Dan banyangkan jika setiap sekolah di negeri ini menghasilkan produk-produk yang buruk bahkan tidak berkualitas sama sekali, mau jadi apa negeri ini?

Konon kita butuh sekitar 3 juta guru untuk seluruh negeri ini. Nasib negeri ini ada ditangan mereka. Jika 3 juta guru itu bagus, maka tersenyumlah negeri ini. Namun sebaliknya, jika mereka tidak serius mengajar, maka mala petaka bagi negeri ini. Kini amat teramat sulit bagi kita untuk menemukan sosok seorang guru seperti Annie Sulivan yang mengajari Helen Keller, Pak Kobayashi dalam Toto Chan, atau sosok mulia seperti Bu Muslimah dalam Laskar Pelangi. Guru yang mendengar dengan hati, memahami siswa dengan hati, dan mengajari mereka dengan sepenuh hati.

Namun, fenomena yang terjadi saat ini adalah para guru tidak lagi merasa nyaman didalam kelas. Cita-cita dan misi ideal saat kuliah di kependidikan atau saat penataran tiba-tiba hilang. Predikat ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ terbang entah kemana. Tak banyak lagi guru yang mengajar karena cinta dan sayang pada para muridnya. Saat ini, belajar sudah menjadi ancaman bagi para murid dan mengajar menjadi beban bagi para guru.

Siswa tidak akan memahami pelajaran sampai mereka paham untuk apa mereka mempelajarinya. Dan mereka tidak akan pernah tahu untuk apa suatu pelajaran, sampai ada seorang guru yang memahamkan mereka akan itu. Tapi, apa kenyataannya? Guru matematika lebih sering memaksa siswa untuk mengerti aljabar, aritmatika, dan kalkulus tanpa meraka tahu untuk apa mereka mempelajari itu. Maka jangan heran jutaan pelajar tak mengerti matematika dan ribuan yang tidak lulus ujian akhir walaupun 12 tahun mereka mempelajarinya. Karena kebanyakan mereka tidak tahu dan tidak merasa perlu mempelajari matematika yang ‘rumit’ menurut mereka. Padahal metematika adalah bak kunci yang membuka pintu-pintu dunia ilmu yang lain.

Enam tahun mempelajari bahasa inggris tidak menjamin siswa mengerti bahasa inggris. Karena mereka hanya diajarkan untuk menghafal rumus tenses dan dipaksa menguasai kosakata yang mereka tidak ketahui untuk apa dan kemana akan dipakai. Untuk apa belajar bahasa ini jika seumur hidup harus tinggal dikampung, misalnya?

Bertahun-tahun mempelajari sejarah pun tidak jua membuat mereka memahami sejarah bangsanya. Malahan kebencian akan sejarah yang mereka dapatkan. Mengapa? Karena sepanjang bersekolah, mereka hanya disuruh menghafal ratusan tanggal, tokoh dan peristiwa tanpa tahu apa-apa.

Maka ceritakanlah pada siswa dan bangkitkan motivasi mereka untuk apa mempelajari suatu ilmu. Akhirilah sudah kelas menjadi parade pameran ilmu sang guru semata, tapi ubahlah kelas menjadi lautan motivasi dan generator semangat yang tak pernah padam. Maka bukan sebuah keajiaban jika setelah itu sang murid tak akan berhenti menuntut ilmu yang harus mereka gapai. Bukankah kelebihan sang guru dari murid hanya karena sang guru belajar terlebih dahulu? Maka fungsi guru tak lain hanya memberi tahu jalan yang harus dilalui murid-muridnya, mengapa harus menempuh jalan itu dan apa yang akan diraih jika sukses meniti jalan itu. Itulah guru yang mengajarkan dengan hati.

Guru adalah mesin pencetak yang harus selalu kita asa dan kita latih agar bisa berkerja dengan baik dan nantinya akan mengahasilkan produk yang baik. Seorang guru hasus mengetahui bagaimana cara mengajar dan mendidik dengan baik, cara mentransfer ilmu dengan baik, dan cara melayani ilmu dengan baik. Seorang guru harus memiliki kompetensi yang baik dalam mengajar, karena guru adalah sarana atau jalan bagi seorang murid dalam meraih pengetahuan-pengetahuan yang kelak akan mereka gunakan untuk kehidupan mereka kedepannya.

Wahai guru, genarasi masa depan bangsa ini sedang duduk dihadapan Anda. Mereka ibarat sebuah gelas yang siap diisi dengan air oleh sang guru. Dan guru ibaratakan sebuah ceret air, jika cara menuangkan air kedala gelas itu salah atau kurang tepat, maka air itu tidak akan masuk kedalam gelas-gelas tersebut. Atau ceret tersebut hanya memiliki sedikit air bahkan tidak ada air sedikitpun, apa yang akan ceret tuangkan kedalam gelas-gelas itu. Semuanya tergantung dengan sang guru. Wahai guru, apakah kita akan membangun atau menghangcurkan negeri ini dengan didikan kita kepada generasi penerus bangsa ini?

Menjadi seorang guru memang mudah. Namun, menjadi seorang guru yang profesional dan dirindu tidak semudah yang dibayangkan. Sungguh, orang yang mendidik anak-anak dengan kesungguhan paling berhak mendapatkan penghargaan dan penghormatan. Dia adalah sang guru. Dialah penyebab kemenangan atau kekalahan negeri ini dalam suatu pertempuran.

 

 

Referensi:

Buku Keajaiban Belajar dan Menjadi Guru yang di Rindu

ikhwan GANTENG

Bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan ADK, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.

 Image

 

(G) Gesit dalam da’wah

Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.

 

(A) Atensi pada jundi

Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.

 

(N) No reason, demi menolong

Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki oleh aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.

 

(T) Tanggap dengan masalah

Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.

Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….” “Lho… terus gimana? Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung. Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan. “Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.

 

(E) Empati

Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.

Contoh kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”

 

(N) Nahkoda yang handal

Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.

 

(G) Gentle

Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat para akhwat menyadari adanya asap, barulah mereka ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.

 

 

Penutup

Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da’wah. Ikhwan dan akhwat adalah partner da’wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda’wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)…” (QS. An-Nisa’:34).

Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Ukhuwah di dunia, dan di akhirat. Amiin.