MESIN PENCETAK GENERASI BANGSA ITU BERNAMA GURU

Sadarkah kita, tetatangga kita yang dulunya pendiam sekarang berubah menjadi nakal, yang dulunya pemalu sekarang berubah menjadi benalu, yang dulunya suka membantu sekarang suka mengganggu? Padahal mereka baru saja tamat dari sekolah mereka. Mengapa mereka tidak menjadi lebih baik? Kitapun tak sedikit melihat anak kecil yang dimasa kecilnya dengan lantang mengucapkan “Aku ingin menjadi dokter!”, “aku ingin menjadi presiden!”, “aku ingin menjadi Astronot!” dan lain sebagai sebagainya.

Ternyata ketika dewasa, mereka mengubah cita-cita mereka. Si calon presiden tadi bahkan menghapus cita-citanya. Boro-boro menjadi presiden, mau cari kerja saja susah katanya. Sang astronotpun tidak lagi mempertahankan cita-citanya. Bahkan berbicara tentang angkasa luarpun tidak pernah ia lakukan, sekarang ia hanya perpikir bagaimana sekripsinya cepat selesai.

Belasan tahun sekolah benar-benar telah merubah mereka. Tapi perubahan apa? Sekolah seharusnya merubah si calon presiden benar-benar menjadi calon presiden yang siap, yang mampu mengenal masalah bangsanya, yang percaya diri, yang mahir berbagai bahasa asing sebagai bekal seorang presiden, yang mampu berkomunikasi dengan baik, dan yang mampu memimpin. Begitu juga dengan calon dokter, astronot dan lain sebagainya, seharusnya sekolah mampu mempersiapkan mereka dan membantu mereka dalam mewujudkan cita-cita mulia mereka. Atau setidaknya sekolah mampu terus menjaga mimpi-mimpi mereka, membakar terus motivasinya, bukan sebaliknya.

Tapi, mengapa sekolah justru memadamkan bara dalam diri setiap anak? Bahkan melahirkan banyak pengangguran, banyak anak nakal, banyak pemuda pesimis, banyak orang pintar yang culas, yang seharusnya memintarkan orang lain tetapi malah membodohi orang lain? Bahkan pemimpin-pemimpin yang korup pun dilahirkan dari sekolah.

Bukankah si anak sebelumnya tidak mengenal kata mencotek? Namun, sekolahlah yang mengajarkannya, sekolah secara tidak sengaja telah mendidik mereka untuk itu. Sehingga lahirlah budaya mencontek berjamaah. Atau setidaknya, pada sekolah kebanyakan tidak ada keseriusan untuk menghapus kebiasaan ini.

Bukankah sebelumnya anak-anak tidak mengenal kata nilai atau skor? Sehingga ketika mereka dulu belajar berjalan, karena mereka betul-betul butuh berjalan. Mereka tak butuh skor berjalan untuk bisa berjalan, bukan? Bukankah merekapun dulu ikhlas dan semangat belajar bersepeda. Karena mereka sadar itu keharusan untuk meraih kesuksesan hidup. Sehingga mereka sangat bersemangat  mempelajarinya. Mereka tak peduli jatuh bangun, tertimpa sepeda, bangun lagi, menabrak pohon, bahkan masuk parit sekalipun. Sebelum sekolah mereka telah diajarkan makna kerja keras, sungguh-sungguh dan arti sebuah mimpi, bukan arti mengejar nilai.

Tapi setelah sang ibu memasukkan mereka ke sekolah. Apa yang terjadi? Perlahan-lahan semangat belajar mandiri mereka padam seiring berjalannya waktu. Kesungguh-sungguhan mereka lenyap karena mereka dipaksa mengejar target kurikulum dan angka. Keceriaan dan kesukarelaan mereka dalam belajar tak membekas karena sekarang sang guru siap menuliskan angka merah, remedial, atau ancaman tidak naik kelas.

Para siswa sekarang duduk manis dikelas dengan penuh kepura-puraan. Mereka bergembira saat loceng berbunyi, seolah-olah terbebas dari belenggu yang berat. Lihat juga ketika perpisahan sekolah terjadi. Itulah saat-saat yang paling membahagiakan mereka. Mereka seakan-akan berkata selamat tinggal ‘penjara’, kami berjanji tidak akan kembali lagi. Bukankah tanda cinta itu tak ingin berpisah? Mengapa mereka malahan sangat gembira ketika perpisahan itu terjadi.

Bukankah seharusnya yang terjadi adalah anak-anak sangat antusias ketika bersekolah, murid bahagia didalam kelas dan ketika ditugasi oleh sang guru. Seharusnya siswa lebih suka membaca daripada jajan, atau seharusnya mereka sedih ketika perpisahan sekolah atau wisuda. Bukannya malah bergembira. Kenapa itu terjadi?

Saat masih kecil, mereka begitu riang gembira ketika masuk sekolah dan bertemu guru-gurunya. Namun seiring meningkatnya level kelas dan pelajaran serta makin bertambahnya usia, belajar semakin menjadi momok yang tidak mengenakkan. Ini semua terjadi karena sistem belajar dan mengajar yang diterapkan selama ini, sistem yang akhirnya mematahkan motivasi siswa.

Ibaratkan sebuah produk, sekolah adalah sebuah pabrik yang akan memproduksi barang-barang yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi yang nantinya produk ini bisa bermanfaat dan bisa digunakan oleh orang banyak. Dan mesin canggih pencetak produk-produk itu berama GURU, mesin inilah yang nantinya akan mencetak generasi-genarasi yang luar biasa, yang mampu memperbaiki kondisi negeri ini, yang mampu mensejahterakan bangsa ini. Jika mesin ini tidak mampu berkerja dengan baik, maka produk yang dihasilkanpun akan buruk dan tidak berkualitas. Dan banyangkan jika setiap sekolah di negeri ini menghasilkan produk-produk yang buruk bahkan tidak berkualitas sama sekali, mau jadi apa negeri ini?

Konon kita butuh sekitar 3 juta guru untuk seluruh negeri ini. Nasib negeri ini ada ditangan mereka. Jika 3 juta guru itu bagus, maka tersenyumlah negeri ini. Namun sebaliknya, jika mereka tidak serius mengajar, maka mala petaka bagi negeri ini. Kini amat teramat sulit bagi kita untuk menemukan sosok seorang guru seperti Annie Sulivan yang mengajari Helen Keller, Pak Kobayashi dalam Toto Chan, atau sosok mulia seperti Bu Muslimah dalam Laskar Pelangi. Guru yang mendengar dengan hati, memahami siswa dengan hati, dan mengajari mereka dengan sepenuh hati.

Namun, fenomena yang terjadi saat ini adalah para guru tidak lagi merasa nyaman didalam kelas. Cita-cita dan misi ideal saat kuliah di kependidikan atau saat penataran tiba-tiba hilang. Predikat ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ terbang entah kemana. Tak banyak lagi guru yang mengajar karena cinta dan sayang pada para muridnya. Saat ini, belajar sudah menjadi ancaman bagi para murid dan mengajar menjadi beban bagi para guru.

Siswa tidak akan memahami pelajaran sampai mereka paham untuk apa mereka mempelajarinya. Dan mereka tidak akan pernah tahu untuk apa suatu pelajaran, sampai ada seorang guru yang memahamkan mereka akan itu. Tapi, apa kenyataannya? Guru matematika lebih sering memaksa siswa untuk mengerti aljabar, aritmatika, dan kalkulus tanpa meraka tahu untuk apa mereka mempelajari itu. Maka jangan heran jutaan pelajar tak mengerti matematika dan ribuan yang tidak lulus ujian akhir walaupun 12 tahun mereka mempelajarinya. Karena kebanyakan mereka tidak tahu dan tidak merasa perlu mempelajari matematika yang ‘rumit’ menurut mereka. Padahal metematika adalah bak kunci yang membuka pintu-pintu dunia ilmu yang lain.

Enam tahun mempelajari bahasa inggris tidak menjamin siswa mengerti bahasa inggris. Karena mereka hanya diajarkan untuk menghafal rumus tenses dan dipaksa menguasai kosakata yang mereka tidak ketahui untuk apa dan kemana akan dipakai. Untuk apa belajar bahasa ini jika seumur hidup harus tinggal dikampung, misalnya?

Bertahun-tahun mempelajari sejarah pun tidak jua membuat mereka memahami sejarah bangsanya. Malahan kebencian akan sejarah yang mereka dapatkan. Mengapa? Karena sepanjang bersekolah, mereka hanya disuruh menghafal ratusan tanggal, tokoh dan peristiwa tanpa tahu apa-apa.

Maka ceritakanlah pada siswa dan bangkitkan motivasi mereka untuk apa mempelajari suatu ilmu. Akhirilah sudah kelas menjadi parade pameran ilmu sang guru semata, tapi ubahlah kelas menjadi lautan motivasi dan generator semangat yang tak pernah padam. Maka bukan sebuah keajiaban jika setelah itu sang murid tak akan berhenti menuntut ilmu yang harus mereka gapai. Bukankah kelebihan sang guru dari murid hanya karena sang guru belajar terlebih dahulu? Maka fungsi guru tak lain hanya memberi tahu jalan yang harus dilalui murid-muridnya, mengapa harus menempuh jalan itu dan apa yang akan diraih jika sukses meniti jalan itu. Itulah guru yang mengajarkan dengan hati.

Guru adalah mesin pencetak yang harus selalu kita asa dan kita latih agar bisa berkerja dengan baik dan nantinya akan mengahasilkan produk yang baik. Seorang guru hasus mengetahui bagaimana cara mengajar dan mendidik dengan baik, cara mentransfer ilmu dengan baik, dan cara melayani ilmu dengan baik. Seorang guru harus memiliki kompetensi yang baik dalam mengajar, karena guru adalah sarana atau jalan bagi seorang murid dalam meraih pengetahuan-pengetahuan yang kelak akan mereka gunakan untuk kehidupan mereka kedepannya.

Wahai guru, genarasi masa depan bangsa ini sedang duduk dihadapan Anda. Mereka ibarat sebuah gelas yang siap diisi dengan air oleh sang guru. Dan guru ibaratakan sebuah ceret air, jika cara menuangkan air kedala gelas itu salah atau kurang tepat, maka air itu tidak akan masuk kedalam gelas-gelas tersebut. Atau ceret tersebut hanya memiliki sedikit air bahkan tidak ada air sedikitpun, apa yang akan ceret tuangkan kedalam gelas-gelas itu. Semuanya tergantung dengan sang guru. Wahai guru, apakah kita akan membangun atau menghangcurkan negeri ini dengan didikan kita kepada generasi penerus bangsa ini?

Menjadi seorang guru memang mudah. Namun, menjadi seorang guru yang profesional dan dirindu tidak semudah yang dibayangkan. Sungguh, orang yang mendidik anak-anak dengan kesungguhan paling berhak mendapatkan penghargaan dan penghormatan. Dia adalah sang guru. Dialah penyebab kemenangan atau kekalahan negeri ini dalam suatu pertempuran.

 

 

Referensi:

Buku Keajaiban Belajar dan Menjadi Guru yang di Rindu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s